"Ngapain sih harus ngajakin gue," sungutku ketika berada di depan Revel yang sedang bersandar di pintu masuk GOR. Beberapa anak muda lalu-lalang di sana.
"Lo nggak mau nonton pacar lo main?" tanya Revel yang membuat alisku berkerut. Pacar? Siapa?
"Siapa yang main?" tanyaku bingung.
"Emang pacar lo siapa aja sih? Jangan-jangan selain Bang Damar, lo diem-diem punya pacar lain ya?"
"Ntar, ini kenapa lo udah ada di sini sih? Bukannya harusnya lo di sekolah? Damar juga harusnya di sekolah kan?" Alisku berkerut setelah melirik pergelangan tangan. Ini harusnya masih jam sekolah kan?
"Gue dapat dispensasi buat liat turnamen basket."
"Jangan bohong lo!" tuduhku.
"Tanya aja sama Revan. Dia masih di sekolah tuh. Makanya gue ngajakin lo ke sini. Gue nggak bawa mobil soalnya. Yaelah, malah ngobrol aja, ayo masuk. Udah main tuh!" Revel menarik pergelangan tanganku.
Di dalam gedung olahraga itu sudah ramai teriakan-teriakan suporter. Nama Damar paling sering diteriakkan oleh ABG-ABG yang kayak kesetanan melihat performa bocah itu di lapangan.
"Damar banyak penggemar ya?" tanyaku sedikit berteriak, mendekat ke arah Revel.
"Lo nggak tau? Jadi selama ini ngapain aja? Nggak pernah diajakin Bang Damar nonton pertandingan dia?" Aku menggeleng.
"Palingan juga dia nggak mau lo ngekorin dia. Lo mau tau kenapa dia banyak penggemar? Soalnya dia terkenal jomlo. Jadi tuh cewek-cewek pada ngerumunin dia," ucap Revel sambil lalu. Ia lebih fokus menatap pertandingan sesekali ikut bersorak saat tim Damar mencetak angka.
Aku memang tidak begitu tertarik dengan pertandingan basket. Biasanya kalau ikut menemani Revel main basket, fokusku bukan pada pertandingan, tapi pada wajah pemainnya. Sepertinya motivasi cewek-cewek yang nonton pertandingan basket kebanyakan sama sepertiku. Mana mereka tahu aturan-aturan pertandingan. Yang penting idola mereka mencetak angka teriak-teriak aja lah. Sama persis dengan cewek-cewek penggemar Damar yang ada di ruangan ini. Kayaknya dulu sengefans-ngefansnya aku sama para pemain basket, nggak kayak gitu juga sih. Apaan ABG jaman sekarang terang-terangan neriakin nama cowok idolanya.
"Ya ampun, ganteng banget sih, Damar. Udah ganteng jomlo lagi. Duh, pasti seneng banget deh jadi pacarnya cowok cakep macam gitu." Aku hampir tersedak mendengar ucapan cewek di depanku.
"Masa sih dia jomlo? Nggak mungkin kalo cowok secakep itu belum punya pacar," tukas cewek di sebelahnya.
"Punya pacar ya nggak papa sih, gue mau kok jadi selingkuhannya," tambahnya lagi disambut kekehan teman-temannya. Aku sampai terbatuk-batuk mendengar celotehan bocah-bocah ababil ini.
Revel menatapku dengan senyum mengejek. "Makanya, punya pacar kayak Bang Damar itu jangan sok jual mahal. Tuh, udah banyak yang antri mau nikung lo."
"Emang apa sih istimewanya bocah itu?" decakku pelan. Mataku mengawasi setiap tingkah Damar. Sepertinya dia biasa aja sih, cuma bocah itu terlihat sedikit bersinar ketika berhasil memasukkan bola ke ring, atau saat dia bisa mengambil bola dari lawan, atau saat dia tertawa lepas dibawah sorakan ababil alay.
Bola mataku hampir keluar saat pertandingan berakhir dan tim Damar dinyatakan menang, para ababil yang dari tadi menyumbang sorak sorai, pada tumpah ke lapangan. Apa lagi kalau bukan minta selfie sama bocah itu. Damar bak artis dikerubungi remaja-remaja alay yang pengen foto bareng. Aku bergidik, dulu waktu masih SMA, ngefans nggak gitu-gitu banget deh.
"Perasaan jaman gue SMA nggak gitu-gitu banget deh." Aku mendekat ke arah Revel, menaikkan volume suara.
"Memangnya lo SMA berapa tahun yang lalu?" sinis Revel. "Gue tuh pengen kayak Bang Damar tuh. Banyak fansnya," tambahnya. Aku mencebik Revel. Dasar ababil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong's Attack
ChickLitPunya pacar berondong? ... Hmm, pasti ngegemesin! Tapi kalo kamu pacaran sama anak SMA disaat umurmu udah 27, ini namanya bencana!!
