33

956 94 9
                                        

Aku membuka mata, cahaya lampu kota menembus celah gorden dan menyentuh kelopak mataku yang berat. Suasana kamarku redup, lampu kamar tidak menyala. Sensasi pertama yang kurasakan adalah beban hangat di pinggangku. Tangan Damar masih di sana, mengunci tubuhku dalam dekapan yang protektif bahkan dalam tidurnya.

Aku bergerak sedikit, dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat jantungku nyaris copot. Di ambang pintu kamar yang terbuka, Bang Ragatra berdiri menyandarkan bahu. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam menatap lurus ke arahku yang bergelung di balik selimut dan Damar yang tertidur pulas di sampingku tanpa mengenakan atasan. Mampus! Bang Ragatra pasti berpikir macam-macam. Bodoh, pastilah ia berpikir yang tidak-tidak saat melihat dua orang tidur di ranjang yang sama dengan posisi yang intim. Aissh, Arella bego! Dengan kasar aku menyingkirkan lengan Damar yang berada di pinggangku, ia melenguh pelan.

"Sayang, kamu—" Damar tidak melanjutkan ucapannya saat matanya menatapku yang sedang menatap ke arah pintu. Bocah itu mengikuti arah pandangku, kemudian terkejut. Damar tersentak bangun, matanya yang masih mengantuk seketika melebar saat melihat sosok Bang Ragatra. Ia refleks mencari kaosnya di lantai dengan gerakan kikuk.

"Rell," suara Bang Ragatra berat, penuh penekanan yang membuatku langsung terduduk tegak.

"Kalian kelihatan capek sampai tidur pulas banget," sindirnya.

"Bang, ini—"

"Abang tunggu di sofa, kita harus bicara. Lo juga, bocah." Bang Ragatra berbalik, meninggalkan aku dan Damar yang kemudian saling berpandangan. Bego, bego, bego! Kenapa harus kepergok Bang Ragatra dengan situasi kayak gini sih?

"Rell...."

"Lo berengsek!" Aku mendorong Damar, namun tanganku dicekal olehnya.

"Aku berengsek? Rell, kita melakukannya berdua lho," Damar membawa tanganku ke lehernya, "ini kamu yang buat, bukan aku," tambahnya. Mataku membola saat melihat beberapa tanda merah dan bekas gigitan di sana. Aku yakin saat ini wajahku memerah. Sialan bocah ini malah menggodaku di saat seperti ini.

"Lepasin!" Aku menarik tanganku dari genggamannya, turun dari ranjang. Setengah berlari aku keluar dari kamar, Damar hanya mengikutiku dengan santai.

Lepas dari godaan Damar, tatapan tajam Bang Ragatra sudah menantiku. Ia duduk di sofa single, menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. Marah? Kecewa? Entahlah. Saat ini aku benar-benar malu berhadapan dengannya. Aku tahu Bang Ragatra bukan orang yang mudah dibodohi. Apapun yang akan kukatakan tentu saja ia lebih percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Duduk," ujarnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang jelas baru saja menyimpulkan banyak hal tanpa perlu penjelasan.

Kami duduk berhadapan, sementara Damar duduk tegak dengan punggung kaku di sebelahku. Yang sangat menyebalkan, Damar sama sekali tidak menunjukkan raut wajah penyesalan, malu atau apapun.

"Abang nggak akan tanya apa yang kalian habis lakukan, Abang nggak mau mendengar detil apapun," ujar Bang Ragatra mengawali pembicaraan yang benar-benar membuatku tidak bisa menutupi perasaan malu. "Abang cuma nggak nyangka kalian melakukan di tempat Abang." Bang Ragatra menghela napas berat.

"Pulang, Rell. Sepertinya memang sudah saatnya lo pulang, hadapi semua dengan dewasa, bukan kayak anak kecil yang suka kabur-kaburan. Toh, kalian juga sudah melakukan adegan dewasa di tempat Abang."

"Bang, ini nggak—"

Bang Ragatra mengangkat tangannya, tidak mau mendengar alasanku. Mau berasalan apapun, melihat kondisi leher kami yang memalukan, nggak ada orang yang akan berpikiran positif tentang ini.

"Lo nggak bisa terus-terusan lari. Nggak akan menyelesaikan masalah. Yang ada semua jadi tambah runyam."

"Gue tahu, Bang. Tapi gue nggak siap konfrontasi dengan papa." Aku merasakan Damar menggenggam tanganku, dengan cepat kutepiskan tangannya, lalu kuberikan tatapan tajam ke arahnya. Bocah itu hanya menatapku diam.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 13 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Berondong's AttackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang