30

1.9K 108 12
                                        

Halo, aku datang lagi.

makasih ya udah menunggu lama. Aku berusaha mulai menulis lagi. tapi, seperti author-author pada umumnya -- atau ternyata hanya aku saja, memulai sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan itu ternyata sulit juga. Ide untuk kisah Damar Arella ini sebenarnya sudah tamat di kepala, tapi untuk menuangkan ke deretan kata-kata yang membentuk cerita beneran susah. selalu saja blank ketika di depan laptop. akhirnya aku mencoba membuat cerita baru, cerita pendek, entah bisa disebut novel apa tidak, hanya untuk menumbuhkan motivasi dan semangat menulis lagi. 

sambil nunggu update an berondong's attack, mampir di cerita baruku ya. judulnya Antara. cerita ringan yang punya alur cepat banget, hanya kukerjakan dalam beberapa hari saja, biar punya keinginan untuk menulis lagi. cerita yang kupaksa agar selesai dan aku bisa kembali melanjutkan project yang tertunda. Antara akan update setiap hari.

jangan lupakan juga cerita Love's Destiny. side story dari kisah ragatra. tolong baca dan kasih komenan ya. terus terang gaya bahasanya beda sih sama cerita Damar ini, tapi semoga kalian suka. 

janji deh, kalo kalian ramein dua lapak sebelah ini, akku bakal rutin update Damar Arella wkwkwk. 

-Pie.

_____ 



Melarikan diri ke kota Solo adalah keputusan terbaik yang kuambil. Hidupku beneran tenang setelah hampir dua minggu berada di kota ini. Tidak ada kemacetan, tidak ada suara klakson di sepanjang jalan, tidak ada orang yang jalan terburu-buru, dan tentu saja aku bebas keluar, tidak was-was ada orang yang mengenali. Di sini, waktu seolah melambat. Tidak ada keharusan mengejar apapun. Hanya langkah kecilku menyusuri trotoar, menikmati angin pagi yang membawa bau roti dari toko sebelah, dan sapaan ramah orang-orang yang tak pernah bertanya aku siapa atau dari mana. Benar-benar slow living terbaik untuk pelarian sepertiku.

Bang Ragatra tinggal di apartemen di tengah kota. Apartemen mahal yang langsung terhubung dengan hotel dan mall terbesar di kota Solo. Ia memang jarang berada di apartemen. Kadang pagi-pagi buta sudah pergi, dan kembali saat aku sudah berada di dalam kamar. Bang Ragatra hanya sesekali mengecek keadaanku lewat telepon atau chat setelah kuberi nomor sementara yang kupakai, atau sesekali juga ia mengajakku keliling kota dan mampir di coffeeshop langganannya. Beberapa kali aku juga ikut membantu di perusahaan karena Viky masih cuti untuk berbulan madu sehabis pernikahannya sebulan lalu. Dua minggu ini tidak ada tanda-tanda orang yang mencariku, berarti Bang Ragatra memang menepati janjinya untuk tidak memberitahukan pada keluarga tentang keberadaanku. Benar-benar abang yang bisa kuandalkan, tidak seperti saudara kandungnya, Bang Ray yang malah suka jahil dan memanfaatkan keadaan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa sedang dikejar. Aku sedang berhenti. Menarik napas. Mencoba hidup kembali—secara perlahan, seperti daun yang jatuh dan menemukan tanah sebagai tempat beristirahat sebelum tumbuh lagi. Aku bahkan sering lupa tujuanku melarikan diri seperti ini. Aku tidak ingat kalau aku sedang dalam masa pelarian. Merasa bebas bergerak tanpa takut tertangkap oleh Papa, atau duo kembar yang sekarang entah bagaimana keadaan mereka. Kalau dihitung, sebulan lebih aku menghilang. Apa kabar mereka? Apakah mereka masih mencari-cari keberadaanku? Atau mereka menyesal sudah menuntutku untuk menerima perjodohan tak masuk akal yang mereka rencanakan itu? Amarahku reda, seakan lupa tentang penghianatan dan perjodohan yang beberapa minggu lalu membuatku merencanakan hal yang kekanak-kanakan ini. 

Ya, aku menyadari keputusanku ini memang kekanak-kanakan, kadang aku ragu—apa aku pengecut? Tapi kemudian aku sadar, melarikan diri bukan selalu soal takut menghadapi dunia. Kadang melarikan diri adalah tentang menyelamatkan diri agar tidak hancur. Agar tidak mati perlahan di hidup yang bukan milikku. Dan kalau ini salah, maka biarlah aku salah di tempat yang akhirnya membuatku tenang.

Berondong's AttackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang