31

2.4K 130 6
                                        

Damar masih menggenggam tanganku, tapi genggamannya mulai melembut—tidak lagi memaksa, tidak lagi menahan. Seolah ia takut kalau aku melepaskan diri, aku akan menghilang lagi seperti kabut pagi. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungku yang berisik.

"Rell..." suaranya patah. "Aku mohon. Duduk sebentar sama aku."

Aku ingin menolak. Sungguh. Tapi tubuhku terlalu lelah untuk berdebat lagi. Dan tatapannya... tatapan itu seperti seseorang yang sudah jatuh terlalu jauh dan tidak tahu bagaimana naik lagi.

Aku akhirnya menghela napas menyerah.

"Lima menit, setelah itu lo harus pergi," gumamku.

Seketika wajah Damar sedikit melunak, lega, meski garis gelisah tetap menggantung di sana. Ia perlahan menarikku menuju sofa, membimbingku duduk dengan hati-hati, seperti takut aku berubah pikiran dalam hitungan detik.

Begitu aku duduk, dia langsung bergerak turun ke karpet, duduk bersila di depanku. Tangannya—tanpa meminta izin—bertumpu di pahaku, menggenggamnya seakan itu jangkar terakhirnya di dunia.

Aku menunduk. Menatapnya.

Damar mendongak, menatap balik dengan mata yang basah. Sial... bocah ini benar-benar terlihat hancur. Dia tahu aku paling tidak tahan dengan tatapan matanya yang seperti ini.

"Gue nggak mau denger penjelasan lo," kataku dingin.

"Aku tahu. Please, Rell. Jangan gue lo sama aku. Aku nggak mau memulai dari awal lagi." Lagi-lagi tatapan mata itu. Menyebalkan. Aku memalingkan wajah, aku nggak akan luluh hanya karena tatapan bocah ini.

Damar menarik napas panjang—gemetar. "Aku tahu kamu di sini karena Revan," jujurnya.

"Apa?" Dadaku langsung seperti ditusuk sesuatu. Dari mana Revan tahu aku di sini?

"Dia bilang kamu ke Solo. Dan... dia juga yang bilang kamu nggak niat pulang." Damar mengusap wajahnya sebentar, lalu kembali menatapku. "Bang Ragatra yang bilang," tambahnya.

Aku memejamkan mata. Bang Ragatra. Sial. Jadi dia bohong saat bilang nggak bilang apa-apa ke Papa?

"Dua bulan, Rell. Udah dua bulan kamu menghilang." Ia menarik napas berat. "Kalau aku nggak jemput kamu sekarang, kamu bakal hilang beneran. Revan selama ini nggak ijinin aku buat ketemu kamu dulu. Kamu butuh waktu. Tapi dua bulan terlalu lama, Rell. Aku beneran bisa gila."

Aku menatapnya, tajam. "Terus lo bangga gitu? Berhasil nemuin gue? Mau apa? Seret gue pulang?"

Damar langsung menggeleng, cepat.

"Rell... dengerin aku." Tangannya menekan pahaku sedikit, memohon.

"Aku datang bukan buat maksa kamu pulang."

"Terus?"

"Aku datang karena nggak mau kehilangan kamu."

"Telat. Lo udah kehilangan gue sejak terakhir kali kita ketemu."

"Nggak Rell. Jangan bilang kayak gitu. Aku salah, Rell. Aku harusnya milih kamu. Aku harusnya ikut ke manapun kamu pergi. Harusnya kita hadapi bersama kan?"

"Telat, Damar. Gue udah nggak mau mengulang semua itu." Aku mengalihkan pandangan, "gue nggak punya rencana buat pulang," ucapku lirih namun tegas. "Gue mau hidup di sini. Solo tenang. Gue akhirnya bisa bernapas."

Damar menatapku dalam, wajahnya seakan runtuh sedikit demi sedikit.

"Kamu mau pergi sejauh itu... dari aku?" suaranya nyaris berbisik. "Aku nggak mau kehilangan kamu," tambahnya.

Di saat itu, aku bisa melihat seluruh usahanya menjaga air mata agar tidak jatuh. Bocah ini—yang selalu terlihat percaya diri, menyebalkan, keras kepala—sekarang duduk di bawahku seperti seseorang yang sedang memohon hidupnya kembali.

"Rell..."

Ia meraih kedua tanganku kini, menempelkan ke pipinya. "Aku mohon. Kembali sama aku."

"Aku janji," lanjutnya. "Aku bakal hadapi semuanya sama kamu. Bahkan aku akan hadapi pukulan Revel kalau perlu. Aku bakal ada di sebelah kamu. Aku nggak akan bikin kamu pergi lagi."

Aku menelan ludah.

"Damar..."

"Aku nggak mau kehilangan kamu dua kali." Suaranya pecah lagi. "Kehilangan kamu sekali aja udah bikin aku nggak bisa tidur berminggu-minggu. Aku bangun tiap pagi berharap kamu masih ada."

Tangannya mencengkeram tanganku lebih erat.

"Tolong, Rell..." Mata itu memohon, "jangan pergi lagi."

Aku memalingkan wajah, menahan sesuatu yang bergolak di dada. Sejak kapan bocah ini bisa membuat punggungku meremang hanya dengan suara patahnya? Aku menarik napas panjang, bergetar. Dan baru kali itu... untuk pertama kalinya sejak aku kabur... aku merasa ingin menangis.

Sial. Kenapa harus dia?

Aku masih memalingkan wajah. Bukan karena benci—tapi karena aku takut. Takut kalau aku menatap matanya sedikit saja, seluruh benteng yang kubangun selama dua bulan ini langsung runtuh tanpa perlawanan.

Tanganku masih berada dalam genggamannya, saat tiba-tiba Damar bergeser. Perlahan. Mendekat. Dan sebelum aku sempat memproses apa yang ia lakukan, bocah itu merunduk ke arahku—lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggangku. Ia memelukku. Kepalanya bersandar tepat di atas pangkuanku, merapat erat ke perutku, seperti seseorang yang takut kehilangan benda paling berharga di dunia.

Aku langsung menegang.

"Da—Damar," bisikku tercekat. "Jangan kayak gini..."

Tapi ia justru mengeratkan pelukannya. Tubuhnya menempel pada kakiku, napasnya terasa panas menembus kain celana yang kupakai. Jari-jarinya mencengkeram pinggangku, keras—putus asa, bahkan sedikit gemetar.

"Aku mohon..." suaranya bergetar dari bawah sana, tenggelam di lipatan bajuku. "Jangan suruh aku pergi. Jangan jauhin aku lagi."

Aku menarik napas panjang—panjang sekali—berusaha keras menguasai diri.

"Damar, bangun," ucapku pelan, tapi nada suaraku tidak stabil. "Jangan kayak gini."

Bocah itu menggeleng, "enggak. Janji dulu kamu nggak bakal ninggalin aku."

Aku menutup mata, menahan getir dan panas yang mulai naik di tenggorokanku. Sial. Bocah ini benar-benar tahu persis bagaimana cara membuat bentengku retak. Aku mencoba mengendurkan pelukannya, tapi Damar justru menyusupkan wajahnya lebih dekat, memelukku lebih erat. Seolah ia ingin menyatu. Seolah jika ia longgarkan, aku akan menghilang jadi debu.

Aku menunduk perlahan—sangat perlahan—melihat wajahnya dari atas.

Damar memejamkan mata. Pipinya menempel di pahaku. Aku menyentuh rambutnya—refleks, sebelum sempat menahan diri. Matanya kemudian terbuka, menatapku.

"Kamu maafin aku kan, Rell?" lirihnya, matanya mengunci, menatapku lembut. Gerakan tanganku berhenti, terpaku pada mata Damar yang lagi-lagi membuatku tidak dapat merespon apapun.

"Aku janji..." katanya, suara itu hampir tidak terdengar.

"Aku janji bakal ngadepin semuanya sama kamu. Aku janji nggak bakal bikin kamu pergi lagi. Aku janji nggak bakal nyakitin kamu lagi."

Aku memejamkan mata, membiarkan tarikan napas panjang keluar dari dadaku. Aku tidak menjawab karena kalau aku menjawab sekarang, aku takut jawabannya bukan yang seharusnya.

Dan saat aku membuka mata lagi, aku baru menyadari sesuatu, lengan Damar yang semula di pinggangku, sudah berpindah di tengkukku, dan bibir lembutnya menyapu bibirku, mengecup sebentar.

"Aku kangen kamu, boleh kan?" lirihnya kemudian tanpa menunggu jawabanku, Damar kembali menciumku, kali ini lebih menuntut, seakan-akan ciuman ini menuntaskan kerinduannya selama ini. Kerinduanku juga.

Untuk pertama kalinya sejak dua bulan lalu aku menyadari, aku beneran jatuh cinta sama berondong sialan ini.

Berondong's AttackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang