Akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Ya, kabur. Aku nggak peduli dianggap kekanak-kanakan, egois, atau apalah. Aku hanya memikirkan kebahagiaanku, masa depanku. Aku melakukan hal yang benar kan? Hampir tiga minggu ini aku bersembunyi di tempat yang menurutku aman. Salah satu hotel milik keluargaku sendiri. Siapa yang akan mengira kalau aku bersembunyi di tempat ini? Bukannya pepatah mengatakan tempat paling aman adalah di markas musuhmu? Tentu saja aku tidak akan memakai identitasku untuk check in, aku meminta bantuan Maia untuk memesan kamar atas namanya kemudian extend hingga tiga minggu ini. Mematikan ponsel yang biasa aku pakai dan kembali ke ponsel kantor yang sempat kumatikan, membuatku merasa aman dan sedikit tenang dalam memikirkan rencana ke depan meski pada akhirnya dalam tiga minggu aku tidak menemukan jalan keluar dari masalah ini. Aku juga sudah mulai bosan tinggal di dalam kamar, hanya sesekali keluar dengan menggunakan masker untuk mengambil pesanan makanan dari delivery order.
Dering handphone mengalihkan lamunanku, Maia. Tumben banget Maia menelepon. Sambil berguling di Kasur, aku mengangkat penggilan Maia.
"Halo, tumben lo nelpon. Apa kabar Mai?" sapaku
"Sebelum gue kepo, gue mau minta maaf dulu deh, Rell." Suara Maia terdengar panik.
"Minta maaf? Whatsapp dear? Lo kenapa pake acara minta maaf segala?"
"Lo udah putus belom sih sama berondong lo itu?" pertanyaan Maia membuatku terduduk tegak.
"Tumben lo nanyain Damar?" tanyaku curiga, "memangnya kenapa?" lanjutku penasaran.
"Gue pikir, lo minta tolong booking kamar beberapa minggu lalu buat lo check in sama Damar, ternyata bukan ya?"
"Ya ampun, gue kira apa, Mai."
"Jawab dulu, Rell. Gue beneran panik ini. Lo nggak sama Damar waktu itu?"
"Enggak. Gue –"
"Astaga, gue beneran minta maaf deh. Semoga lo sama Damar gak berantem habis ini ya."
"Wait, ada apa sih?" Aku semakin penasaran dengan maksud Maia.
"Gue barusan ketemu sama berondong lo itu. Gue iseng aja godain dia tentang booking kamar waktu itu. Gue beneran berpikir kalau lo check in sama Damar, dia kelihatan bingung gitu. Dan dia minta detail hotel yang gue booked waktu gue ceritain pembicaraan kita waktu itu, yang lo bilang pengen check in sama laki lo. Kayaknya dia marah terus langsung pergi gitu. Dia belum nyamperin lo kan? Udah hubungin lo belum?"
Tiba-tiba jantungku berdetak cepat. Sial. Damar pasti tahu kalau aku berada di hotel ini.
"Oke, thanks buat infonya ya Mai," aku Bersiap menutup telepon.
"Gue beneran minta maaf ya Rell. Semoga hubungan lo sama Damar baik-baik aja. Gue beneran ngeri sama ekspresinya."
"It's okey. Santai aja. I can handle it. thanks ya buat infonya." Buru-buru aku menutup panggilan, kemudian bergegas memasukkan barang-barang ke dalam koper.
Damar pasti tahu kalau aku booking hotel lewat Maia bukan hanya untuk satu dua hari. Dia pastinya tahu aku kabur dari rumah. Aku yakin Damar bakal nyamperin hotel ini. Meskipun aku tahu manajemen hotel nggak akan membocorkan identitas tamu, aku yakin berondong satu itu nggak akan kurang akal buat menemukanku. Bisa saja bocah itu standby di depan hotel, dan nggak sengaja bertemu denganku ketika aku keluar mengambil delivery order atau ketika aku keluar. Aku nggak mau kemungkinan-kemungkinan itu terjadi. Aku segera menelepon resepsionis untuk check out dan kembali memasukkan barang-barang ke dalam koper.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong's Attack
ChickLitPunya pacar berondong? ... Hmm, pasti ngegemesin! Tapi kalo kamu pacaran sama anak SMA disaat umurmu udah 27, ini namanya bencana!!
