Setelah memasukkan surat pengunduran diri di bagian HRD, aku menyelesaikan pekerjaan yang sekiranya dapat kuselesaikan. Tidak enak juga meninggalkan perusahaan dengan banyak tanggungan pekerjaan yang masih lumayan. Aku tidak memberitahu siapapun tentang rencana resign ini, tak terkecuali Bang Ray, meski pada saatnya dia juga bakalan tahu sih. Kan dia yang ACC pengunduran diriku.
"Serius banget kerjanya, Rell." Deheman Bang Widi membuatku mendongak. Menatap sosok tampan yang sedang bersandar di sekat kubikel bak model.
"Eh, Bang Widi. Mumpung mood lagi bagus, Bang. Jadi ya sekalian aja diselesaikan. Nggak baik juga kan ditunda-tunda."
"Wah, kalau gini terus bisa-bisa kamu ngalahin saya nih, staf teladan kayak kamu kan promosinya cepet banget," ujarnya.
"Bang Widi bisa aja. Nggak mungkin saya bisa ngalahin Bang Widi. Kan saya belajar dari Abang."
Bang Widi terkekeh lalu menatap intens yang mmbuatku melongo. "Mau makan siang bareng?" tanyanya seraya melebarkan senyum. Aku berdehem sebentar setelah memutuskan kontak mata dengannya. Melirik pergelangan tangan, aku baru menyadari ini sudah lebih dari jam dua belas.
"Maia—"
"Belum balik kayaknya sejak keluar tadi. Gimana? Lunch? Berdua aja?" tawar Bang Widi dengan tatapan intens. Rasanya udah kayak diajak ngedate sama gebetan deh kayak gini.
"Sayang, aku udah nunggu dari tadi di luar, belum kelar juga? Kamu nggak lupa kan, janjian sama aku?" Sosok Damar terlihat nyata berbarengan dengan suaranya yang terdengar kesal. Aku mengerjap tidak percaya. Kenapa Damar bisa di sini?
"Kok ... lo, bisa ke sini sih?" tanyaku tanpa menyembunyikan kekagetan.
"Tadi gue ketemu dia di bawah. Terus gue ajakin deh sekalian." Maia yang baru saja meletakkan tas di kubikelnya yang menjawab. Aku melongo. Saat tersadar, aku malah menatap Bang Widi yang juga terlihat bingung.
"Sayang, aku nungguin lho." Suara Damar terdengar lagi. Aku berdecak merespon sikap Damar yang kekanakan. Pakai sayang sayang segala. Bocah itu memang hobi bikin rusak suasana deh. Apa yang kemarin bilang lagi nggak ingin bicara? Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sini tanpa rasa bersalah.
"Sudah sana, doi udah nungguin dari tadi loh. Kasihan ganteng-ganteng dianggurin." Maia terkekeh saat Damar mengedipkan satu mata ke arahnya. "Thanks Mai," ucap bocah itu. Ada rasa sebal yang luar biasa saat melihat bocah itu genit dengan Maia. Tanpa kata Damar berjalan melewati Bang Widi, lalu meraih ponsel dan dompet yang berada di dekat laptop. Ia memasukkan dua benda itu dalam tasku. "Tasnya biar kubawakan. Atau sekalian kugendong saja, kayaknya kamu keliatan mager banget, dari tadi nggak mau beranjak juga dari duduk." Mendengar ucapannya itu, spontan aku melompat dari kursi. Tidak lucu kalau bocah itu benar-benar melakukan apa yang diucapkannya, menggendongku di sini. Mau ditaruh mana mukaku ini?
"Bang, saya keluar dulu," pamitku pada Bang Widi yang sama sekali tidak diresponnya. Aku menoleh pada Maia dan hanya disuguhi dengan lambaian tangan. Aku beranjak keluar dari kubikel diikuti Damar yang menenteng tasku. Ia bahkan menekan tombol lift untukku. Menyadari aku mendengus kesal, ia cuma menyunggingkan senyum tipis. "Biar orang-orang di kantor kamu tuh tahu kalau kamu punya pacar yang perhatian kayak aku, jadi nggak ada yang berusaha mepetin kamu kayak gitu tadi."
"Mepetin apa deh," jawabku jengah.
Aku penasaran saat berada di resepsionis, Damar mengembalikan visitor card yang barusan ia ambil dari saku jeans, ditukar dengan kartu identitas. Meski bukan kantor besar, nggak semua orang bisa naik ke lantai atas. Hanya tamu yang punya kepentingan dengan perusahaan yang bisa mendapatkan visitor card. Biasanya tamu pribadi hanya boleh ditemui di bawah. Di depan resepsionis disediakan ruang tunggu yang cukup nyaman untuk ngobrol dengan teman. Tapi bocah ini bisa-bisanya mendapatkan visitor card dari resepsionis.
"Memangnya lo bilang apa kok bisa dapat visitor card?"
"Aku bilang kalau aku mewakili Aditama group, mau ketemu sama kamu." Apa? Bocah ini apa-apaan? "Terus dia percaya?" kejarku. "Kenapa harus nggak percaya?" tanya Damar balik sambil menatapku. "Kita makan di mana?" Ia sepertinya mengalihkan pembicaraan.
"Terserah lo."
"Kok terserah?"
"Bukannya lo yang ngajak keluar?" Aku memutar bola mata.
"Aku jarang makan di daerah sini," jawabnya sambil mengedikkan bahu. Aku mengembuskan napas sebal. "Lo bawa helm dua kan?"
Alis Damar berkerut. "Helm buat apa?"
"Kan lo ngajak keluar, gimana sih?" Tak urung aku mangkel sendiri.
"Aku ke sini naik ojek online," ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Apa?" Alisku berkerut mendengar ucapan bocah itu. Kurang kerjaan banget sih ini bocah. "Pakai mobil gue aja," dengusku, kembali memasuki lift menuju basement.
Tunggu, ini masih jam sekolah kan? Kok bocah ini bisa dengan santai ke kantorku, udah pakai jeans sama kemeja denim. Nggak habis pikir juga sama Mbak Ayu, resepsionis depan. Bocah model seperti ini kok bisa-bisanya dipercaya sebagai perwakilan Aditama.
"Wait, lo bolos ya? Ini masih jam sekolah dan lo bisa-bisanya di sini nggak pakai seragam," tuduhku.
"Jadi, nggak papa kalau aku ke sini masih pakai seragam sekolah?" Bocah menyebalkan ini malah menantangku.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Siapa yang suruh lo bolos?"
"Nggak ada. Abis kamu blokir nomorku. Memang aku salah apa sampai kamu blokir nomor pacar sendiri? Pacar macam apa yang ngambekan main blokir nomor."
Aku menatapnya jengah. "Gue pacar yang baik kan, lo bilang lagi nggak pengen bicara sama gue. Gue kabulkan. Sekalian nggak usah ngomongan sama gue selamanya."
Damar tertawa. Iya, dia tertawa mendengar ucapanku barusan. Tertawa yang membuatku merinding. "oh, jadi pacar yang baik tuh kayak gitu, blokir nomor, blokir Instagram, terus flirting sama teman kantor?" Nada Damar meninggi. Aku menatapnya kaget. Flirting?
"Iya, gue emang blokir nomor lo. Gue nonaktifin akun IG memang. Tapi, flirting? Gue flirting sama siapa?"
"Aku udah lihat di depan mata ya, Rell. Jadi dia, Bos yang suka mepetin kamu? Sama dia, bisa tuh kamu nggak pake gue lo, kenapa sama pacar sendiri nggak bisa kayak gitu?"
"Astaga, dia kan atasan gue di kantor, masa mau gue lo sama atasan sih?"
"Jadi, kalo sama pacar sendiri bisa kan, aku kamu gitu, nggak gue lo lagi?"
"Ini kenapa deh. Harusnya tuh gue yang marah sama lo, seenaknya bilang nggak mau bicara, trus sekarang santai banget datang-datang kayak nggak punya salah, malah main marah2 gitu."
Damar mendengus kesal saat pintu lift terbuka. Seenaknya aja dia membuka tasku dan mengambil kunci mobil. Menekan alarm, memastikan lokasi parkir mobilku.
"Siniin tas gue!" Aku hampir merebut tas yang di tangan Damar. Sayangnya bocah itu lebih cepat mengambil ponselku, lalu menyodorkannya di depanku.
"Ini kamu buka sendiri blokirannya atau aku yang buka?"
Sembari mendengus kesal, ku menyambar ponsel, melakukan tepat apa yang diminta bocah itu. Sial, sekalinya jatuh cinta, kenapa harus jatuh cinta sama berondong model kayak gini sih, Rell? Keluhku dalam hati.
---
Hai, selagi nunggu update an babang Damar, boleh dong mampir-mampir ke lapak sebelah yang judulnya Love's Destiny. Cerita tentang Aradea sama Ragatra. masih ada hubungannya sama cerita ini dan Trapped by Love nya babang Raka loh. kira-kira ada yang tahu apa hubungannya? check it out yakk..
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong's Attack
Literatura FemininaPunya pacar berondong? ... Hmm, pasti ngegemesin! Tapi kalo kamu pacaran sama anak SMA disaat umurmu udah 27, ini namanya bencana!!
