18

13.6K 1.1K 44
                                        

"Rell, tunggu."

Aku mempercepat langkah, mengabaikan suara Bang Widi yang makin lama makin mendekat. Aku tidak ingin berbicara dengannya, belum. Moodku sedang tidak baik ditambah ceramah Bang Ray di ruangannya membuatku tidak ingin berbicara dengan siapapun, Bang Widi apalagi. Aku masih tidak bisa mengontrol perasaanku. Orang yang selama ini kuanggap lelaki baik, ternyata bisa mempunyai pemikiran yang buruk tentangku.

"Arella, please. Beri saya waktu untuk menjelaskan." Bang Widi meraih siku, menahan langkahku. Spontan aku menepiskannya, melanjutkan langkah.

"Maaf Bang. Saya sedang terburu-buru."

"Sebentar saja. Saya mohon," ujarnya pelan saat aku menekan tombol lift. Ada dua orang yang sedang menunggu lift bersamaku, jadi aku tidak akan mendengar apa-apa lagi dari Bang Widi. Aku masih tidak bisa menerima perlakuannya padaku. Aku melangkah memasuki lift ketika pintu terbuka. Bang Widi mengikutiku, lalu meminta dua orang yang akan memasuki lift menunggu lift berikutnya. Aku hendak melancarkan protes tapi ia sudah menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol ke basement.

"Dengar, saya benar-benar minta maaf. Nggak seharusnya saya mengatakan hal yang nggak patut seperti itu."

Aku menoleh, menatapnya tajam. Bang Widi mengalihkan pandangan. Sungkan. "Kalo Bang Widi merasa itu tidak patut diucapkan seorang atasan pada bawahannya, kenapa masih mengucapkannya?"

"Saya ... saya terlalu emosi—"

"Abang lagi emosi dan meluapkannya pada saya yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kemarahan Abang. Bagus sekali."

Aku melangkah keluar dari lift tergesa saat pintu terbuka. Bang Widi menyusul kemudian meraih sikuku, memaksaku berhadapan dengannya.

"Saya tertarik sama kamu, Arella." Ucapan Bang Widi membuatku terpaku sejenak. Tertarik padaku? "Ya, saya tertarik sama kamu, tapi saya tidak bisa mendekatimu. Kamu terasa jauh dan saya bukan orang yang bisa berada di lingkaran kehidupan pribadimu. Saya marah ketika melihat Pak Ray bahkan lelaki yang umurnya jauh di bawahmu itu bisa dekat denganmu dengan mudahnya. Sedangkan saya sudah berusaha mendekati kamu, tapi kamu tidak merespon apapun. Saya marah dengan diri sendiri, karena merasa kalah dari awal. Saya menyadari kalau saya bukan tipe lelaki idaman kamu. Saya tidak bisa seperti Pak Ray atau lelaki yang bersamamu. Fakta itu membuat saya emosi hingga melontarkan kata-kata itu. Sungguh, bukan maksud saya menganggapmu seperti itu. Saya hanya—" Bang Widi mengusap wajahnya, "saya benar-benar minta maaf."

Menepiskan tangan yang berada di sikuku perlahan, aku menghela napas panjang.

"Bang Widi tidak perlu merasa seperti itu. Saya dulu pernah mengidolakan Bang Widi." Mata lelaki itu membola, menatap tidak percaya. "Saya dan Maia bahkan menjadikan Bang Widi sebagai tipe pria idaman. Yah, seperti yang abang lihat, bahkan Maia benar-benar mengidolakan abang. Dia nggak pernah melewatkan kesempatan makan siang bareng kan?"

"Jadi, saya nggak bertepuk sebelah tangan? Kamu juga tertarik sama saya kan Rell?"

"Saya pernah memikirkan untuk menjadikan abang kandidat pasangan, ya. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ucapan abang benar-benar sudah merubah pikiran saya. Disengaja ataupun tidak, saya cukup kecewa Bang Widi menilai saya seperti itu."

"Maafkan saya Rell."

"Saya memaafkan Bang Widi. Tapi saya memang butuh waktu untuk melupakan perkataan abang terhadap saya."

"Tidak ada kesempatan buat saya, Rel? Saya akan berusaha bikin kamu kembali tertarik sama saya."

Aku menggeleng. "Hati saya sudah dimiliki orang lain." Aku menghela napas. Ya, hatiku sudah dimiliki berondong sialan yang tadi siang membuatku kehabisan napas karena ciumannya. Sial! Wajahku memanas teringat ciumannya.

"Maaf Bang, saya permisi." Aku mengibas-ngibas wajah saat berlalu dari Bang Widi. Pasti wajahku semerah tomat saat ini.

"Rell, beri saya...." Suara Bang Widi tertelan oleh benturan di wajahku. Astaga, wajahku membentur dada seseorang yang segera kusadari siapa saat terhidu parfum familier di hidungku. Damar. Bencana.

"Sudah selesai bicaranya?" Suara Damar terdengar dingin. Ia menatapku tajam. Sejak kapan dia berada di sini? Jangan-jangan dia mendengar perbincanganku dengan Bang Widi.

"Dam—"

"Mau pulang atau masih mau bicara dengan dia?" Kali ini Damar tidak menyembunyikan kekesalannya. Aku memutar otak, bagaimana menghindari keributan di sini. Aku bisa membayangkan kecemburuan bocah ingusan ini akan menimbulkan kekacauan. Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri karena terlibat keributan dua lelaki yang sama-sama emosi.

"Maaf Sayang. Ada sedikit masalah kerjaan yang harus diselesaikan jadi buat kamu nunggu lama. Bang, maaf saya duluan. Pacar saya nggak suka disuruh nunggu kelamaan."

Aku bisa melihat perubahan air muka Damar. Bocah itu menatapku dengan mata membola, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tidak menghiraukan reaksinya, aku bahkan menautkan jemari, kemudian menyeretnya ke arah mobilku.

"Lo kenapa?" tanyaku setelah beberapa menit berada di dalam mobil tapi bocah itu tidak menjalankan mobil.

"Lo? Tadi kamu bisa manis pakai sayang sayang di depan atasanmu itu. Kenapa sekarang balik lagi pakai lo gue?" tanya bocah itu dingin yang membuatku mengembuskan udara lewat mulut. Kesal.

"Lo mau ngajakin ribut? Gue capek. Nggak niat ngeladenin lo ribut."

"Ya ya ya, kamu memang selalu capek kok kalo sama aku." Wajah menyebalkan itu mengerucut, terlihat lebih menyebalkan.

"Kenapa nggak jalan? Mau sampai kapan di sini terus?"

"Nggak suka? Kamu lebih suka lama-lama dengan dia daripada sama aku kan? Sudah kuduga."

"Dia siapa lagi sih?" Aku memijat pelipis. Lelah.

"Menurutmu? Aku sudah nunggu di sini saat kamu keluar dari lift. Membicarakan pekerjaan hm? Kalian di kantor ngapain aja sampai di parkiran masih saja membicarakan pekerjaan."

"Please deh Dam, gue bener-bener capek."

"Kalau ngobrol sama dia nggak ada capek-capeknya?"

"Astaga. Masih dibahas juga?" Aku mengusap wajah kasar. Menatapnya lelah.

"Dipikir aku nggak tahu kalian tadi ngapain aja? Kamu pikir aku nggak tahu kalau lelaki itu berusaha selalu menyentuhmu? Bukannya menghindar kamu malah ...."

Mengabaikan ocehannya, aku menatap bibir bocah yang sedang ngomel itu. Rasa-rasanya aku ingin membungkam bibir yang dari tadi membuat kepalaku semakin pusing.

"Diem deh." Aku maju, membungkam mulutnya yang masih ngomel nggak jelas dengan bibirku. Aku menciumnya singkat, membuat bocah itu terpaku.

"Pulang. Gue capek," ujarku setelah memasang seatbelt. Nggak mendapat respon, aku menatap Damar yang ternyata masih terpaku di tempatnya.

"Dam." Beberapa detik kemudian bocah itu mengerjap, lalu menatapku.

"Nunggu apa lagi? Gue beneran—" Ucapanku gantian tertahan dalam bungkaman bibirnya. Kali ini dia yang memajukan badan, menciumku. Kubiarkan bocah ini menciumku, bahkan aku membiarkan diriku terbuai dengan ciumannya yang manis memabukkan.

---

Berondong's AttackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang