"Rell." Damar menatapku setelah duduk di kursi kemudi. Aku memalingkan wajah, menatap layar ponsel yang berada di genggaman. Menahan diri untuk mencakar-cakar bocah sialan ini, aku berusaha mengabaikannya dengan mengutak-atik ponsel. "Habis ini mau ke mana?" Bocah itu bersuara lagi, tanpa rasa bersalah. Sabar, Rell. Jangan meledak, jangan meledak! Aku merapal dalam hati, masih menahan diri. Tidak mendapat jawaban, Damar menyalakan mesin, namun lima belas menit kemudian mobil tidak berpindah juga dari parkiran. Ia tidak menjalankan mobil.
"Kenapa nggak jalan?" tanyaku, menatap bocah yang sedang menekuri kemudi. Damar menoleh, bertatap mata sekian detik, ia menghindar, kembali menekuri kemudi, "kamu belum bilang mau ke mana," jawabnya kemudian.
"Pulang," sahutku. Damar malah menghela napas, bersandar di kursi kemudi dengan mata terpejam.
"Sekarang kenapa nggak jalan? Gue udah bilang pulang, kan?"
Bocah itu sekarang mengusap wajahnya, "maaf."
"Nggak usah minta maaf. Pulang sekarang, Damar."
"Aku minta maaf. Seharusnya aku nggak bohongin kamu." Kini Damar membuka mata, menatapku. Ada sorot rasa bersalah dalam matanya. Aku mendengus. Peduli apa? Dia udah membuatku merasa malu. Udah jadi pacar berondong, dapat predikat selingkuhan lagi. Berengsek!
"Bagus kalo lo ngerti. Jadi, sekarang kita udahin aja semuanya. Oke?" Aku bersidekap, membuang muka.
"Apa?"
Aku berpaling, menatap matanya yang sedang membulat. "Kita akhiri saja permainan konyol ini. Lo sudah puas kan, pacaran sama cewek seumuran gue, jadi sekarang, berhenti main-mainnya."
"Nggak, nggak. Aku nggak pernah main-main sama kamu. Sudah kubilang, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Aku udah minta maaf kan? Aku janji nggak akan pernah bohongin kamu lagi—"
"Nggak usah janji apapun kalau lo sendiri tahu nggak akan bisa menepatinya," potongku.
"Aku berusaha—"
"Berusaha apa? Berusaha menumpuk kebohongan dengan kebohongan lain? Astaga, lo nggak kasihan sama gue? Menyedihkan banget sih nasib gue...." Aku mengusap muka lelah. Mau ditaruh mana mukaku kalau semua orang tahu aku cuma selingkuhan, berondong lagi. Udah nggak ada harapan lagi.
"Jadi buatmu, pacaran denganku itu semenyedihkan itu?" Aku mendengar ucapan bocah itu dengan nada lesu. "Aku harus gimana lagi sih Rel, biar bisa dapetin hati kamu? Harus gimana lagi biar kamu tuh percaya kalo aku nggak main-main sama kamu?"
Aku menghela napas. Memantapkan hati untuk menyemprot bocah ini habis-habisan, aku menoleh menatapnya. Ucapan yang siap meluncur tiba-tiba tertelan kembali saat melihat ekspresi Damar. Bocah itu sedang menatapku teduh. Sorot mata yang membuat amarah yang meluap-luap menguap. Mata itu sanggup membuat tatapanku terkunci hanya memandang padanya.
"Rell, kamu harus percaya kalau aku nggak berniat mainin kamu. Aku serius saat bilang kalo aku jatuh cinta sama kamu." Damar meraih tanganku, menggenggamnya.
Aku melepas tangan yang menggenggamku, "tapi bukan kayak gini caranya, Dam. Lo harusnya nggak bohongin gue soal--"
"Hey, aku sudah bilang minta maaf kan?" Damar kembali meraih tanganku. Kali ini menggenggamnya erat. "Aku salah. Aku udah bohong. Aku harusnya jujur sama kamu, tapi aku takut kamu lebih membenciku. Dari awal aku udah salah. Aku menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan perhatianmu, untuk mendapatkanmu. Semua itu karena aku nggak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku nggak mau kehilangan kesempatan untuk mendekatimu, jadi aku memanfaatkan situasi kita. Aku nggak bermaksud begitu, tapi aku nggak menemukan cara lain."
Alisku berkerut, "maksudnya?"
"Dari awal ... intinya, aku beneran serius sama kamu. Lupakan semua pikiran tentang aku main-main sama kamu, atau aku cuma penasaran pacaran dengan perempuan seusia kamu. Aku nggak pernah kepikiran atau punya rencana buat cari pacar yang lebih tua atau apa. Aku jatuh cinta sama kamu karena itu kamu, bukan orang lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong's Attack
Chick-LitPunya pacar berondong? ... Hmm, pasti ngegemesin! Tapi kalo kamu pacaran sama anak SMA disaat umurmu udah 27, ini namanya bencana!!
