22

6K 563 10
                                        

"Perlu aku menggendongmu?"

Lisa bertanya ketika akhirnya mobil Bugatti hitam yang ia kendarai tiba dihalaman mansion esok harinya.

Ya, dua hari mereka menginap di hotel karna Jennie tidak bisa berjalan akibat miliknya sedikit terluka.

Jennie mendelik tajam. Ia masih mogok bicara pada Lisa sejak kemarin. Membuka pintu mobil, Jennie melangkah hati hati keluar. Lisa tertawa, kekesalan Jennie malah menghiburnya.

Raut mengkerut wajah wanitanya terlihat begitu lucu.

"Tunggu aku sayang,"

Lisa segera menyusulnya dan merangkul pinggang Jennie. Jennie menyentak rangkulan itu.

"Menjauh dariku, sialan!" Geramnya kesal.

Ia melangkah cepat memasuki mansion. Mengabaikan rasa sakit yang masih sedikit terasa dipangkal pahanya.

Bruk!

"Oh yaampun," Jennie segera menangkap punggung balita kecil itu.

Ia tersentak dengan manik membulat "Hey, jangan berlari lari seperti ini nak." Tegurnya cepat.

Jennie berjongkok meneliti wajah balita itu yang sudah memerah, hampir menangis. Ia segera memangkunya "No no don't cry okay? I not mad at you, Honey."

Lisa mendekat kearah mereka. Kernyitannya terlihat "Lili āyí,"
(āyí=bibi)

Jennie menatap Lisa cepat ketika balita dalam gendongannya mengulurkan tangan kearah Lisa. Wanita itu menatapnya curiga.

"Kau mengenal bayi ini?"

Lisa mengangguk setelah mengambil alih San "Dia---"

"San Kim!" Eunseo terlihat baru saja muncul dari arah ruang makan. Jennie memperhatikannya.

"Why you here, Kim Ju-yeon?" Tanyanya begitu Eunseo tiba dihadapan mereka.

Eunseo tersenyum lebar dan mengangkat bahunya singkat "Hanya berkunjung ke mansion adik iparku," Godanya dengan kerlingan.

Jennie memutar bola matanya malas. Lisa menatap Eunseo "Kalian menunggu sejak kapan?"

"Sejak kemarin malam, Nak." Bukan Suara Eunseo yang menjawab melainkan suara Yoorae.

Tubuh Jennie terasa membeku ketika melihat ibunya berjalan mendekat dengan senyum hangat.

"Ruby," Yoorae menyerbu memeluk putri bungsunya tersebut. Tangis harunya tumpah. Akhirnya setelah empat tahun, ia bisa kembali memeluk Ruby.

"M-mom," Bisik Jennie tercekat.

Yoorae melepas pelukan mereka. Menangkup pipi Jennie dengan kasih sayang "Sweetheart, mommy merindukanmu. Apa kau baik sayang?"

Jennie menatap lama manik Yoorae. Mata wanita itu nampak berkaca kaca "Me too, Mom. I guess, I'm fine. Bagaimana dengan mommy?."

"Mom baik baik saja Jane. Unnie, kakak ipar dan daddymu menjaga mommy selalu," Yoorae tersenyum kecil "Meski rasanya tetap kurang tanpa kehadiran putri kecil mommy ini,"

Saat itulah kesadaran Jennie kembali. Didepannya ini Kim Yoo-rae, ibunya. Yoorae mengatakan ia baik baik saja, Eunseo dan daddynya mengurus Yoorae dengan baik.

Daddynya, Kim Daewook. Jika Yoorae ada disini, itu artinya...

"Nak," Daewook mendekat dengan senyum lebar. Ia nampak mendekati Jennie. Ketika hendak memeluknya, Jennie tanpa sadar memundurkan langkahnya.

Destiny Good or Bad?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang