Setengah empat, belum terlalu sore untuk kembali ke rumah namun karena tidak ingin mendengar perkataan-perkataan yang nantinya akan mengganggu pikiran, Bulan memutuskan untuk pulang cepat dan memilih menaiki angkot alih-alih menuruti keinginan Andra yang kekeuh ingin mengantarnya.
Akhirnya, setelah beberapa menit berdebat Andra mengalah dengan Bulan yang meyakinkannya kalau gadis itu akan baik-baik saja sampai rumah. Meski kesal, Andra pun tidak bisa berbuat banyak karena Fano juga berada di pihak yang sama dengan Bulan.
Perjalanan menggunakan angkot dari tempat yang dikunjunginya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumah. Kini, Bulan sudah berada tepat di pintu yang tertutup, etah kemana perginya semua orang.
Tak ingin membuat kegaduhan, Bulan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Ia menoleh ke sana ke mari namun sepertinya memamg tidak ada orang. Tak ingin ambil pusing akhirnya ia memilih untuk ke kamar saja dan berniat mandi setelahnya.
Selesai mandi rumah masih tetap dalam keadaan sepi sampai tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka menampilkan sang ibu yang sepertinya pulang belanja.
"Ibu beli apa?"
Mira yang memang sedang menyimpan keresek belanjaannya di dekat kompor kini berbalik menatap Bulan yang ternyata mengikutinya ke dapur.
"Ibu cuma beli kangkung, tempe sama udang rebon. Gak papa, kan?"
Bulan yang mendengar pertanyaan ibunya tersenyum seraya mengangguk. "Gak papa kok, Bu. Masaknya mau aku bantuin?"
"Gak papa biar ibu aja, cuma sedikit kok. Kamu kalau ada tugas kerjain dulu sana."
"Tapi, Bu?"
"Gak papa, sana lanjut aja. Ibu mau mandi dulu," ucap Mira tersenyum berusaha meyakinkan anaknya yang terlihat tak enak.
Mendengarnya membuat Bulan mengalah dan memilih untuk kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar ia tidak langsung membuka buku melainkan hanya berbaring di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Menatap lamat ke langit-langit kamar yang hanya menampilkan satu lampu yang berada tepat di matanya. Memikirkan kembali hal-hal yang sudah dilaluinya selama ini.
Bulan menghela entah untuk keberapa kalinya, rasanya sangat sulit untuk bisa sampai di sini. Usia pernikahan ibu dan bapak tirinya sudah memasuki tahun ke empat namun mereka belum dikaruniai keturunan. Sebenarnya Mira sempat mengandung tapi keguguran saat usia kehamilannya memasuki bulan ke empat. Bulan sendiri tidak mempunyai adik kandung, ia adalah anak satu-satunya. Ralat, sempat memiliki adik namun meninggal saat usianya baru menginjak enam bulan karena penyakit yang dibawanya sejak lahir. Selang tiga bulan dari kematian sang adik, berganti ayahnya yang meninggal karena penyakit TBC yang dideritanya.
Air mata tanpa sadar menetes dari sudut mata Bulan, mengalir tepat ke sisi telinga dan rambutnya.
Waktu itu hari Rabu, ia berniat tidak masuk sekolah karena semua pakaian bersih sudah tak tersisa di lemari. Anak SD, seorang diri karena ditinggalkan oleh kedua orangtuanya untuk melakukan pengobatan di rumah sakit yang mengharuskan mereka menginap di sana karena penyakit ayah Bulan sudah sangat parah.
Selama tiga hari Bulan sendirian dan pada saat itu belum ada yang namanya mesin cuci, jadi cucian ia biarkan menempuk sampai akhirnya pakaian yang tersedia tidak tersisa. Jadi, dengan keputusannya yang bulat ia lebih memilih bolos pada hari itu.
Namun, satu hal yang membuat Bulan kecil bingung, kenapa banyak kerabat yang datang ke rumahnya padahal dari tiga hari yang lalu mereka tidak ada yang datang untuk sekedar menengok. Dengan patuh dan tanpa banyak bertanya Bulan mengikuti perintah mereka yang menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu, dengan perasaan yang campur aduk dan tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi Bulan memakan sarapannya susah payah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMICOLON (COMPLETED)
Narrativa generaleDua tokoh utama yang dipertemukan tanpa sengaja dengan membawa luka hidup masing-masing. Berusaha menjadi kuat di hadapan satu sama lain meskipun salah satu dari mereka selalu gagal dalam menunjukkannya. Hal-hal sederhana yang dilakukan Bulan selal...
