Andra keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut, ia baru kembali dari rumah sakit saat subuh dan hanya memiliki waktu tidur kurang dari dua jam yang membuatnya merasakan pening sampai sekarang. Sesaat ia melihat pergelangan tangan yang masih diperban dan tanpa sadar menghembuskan napas berat, saat turun nanti ia akan kembali berhadapan dengan papanya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya yang jelas dirinya selalu merasakan takut ketika berhadapan dengan sosok tegap berwibawa itu.
Setelah menyimpan handuk yang digunakan untuk rambutnya kini atensi Andra teralih pada dus besar yang ada di sudut ruangan. Ah, iya. Itu adalah boneka yang akan diberikan pada Bulan.
Mengingat Bulan membuat Andra bertanya pada dirinya sendiri tentang keadaan gadis itu karena dari sepulang sekolah kemarin ia lupa menghubunginya disebabkan terlalu khawatir dengan keadaan Manda jadi ia tidak melihat ponsel sama sekali. Ralat, ponselnya sempat digunakan untuk menghubungi orang rumah namun benar-benar tak terlintas tentang Bulan sedikit pun.
"Gue bakal hubungin Bulan nanti di sekolah …" gumamnya pada diri sendiri dan tanpa membuang waktu lagi ia bersiap-siap dengan seragam sekolahnya.
Sekali lagi Andra menatap pantulan cermin yang menampilkan wajah tampannya, ia sedikit mengusap pelan bagian pipi yang selalu menjadi sasaran Dimas ketika marah, sisa tamparan dua hari lalu masih terlihat biru meski sudah sedikit memudar.
"Shhh …" Sebuah ringisan terlontar saat ia dengan sengaja menekan lebam itu.
"Gue kira udah gak sakit."
Andra menggelengkan kepalanya ketika terlintas pikiran-pikiran negatif yang mungkin akan dihadapinya ketika sampai di ruang makan nanti.
"Gue udah bilang nginep buat nemenin ibu. Semuanya baik-baik aja, Ndra. Papa gak bakalan marah. Ya, papa gak bakalan marah."
Berkali-kali Andra mengucapkan kalimat yang sama di dalam hatinya guna menetralisir rasa cemas yang bisa saja membuatnya semakin membuat kesalahan.
Menarik napas dalam-dalam dan meyakinkan diri untuk keluar dari kamar dengan tas yang terlampir di bahu. Berjalan menuruni tangga dan seperti biasanya rumah ini sangat sepi.
Sampai di tangga terakhir perhatiannya teralihkan karena mendengar suara pintu utama yang dibuka. Andra tetap berdiri di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun karena merasa penasaran dengan seseorang yang datang, jelas ia kebingungan karena biasanya yang membuka pintu di jam segini hanyalah Manda, tapi bukankah sosok itu sekarang tengah terbaring lemah di rumah sakit?
Andra tertegun melihat siapa yang datang, itu adalah papanya. Keadaan beliau bisa dibilang kacau dengan kancing kemeja yang sudah terbuka menampilkan dada, baju kusut dengan rambut yang tak berbeda jauh. Beralih menatap wajah yang terlihat sangat sayu dengan mata memerah entah karena menangis atau apa.
Suara Andra tercekat di kerongkongan saat mata itu tepat menatapnya dengan tatapan dingin seolah siap membunuh kapan saja.
Andra menundukkan kepala takut dengan tangan yang tak berhenti meremat pada tas. Sosok itu berlalu begitu saja tanpa mempedulikannya selain dengan memberinya tatapan dingin. Andra berusaha mengatur napas agar bisa menetralisir perasaan sialan ini. Dalam hati ia berucap lebih baik papanya bersikap kasar daripada terlihat seperti tadi, itu benar-benar membuatnya semakin takut.
Lagi, Andra menghela napas panjang. Ternyata pagi ini masih belum cukup baik untuk mengawali hari di keluarganya.
Detik berikutnya Andra memilih untuk langsung ke pintu masuk utama daripada harus sarapan dengan perasaan yang campur aduk. Itu akan terasa lebih menyedihkan dan Andra membencinya.
°°°°°°°°
Jam istirahat sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu dan saat ini Bulan baru kembali ke kelasnya karena sempat dipanggil ke ruang guru untuk membantu menyelesaikan beberapa urusan dengan anggota OSIS yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMICOLON (COMPLETED)
General FictionDua tokoh utama yang dipertemukan tanpa sengaja dengan membawa luka hidup masing-masing. Berusaha menjadi kuat di hadapan satu sama lain meskipun salah satu dari mereka selalu gagal dalam menunjukkannya. Hal-hal sederhana yang dilakukan Bulan selal...
