10. Their Secret

3.9K 462 72
                                        

Lelah.

Charlotte lelah.

Jika biasanya Riddle mengganggunya, maka kali ini fans gila Riddle yang mengganggunya. Sekelompok gadis berseragam hijau tiba-tiba berhenti di depan Charlotte saat ia berjalan menyusuri koridor sendirian, mereka menatapnya penuh kebencian sekaligus jijik.

Bukannya ia tak tahu mengapa ia sekarang menjadi target kebencian para gadis, hanya saja Charlotte tak mengira hari ini akan datang padanya.

"Kau gadis tak tahu diri!" Walburga meninggikan suaranya begitu berhenti tepat dihadapan Charlotte.

Charlotte tak terusik, ia hanya menatap Walburga lekat, mengamati wajah ibu masa depan paman Sirius. Gadis ini memiliki wajah yang kaku tapi cantik. Namun sayangnya bodoh, bodoh karena menggilai seseorang seperti Riddle sampai mengganggu banyak gadis di sekolah.

"Kenapa kau diam saja?!"

"Malas."

"Apa?!"

"Aku malas meladenimu."

Kedua gadis yang berada di belakang tubuh Walburga melototinya, mereka seolah dayang yang mengikuti ke mana pun tuan putri mereka pergi. Charlotte tak merasa takut, justru ia merasa lucu. Ketiga gadis ini tiba-tiba mendatanginya karena Riddle.

"Beraninya kau bertingkah sembrono di depan Tom." Walburga kembali membuka suaranya. "Aku yakin sekali kau pasti melakukan sesuatu hingga Tom mendekati gadis aneh sepertimu."

Charlotte tergelitik mendengar ucapan Walburga. "Oh ya, seperti apa?" Tantangnya. "Kenapa kau marah bila memang aku melakukan sesuatu?"

Walburga memandangnya jijik. "Pasti kau menggodanya agar ia tidur bersamamu!"

Tubuh Charlotte meremang ketika ia membayangkan tidur bersama Voldemort. Gadis itu menggeleng tak percaya. "Pergilah, Black. Kau melakukan hal yang sia-sia."

Tapi ada satu keanehan dari raut muka Walburga. Raut penuh kebencian itu mendadak berubah menjadi senyuman licik, dan tak lama ia merasakan sesuatu mengguyur kepalanya. Charlotte hampir saja memekik jika ia tak sadar bahwa air danau hitam yang membasahi tubuhnya.

Charlotte mendongak dan melihat siswi Slytherin lain mengayunkan tongkatnya untuk menumpahkan air dari ember guna menyiramnya.

"Rasakan itu!" Para gadis Slytherin terkikik puas menyisakan Walburga yang tersenyum penuh kemenangan.

"Itu akibatnya jika kau berani mendekati Tom!"

Sepeninggal gadis-gadis pengganggu, Charlotte menghela napasnya, mencoba untuk sabar. Kini ia mengerti bagaimana perasaan Hermione ketika fans Victor Krum mengganggu gadis itu di tahun keempat mereka. Saat kembali ke asrama dalam keadaan basah kuyup, Sendy maupun Travis tak bisa berkata-kata. Kedua siswa itu hanya saling memandang sebelum Charlotte menyebutkan satu nama.

"Black."

"Aku tahu hari ini akan datang."

Ungkapan Travis tampaknya mengundang tatapan tajam dari Sendy. Travis yang tersadar bahwa ucapannya dapat memicu kesalahpahaman berusaha meralat.

"Oh, tidak maksudku bukan berarti aku mengharapkanmu mengalami hal ini," Travis mengecilkan volume bicaranya. "hanya saja kau tahu, Black itu memang sinting kepada siapapun yang mendekati Riddle."

"Merlin! Aku tak mendekati Riddle. Kalian tahu sendiri."

"Ya, tapi Black tak akan mau mendengarkanmu." Sahut Sendy. "Ayo, mari kita keringkan tubuhmu." Gadis Kim itu mengantar Charlotte ke dalam kamar.

***

Dari hari ke hari tingkat gangguan Walburga kian meningkat, tak hanya menyiramnya dengan air, terkadang Walburga Black akan melemparinya dengan lumpur, membuatnya kehilangan perkamen dan masih banyak tindakan yang membuat Sendy dan Travis harus melindungi gadis itu ketika berada di luar asrama.

Obsession ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang