Flashdandelion
.
.
.
Semuanya panik. Maria, Jaya, Dito, Dewi sampai ke Larasati. Entah darimana nenek Alva itu tahu perihal kaki Jian yang memar.
Baru saja lima menit yang lalu Dito dan Dewi pulang bersama setelah satu jam menjenguk Jian. Dua orang itu datang selepas sekolah. Dito lebih banyak menangis melihat kondisi sepupunya. Padahal Jian sudah menjelaskan bahwa memar dikakinya ini tak menyebabkan hal yang serius.
Alhasil ia dan Dewi harus berusaha menenangkan Dito. Sepupunya itu bahkan sempat memarahi Alva karena menganggapnya tak menjaga Jian dengan baik. Ajaibnya Alva hanya terdiam tanpa mencoba menjawab.
Lagipula itu bukan masalah, Alva justru bersyukur Dito ada sebagai sepupu yang baik untuk Jian.
Sementara ini Jian hanya melakukan pekerjaan dapur seperti memasak dan mencuci piring. Itupun setelah mati matian membujuk Alva agar diizinkan untuk tetap bekerja.
Bukan hanya cowok tinggi itu yang melarangnya, tapi Maria juga melakukan hal yang sama. Jadi, selain pekerjaan dapur sementara dikerjakan oleh Jaya. Ya, dia sendiri yang menawarkan untuk membantu.
"Jian mau turun sendiri."
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala. Alva melepaskan baju kemudian menggantinya dengan kaos tanpa lengan.
Jian segera memalingkan wajahnya. Kenapa sih cowok tinggi itu suka buka baju sembarangan?
"Jian mau turun ke bawah sendiri, Mas." ia mengulangi perkataannya.
"Nggak." jawaban Alva tetap sama.
Dari jendela kamar, matahari terlihat mulai menghilang. Sebentar lagi malam tiba dan Jian harus turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Terhitung sudah lima hari Jian kembali tidur di kamar Alva. Selama itu juga hanya ia yang tidur di ranjang sedangkan Alva menempati sofa kamarnya. Lagi, Jian tak bisa menolak. Kemana pun ia pergi Alva pasti mengikutinya kecuali saat ke kamar mandi. Jian akan memukul Alva jika itu terjadi.
"Boleh ya? Jian ndak mau ngerepotin Mas Alva terus."
"Gue nggak merasa direpotkan." jawabnya menatap Jian yang duduk cemberut di pinggir ranjang.
Jian panik saat Alva malah mencopot celananya. "Ehh! Mau ngapain?"
Terdengar kekehan kecil dari Alva. Kini celana jeansnya berganti menjadi celana hitam pendek. Entah kenapa hari ini ia merasa gerah.
"Kalau mau ganti dikamar mandi aja, Mas." Jian menutup matanya.
Tak lama tubuhnya terasa melayang. Alva menggendongnya ala bridal style. Jian terdiam saat Alva membawanya keluar kamar. Tentunya masih dengan wajah cemberut.
"Tunggu beberapa hari lagi. Kaki lo masih sedikit bengkak." Alva mulai menuruni tangga.
"Gue baru pesan tongkat kruk. Lo bisa pakai itu nanti."
Di dapur sudah ada Maria dan Jaya. Ibu hamil itu sedang menuang bubuk susu kedalam gelas. Alva pelan-pelan menurunkan tubuh Jian.
Jaya yang tengah memasukkan pakaian ke mesin cuci bersiul menggoda. "Kesempatan pasti dipakai dengan baik ya, Den."
Maria tertawa mendengar Jaya sedangkan Jian tersenyum merasa tak enak. Gara-gara Jaya rasanya ia seperti terpergok bermesraan didepan ibu pacarnya. Tapi, bukannya memang seperti itu? Entahlah Jian malu!
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Make You Mine
Novela Juvenil[Boyslove] [Romance] [Yaoi] Hubungan manis antara majikan dengan pembantunya. Alva×Jian Start: 16-08-2020 End: - Warning! Cerita ini berisi konten tentang YAOI. So, don't read if you don't like!
![[BL] Make You Mine](https://img.wattpad.com/cover/237056980-64-k536734.jpg)