15. | What's wrong?

2.2K 171 3
                                        

<flashdandelion>

.

.

.

Rencana untuk menginap satu malam hanyalah sebuah mimpi. Nyatanya senin pagi ini Jian masih duduk diatas ranjang dengan wajah cemberut.

Sudah satu jam juga ia mengabaikan Alva. Kekasihnya itu malah kembali menarik selimut saat subuh tadi Jian mengajaknya pulang.

"Jian " Alva mencoba membalik tubuh kecil itu. Jian kembali menggeleng dan mencoba melepaskan tangan Alva dari pundaknya.

"Dengerin gue dulu."

"Ndak mau." tolaknya lagi.

Minggu depan mereka sudah harus menjalani ulangan, Jian hanya tak mau tertinggal materi pelajaran dan terlalu lama meninggalkan pekerjaannya di rumah Maria.

Kembali mendapat penolakan, akhirnya Alva memilih menarik tubuh Jian dan mengukungnya. Wajah terkejut pacarnya membuat Alva tersenyum senang.

"Gue minta maaf."

Jian menatap wajah tampan diatasnya. Sebenarnya ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Alva.

Kemarin Karin meminta diantar ke apartemen milik ayahnya yang ternyata berjarak cukup jauh dari sini. Alva sebenarnya ogah mengantar cewek itu pulang, tapi karena Karin yang tak berhenti merengek membuatnya mau tak mau menuruti kemauan cewek itu. Ia kembali tiba kesini sore hari dan terlalu lelah untuk kembali menyetir pulang.

"Gue janji siang nanti kita pulang." ucapnya menatap lurus mata Jian.

"Janji?"

Alva memberi anggukan sebagai jawaban. Wajahnya terkubur di perpotongan leher Jian. Meraup rasa nyaman dari sana. Tubuhnya benar-benar lelah.

"Mas Alva masih capek?" tanya Jian begitu melihat Alva tampak lesu. Kalau seperti ini ia jadi merasa bersalah sudah mengabaikan Alva.

"Mau Jian pijitin, ndak?" tawarnya.

Mendengar hal itu, Alva langsung mengangkat wajahnya. Sebuah kesempatan harus digunakan dengan baik, kan?

"Gimana kalau diganti satu ciuman?"

Jian membulatkan matanya. Tubuhnya bersiap untuk kabur, namun kalah cepat dengan Alva yang sudah menahan kedua tangannya diatas kepala. Yang lebih dominan mulai mendekatkan wajahnya.

"S-sebentar dulu Jian mau--- uhmpp!"

Oke mari kita biarkan Alva menikmati sarapannya!

****


"Pokoknya ayah harus bilang sama Om Rahardian!"

Ardi memijat pangkal hidungnya pusing. Karin pulang dengan keadaan marah. Anak satu-satunya itu memaksanya untuk segera bertemu dengan Rahardian dan membicarakan perjodohan yang sudah sahabatnya itu janjikan.

"Justru Alva yang harus datang menemui ayah. Lagipula dia belum lulus sekolah, ini masih terlalu dini."

"Ayahh." kini suaranya berubah jadi merengek. Karin benar-benar ingin segera mengikat Alva dalam perjodohan.

Ardi bukannya tidak mau menuruti permintaan anaknya, hanya saja ia pikir ini masih terlalu dini untuk Alva. Anak Rahardian itu bahkan belum lulus sekolah.

Dan lagi Alva harus menempuh kuliah dan bekerja sebelum bisa dijodohkan dengan anaknya. Ia ingin yang menjadi suami Karin kelak adalah orang yang mapan. Walaupun sebenarnya ia tak perlu khawatir tentang hal itu.

[BL] Make You Mine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang