3. | Do Something Great

4.2K 296 15
                                        

flashdandelion
.
.
.

Tepat saat pukul sepuluh malam, Jian keluar dari kamar Alva.

Ia membawa nampan berisi piring kotor ke sink lalu menyalakan air. Tangannya mengambil spons dan sabun, Jian mulai mencuci piring.

Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Mengingat kembali beberapa menit yang lalu saat ia berada di kamar Alva.

Majikannya itu menyuruhnya duduk dan menunggunya selesai menghabiskan makan malam. Kalau diingat-ingat ia jadi malu juga, apalagi saat Alva menyodorkan segelas susu putih karena mendengar perutnya berbunyi.

Ya Tuhan, Jian ingin kabur saat itu juga. Ia malu sekali!

"Eh kenapa jadi mikirin Mas Alva, sih?" Jian menggeleng pelan mencoba fokus pada pekerjaannya.

Pintu samping rumah dibuka pelan. Jaya muncul sambil menguap, wajahnya terlihat sangat lelah.

"Mas Jaya udah makan?"

Jaya menoleh lalu mengangguk lemas. "Mas Jaya tidur dulu ya, Dek. Ngantuk banget nih."

Jian mengangguk mengiyakan. Ia juga ingin cepet bertemu dengan kasur. Tubuhnya mulai terasa pegal, mungkin karena tadi sepulang sekolah ia harus membantu Budenya bekerja dulu memanen di kebun jeruk.

Bila sedang musim panen begini, ia memang selalu membantu Budenya bekerja.

Kebun jeruk itu memang bukan milik Budenya, perempuan yang sudah Jian anggap sebagai Ibu itu hanya diamanati oleh pemilik tanah untuk mengelola kebunnya. Hasilnya cukup untuk menghidupi mereka dan biaya Jian sekolah.

Piring terakhir berhasil Jian bilas. Ia beralih membuka pintu kulkas, setidaknya ia harus mengecek bahan makanan untuk sarapan besok.

Sret!

Hampir saja Jian berteriak saat ada dua tangan yang mengukungnya dari belakang. Ia menoleh dan terkesiap saat mendapati wajah Alva begitu dekat dengannya.

Karena gerakannya yang tiba-tiba tadi membuat Jian sontak terhuyung dan hampir menabrak isi kulkas.

Alva dengan sigap meraih pinggangnya. Jian tanpa sadar menaruh tangannya di dada cowok yang lebih tinggi itu, menahannya agar tak terlalu dekat.

"Lain kali hati-hati."

"M-maaf." Jian menjauh dari tubuh Alva lalu membungkuk meminta maaf. Setelah ini ia pasti akan dianggap ceroboh oleh anak majikannya.

Alva bergumam mengiyakan. Ia melihat isi kulkas, kembali pada tujuannya untuk mengambil satu kaleng soda.

Sadar jika Jian masih berdiri dibelakangnya membuat Alva menatap cowok kecil itu. Lagi, Alva terpesona dengan mata indah itu.

"S-saya ke kamar dulu, selamat malam." ujar Jian canggung, pekerjaannya sudah selesai di dapur.

Punggung kecil itu berbalik meninggalkan dapur. Mata tajam Alva terus mengikuti kepergian Jian. Tak lupa mengulas senyum tipis sambil menikmati minumannya.

Pembantunya itu sangat lucu!

****


Seminggu berlalu dengan cepat. Selama itu juga tak ada yang spesial dari hari-hari Alva.

Belajar di sekolah dan berdiam diri didalam kamar atau mengajak Jaya ke kota untuk membeli beberapa cat lukis yang habis. Selain itu ia habiskan untuk makan, tidur dan tentunya olahraga.

[BL] Make You Mine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang