Bagian 12

24 7 1
                                        

Setelah pertemuan dengan Bryan tadi, Naura langsung kembali ke kelas.

Namun, saat perjalanan menuju kelas, Radit datang dari arah berlawanan.

"Habis dari mana?"

Naura menunjuk ke arah belakang. "Dari sana."

"Sana mana?"

Mendadak suasana koridor yang mereka tempatin menjadi panas.

"Ngapain berduaan dengan dia?"

"Siapa?"

"Si brengsek."

"Dari mana kamu tau aku ketemuan sama dia?"

"Kalau aku lagi nanya langsung dijawab, jangan malah balik bertanya!"

"Y-ya, t-tapi kamu aneh. Datang-datang malah nuduh yang engga-engga."

"Yang nuduh kamu siapa? ini aku masih nanya dengan siapa, belum lagi tentang aktivitas kamu selama sama dia tadi."

Naura menghela napas sabar. Entah kenapa hari ini semua orang begitu menyebalkan.

"Masih ga mau ngasih tau sama siapa dan ngapain aja?"

"Bryan. Cuma ngobrol biasa." Jawab Naura seadanya.

"Ya udah, selesai. Ga harus ditutup-tutupi kayak tadi."

"Siapa yang nutup-nutupin? kamu kenapa sih, Dit? kita baru ketemu hari ini dan kamu malah bikin aku kesal."

"Ga kebalik?"

"Terserah."

"Dia ngobrolin tentang aku sama kamu?"

Naura mengangguk. "Hm."

"Apa aja?"

"Kayaknya semua permasalahan yang ada harus kita perjelas lagi deh. Lebih tepatnya kamu sendiri yang harus menjelaskan semuanya ke aku."

"Jawab dulu pertanyaan aku tadi, jangan merembet kemana-mana."

"Siapa yang merembet kemana-mana? ini masih ada sangkutpautnya tentang yang dibahas sama Bryan kok."

"Apa?"

"Putri. Kamu kenal dia 'kan?"

"Maksud kamu?"

Naura tersenyum sinis. "Kenal atau engga?"

Radit hanya diam. Tanpa dijawab pun Naura sudah bisa menebak jawabannya.

"Tau banget pastinya, bahkan sedekat nadi. Benar begitu, tuan Raditya Sayoga yang terhormat?"

"Kenapa dengan Putri?"

"Aku mau kamu jauhin dia."

"Ra!"

"Kenapa? ga bisa?"

"Naura!"

"APA?! Ya udah. Kalau ga bisa, aku mau kamu dekatkan hubungan kami. Bukan sekedar kenal doang kayak yang sehari kemarin, tapi dekat layaknya sahabat seperti yang dia katakan."

Radit tampak berpikir. "Oke."

"Secepatnya."

Radit mengangguk sambil mengacak-acak rambut Naura gemas. "Maaf."

"Buat apa?"

"Yang tadi. Aku terlanjur emosi duluan pas dapat info kalau kamu sama si brengsek itu ketemuan."

"Cemburu atau panik?"

"Jangan mulai, Ra."

"Justru bagus buat hubungan kita kalau semua masalah yang katanya GA PENTING, kita luruskan bersama-sama."

D'amore (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang