23. Tiada Hari Tanpa Ibu

67 4 0
                                        

Halo, Assalamu'alaikum,
malam ini update lagi yaa😍
Semoga suka sama ceritanya😘
Bila perlu aku minta tolong share cerita ini
ke temen kalian juga yaaaaaa,
Sama di medsos kalian🤩

Oh ya, kalian bisa panggil aku
dengan kataLia, hehe😁




"Tanpa beliau, kita tidak akan mengenal
dunia yang fana ini."

-Maaf, Gladista-


Pandangan Christa malam ini tidak pernah lepas dengan selembar halaman berwarna putih didepannya yang berisikan beberapa kalimat, entah itu apa artinya dia pun tidak mengerti. Christa sekarang kuliah dengan jurusan yang tidak diinginkan, tapi orangtuanya lah yang menginginkan putri satu-satunya ini memasuki jurusan PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia).

Mungkin mereka akan berpikir bahwa jurusan ini pasti gampang dan tidak akan pernah ketemu angka atau semacamnya yang membuat kepala ingin pecah. Namun, siapa sangka dalam mata kuliah yang selalu dia ikuti, Christa menemukan hal-hal diluar nalar. Bahkan, dia berpikir ada mata kuliah yang lebih rumit dibandingkan matematika. Ya, dia menganggap matematika lebih gampang dibanding mata kuliah yang sekarang dia sedang pelajari malam ini.

"Huh, harusnya gue masuk prodi Manajemen aja gak sih! Kayak gini jadinya malah sampai kapan, gue kelarnya coba. Ini sebenarnya salah gue yang gak coba bicara sama bokap, atau emang mereka yang gak coba kasih pilihan ke gue sih?" Christa bernapas gusar, setelah mencoba memahami mata kuliah ini, tapi belum sama sekali dia paham.

"Ini juga apaan coba, ada fonem, ada morfem, ada frasa. Arghhh, pusing banget sih!!" Christa teriak frustasi ketika mencoba belajar dengan benar. Jika saja, besok tidak ujian lisan, mungkin malam ini dia akan tidur lebih awal tanpa harus merasakan frustasi.

"Christa, kenapa sayang?" Entahlah, dia tidak sadar, jika suaranya akan terdengar sampai luar.

"Ah, Ibu belum tidur?" tanya Christa mencoba kembali dengan ekspresi yang terlihat baik-baik saja, seolah-olah dia menikmati  belajarnya.

"Kamu sendiri, belum tidur juga? Ini udah jam sembilan loh sayang," ucapnya sembari mengelus rambut halus Christa yang sengaja dia biarkan terurai.

"Hm, besok ada ujian lisan Bu. Jadi, belajarnya mau lebih lama deh Bu." Sebenarnya juga Christa ingin sekali menyudahi memahami mata kuliah ini. Tapi, jika dia tidak mencoba satu kali lagi, artinya dia juga harus siap resikonya besok.

"Christa, Ibu tahu, pasti kamu kaget sama hal-hal yang kamu lewati setelah keluar dari sekolah. Seperti dengan kelasnya, mata kuliahnya, cara mengajarnya, dan yang lainnya. Sayang, kuliah semampu kamu saja, jangan buru-buru. Kalo capek, istirahat, jangan dipaksain, nanti sakit. Kalo gak kuat, jangan nyerah ya, boleh berhenti, tapi ingat bangkit lagi. Sayang, kamu pasti bisa lewati ini semua, semangat ya!" Setelah tuturan itu selesai, Christa langsung memeluk hangat tubuh ibunya.

"Ibu yakin, Christa bisa lewati ini semua, sedangkan Christa aja jujur gak suka sama jurusannya." Setelah sudah satu bulan lebih, dia belum pernah merasa menyenangkan dalam hal pembelajarannya. Dan mungkin saja, prodi PBSI memang bukan passion-nya.

"Christa, ingat kata-kata ini jika kamu gak bisa. Kamu harus mengatakan ini pada diri kamu sendiri."

"Apa kata-kata nya, Bu?"

"Kata-katanya, 'Aku pasti bisa melewati semua ini dengan baik. Ayah, Ibu, aku berjanji akan melakukan yang terbaik di dunia perkuliahan ini.' Sayang, berjanjilah pada diri kamu sendiri untuk tidak menyerah dengan kehidupan dunia yang fana ini. Berjanji untuk melakukan apapun yang terbaik, tidak harus sempurna. Jika itu dapat membahagiakan ibu sama ayah, maka itulah yang terbaik." Christa memperhatikan selama ibunya mengucapkan kata-kata yang harus dia lakukan.

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang