28. Bahagia Bersama

63 5 7
                                        


"Bahagia itu sederhana. Tinggal kita menciptakannya sendiri, tak perlu bersusah payah memikirkan apa yang membuatmu bahagia."

-Maaf,Gladista-

Nuansa halaman disekitar Gladista kini serba putih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nuansa halaman disekitar Gladista kini serba putih. Tidak depan, samping, belakang semuanya bernuansa putih, layaknya seperti tidak ada warna lagi. Tentu saja, jika sudah berada di tempat seperti ini, pikiran dan hati sudah tidak lagi damai. Semuanya campur aduk apa yang Gladista alami. Kini ia sedang duduk sembari menunggu dokter keluar dari ruangan.

Gladista merasa bersalah, mengapa ia tidak kerja dari kemarin saja? Mungkin, jika dari kemarin ia sudah bekerja, Bundanya pasti tidak akan merasa kelelahan dan berakhir tak sadarkan diri di rumah sakit. Perasaan kecewa itu terus datang berkali-kali menghunjam hati Gladista.

Pada saat suara pintu terbuka, Gladista langsung menghampiri dokter yang sudah memeriksa Bundanya. "Bagaimana Dok, keadaannya?" tanya Gladista dengan raut wajah khawatir.

"Tekanan darahnya beliau delapan puluh, jadi wajar saja sampai tidak sadarkan diri. Selain tidak mengistirahatkan tubuhnya, beliau juga memaksakan dirinya terus bekerja. Jadi, untuk beberapa hari nanti, bisa di rawat terlebih dahulu, ya." Sontak Gladista cukup tenang bahwa Bundanya tidak menderita penyakit yang serius. Namun, ini juga membuat Gladista khawatir

"Baik, terimakasih, Dok." Arnando dan Gladista sudah bisa memasuki ruang rawat Bundanya, Gladista harus bisa membujuk Bunda agar tidak usah bekerja lagi, bagaimanapun caranya.

"Bun, Dista khawatir banget pas Bunda dikabarin masuk Rumah Sakit." Bunda hanya bisa mengelus lengan Gladista, sambil berkata, "Bunda baik-baik saja, sayang."

Gladista menanggapi dengan senyuman, ia menatap sendu ke arah Bundanya. "Bun, gak usah kerja lagi ya. Biar Gladista aja yang kerja, Dista udah dapet kerjaan kok jadi pelayan di Kantin Kampusnya Christa." Sontak Bunda sedikit tersenyum mendengar penuturan Gladista.

"Kalo kamu kerja, Bunda juga harus kerja, sayang."

"Gak, kalian semua gak usah kerja. Biar Ayah saja." Gladista dan Arnando yang fokus pada obrolan Bunda pun mengalihkan pandangan, melihat siapa yang baru saja masuk.

"Ayah, sejak kapan Ayah disitu?" Gladista sungguh tidak sadar bahwa di depan pintu yang sedikit terbuka terdapat Ayahnya yang sejak tadi memperhatikan kita.

"Belum lama kok, sayang. Ini Ayah bawain makanan buat kalian, dimakan ya." Ayah ternyata membawa tiga bungkus ayam goreng beserta nasinya. Namun, apakah Ayah sendiri sudah makan?

"Yah, kok tiga? Untuk Ayah sendiri mana?" tanya Gladista kebingungan.

"Ayah udah makan, sayang."

"Mas, jangan bohong. Itu satunya buat Ayah saja, Dis. Kan Bunda lagi sakit." Gladista yang sedang bingung itu masih mencari cara agar makan siangnya segera dimulai.

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang