36. Bersama Tanpa Mengenali

84 4 1
                                        

"Pertemuan yang terus berulang ada akhirnya akan bersama tanpa harus melihat dari jauh."

-Maaf, Gladista-

ʚɞ ʚɞ ʚɞ

Memakan waktu yang cukup lama juga dengan hanya sekedar memperbaiki ban sepeda. Gladista mengeluarkan selembar uang karena sebentar lagi sepeda sudah bisa di pakai. Jika saja tidak ada lelaki itu yang menolongnya, mungkin saja ia akan kebingungan harus kemanakah ia pergi mencari bengkel? Namun, sungguh Gladista sangat penasaran dengan mimik wajahnya. Dia sedari tadi tidak membuka maskernya, entah apa yang membuat dia bertahan memakai masker, Gladista tidak tahu.

Ketika semua sudah beres Gladista sedikit agak kikuk hanya sekedar untuk mengucapkan rasa terimakasih. Ya, ia belum saja pergi dari tempat karena belum berterimakasih kepadanya.

"Hm, makasih."

Lelaki itu yang sadar Gladista berbicara pun menoleh, "untuk?" tanyanya seolah-olah tak sadar dengan apa yang dia lakukan kepada Gladista.

"Semuanya." Gladista sengaja tersenyum pada lelaki itu agar ia tahu bahwa ia mengucapkan dengan tulus dan tentu juga susah payah hanya sekedar mengucapkan rasa terimakasih.

"Okeh."

Gitu doang?

"Eh, bentar." Akhirnya lelaki itu bicara lagi, kemudian Gladista menarik napas lega. Karena jika saja lelaki itu hanya sekedar menjawab 'okeh' artinya Gladista akan cepat pergi dari bengkel.

"Iya?"

"Habis ini mau kemana?" tanya lelaki itu dengan menatap lekat wajah Gladista.

"Pasar."

"Ngapain?"

"Belanja, buat makan."

"Beli aja deh yuk, gue juga laper." Entah itu akan di traktir atau tidak dengan si lelaki itu, tapi yang pasti jujur Gladista ingin sekali mengiyakan.

"Beli doang, gak makan bareng sekalian?"

Tidak, Gladista tidak bermaksud apa-apa dan tidak ada niat untuk bisa makan bersama dengan lelaki itu. Hanya saja dari tadi ia penasaran dengan wajahnya, ia ingin sekali tahu siapa dia. Bahkan ketika dia mengajak membeli makan pun, seolah dia bener-bener kenal Gladista, maka dari itu ia ingin sekali melihat dengan jelas siapa dia. Meskipun akhirnya harapan ia pupus, tidak apa, yang penting ia tahu siapa lelaki dibalik masker itu.

"Emang, lo mau makan bareng gue?"

"Kenapa tanya balik?"

"Berarti lo jelas mau ya," katanya membuat Gladista kesal setengah mati.

Gladista sudah tahan untuk tidak akan terlihat pesona di hadapan dia, tetapi lelaki itu malah memancingnya dan sangat membuat ia kesal, seperti ingin kabur saja dari sini dan lupakan apa yang terjadi di hari ini.

"Ya udah, di pinggir jalan aja deh, disana. Kayaknya enak-enak kok," ajak lelaki itu untuk membeli makanan yang berada di pinggir jalan.

Gladista pun akhirnya menepikan sepedanya di dinding rumah yang entah siapa pemiliknya, sedangkan lelaki itu menaruh motornya di deket bengkel, ya sebenarnya motor dia juga sedang di perbaiki. Katanya mau ganti oli, ribet banget emang tuh orang.

Gladista hanya mengikuti kemana dia pergi, awalnya memang berniat beli makanan yang ada di seberang deket bengkel. Tapi ketika menyadari itu adalah siomay, dia meminta untuk mencari makanan lain. Entah apa yang sedang dia cari, Gladista sungguh kesal menawarkan untuk makan bersama dengannya. Gladista sungguh emosi, sangat.

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang