"Gue paham, lo ingin tahu tentang kehidupan gue, tapi tolong jangan sekarang."
~ Dirgantara ~
"Dirga cuek ya?" tanya Gladista, saat dirinya sedang membantu Tari memasak, tanpa lihat kondisi terdahulu.
Lalu Tari pun menoleh ke arah Dirga, dengan tatapan bingung. Harus jawab apakah Tari? tanpa sadar kini Dirga langsung membawa Gladis pergi dari dapur.
"Ikut!" Dirga langsung menarik Gladista pergi.
"Dirgantara!!"
Teriakan Gladis hanya di abaikan oleh Dirga. Ia baru saja ingin tahu jawabannya, mengapa Dirga malah menyeret ia pergi? Apa salah yang di lakukan oleh Gladis. Dia kan hanya penasaran.
"Gue paham, lo ingin tahu tentang kehidupan gue. Tapi tolong jangan sekarang." Lirihan Dirga seakan membuat Gladis semakin bingung dengan sifatnya.
Baru pertama kalinya, ia mendengar Dirga berbicara lembut. Beginikah rasanya? Dirga yang ramah. Gladis mengerjapkan mata, membuang isi pikiran tadi.
"Terus kapan? Lo tuh aneh tahu gak, giliran sama Bunda lo senyum. Tapi giliran sama yang lain cuek, sahabat lo aja di cuekin. Tega lo! Jadi terpaksa gue tanya Tante Tari. Karena kalo sama lo juga percuma. Lo-nya aja cuek." Kata-kata itu sukses membuat Dirga mengingat kenangan dulu yang ia rasakan.
"Nanti gue bakal cerita." Akhirnya Dirga percaya dengan Gladis.
"Beneran lo mau cerita ke gue?" tanya Gladis menyakinkan.
"Iya."
Tak seperti biasanya, wajah Gladis seakan berseri mendengar Dirga akan menceritakan sesuatu. Padahal sahabatnya sendiri aja biasa aja. Gak sebahagia ini. Mungkin saja, karena Dirga orang yang beda. Dia sulit di taklukkan.
"Lo kangen bang Ar?" Gladis mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba Dirga tanya bang Ar.
"Hah? Lo kenal ?" Gladis tak percaya dengan Dirga. Mana mungkin, bang Ar mau temenan sama Dirga. Orangnya aja dingin.
"Kenal. Dulu, gue selalu bareng sama dia waktu OSIS." Jelas Dirga.
Gladis ternganga tak percaya dengan Dirga. Setahu ia, bang Ar tidak pernah cerita tentang teman dekatnya bernama Dirgantara. Apa Dirga sedang mencoba menipu Gladis.
"Masa sih? Gak percaya gue." Gladis mencoba untuk berlagak bodo amat apa yang Dirga ucapkan.
"Bang Ar, pernah cerita ke gue." Tapi, tidak untuk kali ini. Gladis rasa, ini patut di pedulikan. Ia mencoba penasaran. Memperhatikan Dirga bercerita.
"Bang Ar bilang, lo itu adik—"
"Lah emang gue Adiknya." Gladis memotong pembicaraan Dirga.
"Bentar dulu, belum selesai. Dia bilang lo itu adik yang paling dia sayang. Dia juga gak pengin pisah sama lo, tapi gimana lagi. Dia kan dapat beasiswa di Luar Negri. Jadi harus tega deh ninggalin lo sendiri." Jelas Dirga masih tak menyangka akan menjelaskan ini secara mendadak.
"Apa yang pernah di katakan bang Ar, waktu sama lo." Gladis tahu, bang Ar emang selalu memberi nasihat yang baik. Makanya, ia tanya siapa tahu juga Dirga punya.
"Lo tahu kan, gue cuek. Bang Ar bilang jadi orang itu yang murah senyum, jadi gak gampang sedih. Juga, enak kalo di pandang, gak serem." Ucapnya.
"Pfftt. Bang Ar memang bijak. Dan kenapa sih lo cuek, giliran sama Bunda aja lo senyum?" hampir bosan Dirga denger Gladis bertanya itu terus berkali-kali.
"Ada sebab-akibat yang buat gue kaya gini." Jawab Dirga membuat Gladis bertambah penasaran.
"Emang apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
JugendliteraturPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
