31. He's Back

77 4 0
                                        

"Haruskah ku kembali berharap, setelah sekian lama ku mencoba memperbaiki diri?"

-Maaf,Gladista-

"Bang, gue penasaran deh sama majikannya Ayah. Kan kata Ayah, anaknya itu kuliah di kampusnya Christa, dan kenapa tuh anak minta dianter jemput sama Ayah, secara kan dia lelaki, harusnya bisa dong naik motor sendiri."

Ayah Dista ini bekerja sebagai supir, dimana beliau harus mengantar jemput anak dari majikannya yang sedang kuliah. Beda lagi jika dengan supir taxi, atau yang lainnya. Namun, yang jadi permasalahannya bagi Gladista adalah mengapa dia sebagai seorang lelaki tidak mengendarai mobil atau motor sendiri untuk berangkat ke kampus, kenapa harus dianter jemput?

"Udahlah Dis, yang penting kan Ayah udah dapet kerjaan."

Gladista berpikir, bahwa Arnando masih sedikit menyimpan rasa kecewa pada ayahnya, setelah kejadian satu tahun lalu. Meskipun hanya kebangkrutan perusahaan, tapi tentang beasiswa yang dicabut itulah yang membuat Arnando tidak bisa lupa. Sampai saat ini, kami semua belum sepenuhnya tahu siapa yang dengan teganya menjatuhkan ayahnya Gladista dan Arnando.

Bisa dibilang masih dalam pencarian. Ayahnya Gladista mencari pekerjaan sembari mencari tahu siapa dalang yang membuat perusahaannya bangkrut. Jujur saja, ayahnya Gladista pun belum menerima dengan penuh keadaan seperti sekarang.

"Iya sih, Bang." Kata Gladista begitu tak panjang, tanda ia sudah cukup lelah hanya untuk memikirkan ini semua. Bukan, bukan Gladista tidak bahagia dengan pekerjaan ayahnya. Namun, ia sedikit khawatir saja akan kedepannya.

°°°°°

Baru pertama sekali Gladista menaiki sepeda gunung yang notabenya sangat susah untuk dijalankan. Namun, karena dulu ia pernah mencoba memakainya untuk hari ini tidak terlalu kesulitan, meskipun setiap ia mengayuh sepedanya agak sedikit melonceng.

Sepeda gunung ini telah dibelikan ayahnya kemarin, kata ayah alasan membelikan Gladista sepeda adalah agar ia tidak merepotkan Arnando terus-menerus ketika harus berangkat bekerja. Tidak apalah, dengan kayak gini ia bisa sekalian berolahraga. Sudah sangat lama sekali ia tidak olahraga, bahkan untuk keluar dari rumah pun rasanya sangat malas dulu. Kecuali, memang kayak terpaksa diajak jogging oleh Christa ataupun Intan pas SMA.

"Gila enak juga naik sepeda kayak gini, kenapa gak dari kemarin aja ya naik sepeda? Kalo tahu rasanya kayak gini mah gak usah capek-capek minta Bang Ar suruh anter dan jemput gue kerja. Tapi, cape juga. Karena ini masih pagi capeknya gak terlalu terasa banget, gak nyangka aja bisa lihat langsung bangunan tinggi-tinggi disini. Kenapa gue jadi alay banget ya, bodohlah."

Sepanjang perjalanan ke kampus, Gladista hanya mengoceh bagaikan burung yang meminta makanan dari majikannya. Sepanjang perjalanan pun Gladista tidak henti-henti menatap setiap bangunan yang di samping kanan ataupun kiri yang dihiasi dengan pepohonan hijau nan lebat.

"Aaaa, indah banget. Tapi, bentar lagi sampai," kata Gladista.

Dimana-dimana kalo orang lakuin perjalanan dan bentar lagi sampai itu seneng, nah si Gladista malah mengeluh. Karena baru pertama kalinya Gladista memakai sepeda ke kampus, ia pun merasa kebingungan, harus parkir dimanakah sepeda ini?

Sebenarnya bisa saja parkir di parkiran tempat mahasiswa, toh umum juga. Namun, Gladista tidak terbiasa kesana sendiri. Jadi ya, agak sedikit malu. Duh, sejak kapan sih Gladista jadi pemalu?

Tanpa pikir panjang, Gladista mulai menggayuh sepedanya ke arah parkiran. Disana terdapat kendaraan motor dan mobil, jadi ia agak sedikit insecure menaruh sepeda di parkiran yang terbilang sangat luas sekali.

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang