14. Kebersamaan

1.1K 63 0
                                        

🎶 Play Song Kenangan Terindah — SAMSONS 🎶



"Semua orang pasti ingin selalu bersama dengan seseorang yang telah ia cintai. Hingga akhirnya, takut untuk berpisah nanti pada saatnya."

~ Dirgantara ~

Di hari libur ini seperti biasanya, Gladis yang pemalas hanya bisa merebahkan tubunya di atas kasur. Hingga nanti, rasa bosan menjemputnya. Namun, saat ia hampir memjamkan matanya suara pintu di depan terdengar. Berhubung, di rumah ia sendiri. Jadi, ia yang akan membukanya.

Masih dengan rasa kantuk, sampe menguap berkali-kali. Ia paksa berjalan ke depan untuk membuka pintu. Tak di sangka, Gladis memalukan sekali. Bagaimana bisa pangeran datang, di saat putrinya baru bangun tidur dari kamar?

"Dirga?" Gladis yang kaget pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Karena ia merasa malu dengan penampilannya, jadi ia biarkan saja metup wajahnya terus sampe Dirga bicara.

Dirga yang melihat tingkah Gladis sedikit tertawa, karena menurut Dirga itu sangat lucu. Kemudian, Dirga tidak ingin Gladis lama-lama menutup wajahnya. Cepat-cepat Dirga menarik tangan Gladis untuk berhenti membuat dirinya merasa malu.

"Pergi yuk," ajaknya dengan wajah gembira.

Setelah Dirga melepas tangannya, Gladis baru membalas. "Tumben?" tanpa ada kata malu sedikit pun. Karena ia yakin, pasti hanya di ketawai saja.

"Tumben apaan, udah yuk mau enggak? Gue tunggu o lima menit untuk siap-siap," ucap Dirga membuat Gladis gelagapan masuk ke kamar.

"Hah? Okeh-okeh, tunggu." Gladis pun langsung berlari dengan semangat menuju kamarnya. Tak di sangka, secepat kilat 'kencan' memang membuat semangat, walau sebenarnya tadi hanya malas-malsan.

"Dir," panggilnya dari samping.

Dirga yang sedang sibuk memainkan Hp-nya begitu kaget, melihat penampilan Gladis. Bagaimana bisa Gladis merubah sebelumnya yang terlihat acak menjadi, waw luar biasa menurut Dirga. Ia menatap Gladis begitu lama, sampai-sampai Gladis melambaikan tangan pun ia tak sadar.

"Ah–iyah." Arah mata Dirga langsung berpaling.

"Lo kenapa?" tanya Gladis dengan senyum jahilnya.

"Gak papa, ya udah jalan yuk," kata Dirgantara langsung menggandeng tangannya Gladis, lalu melangkah pergi.

Mereka pergi menggunakan motor, sedangkan Gladis yang hanya diam ketika menaiknya. Dirga menyuruh Gladis untuk berpegangan, namun Gladis sama sekali tidak mau. Dengan paksa Dirga menancapkan gas dengan cepat. Kemudian, Gladis refleks memeluk Dirga sangat kencang.

"Lo gila ya Dir, bisa-bisa gue mati nanti," ucap Gladis langsung melepas tangannya.

"Selagi lo di samping gue, lo bakal aman Dis," balasnya dengan sedikit tertawa senang.

"Rese lo Dir," Gladis memukul pundak Dirga.

"Aduh,"

"Makanya jangan kayak gitu," kata Gladis sewot.

"Gak janji ya?"

MAAF, GLADISTA (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang