"Merelakan sesuatu yang sudah terlepas, tidaklah mudah. Masih sangat jelas tersimpan, bagaimana bahagianya dulu, lalu tiba-tiba saja enuyh entah kemana. Siapa yang tidak kecewa? Tentu saja, ini membuatnya kecewa, sangat kecewa."
-Maaf, Gladista-
Lelaki kepala tiga itu belum saja menyerah. Beliau masih saja berjuang mencari pekerjaan yang terbaik untuk keluarganya. Sedangkan istrinya, kini sudah bekerja di sebuah toko. Namun, anak- anaknya masih saja diam. Yang satu selalu pergi dari rumah entah kemana. Dan satunya lagi sebagai adik masih berusaha mencari pekerjaan juga. Semuanya ingin bekerja, tidak ada yang kuliah. Seperti kalian tahu sendiri, Arnando ini dulu kuliah di Luar Negri mendapatkan beasiswa. Karena bangkrutnya perusahaan orangtuanya lah membuat Arnando menjadi kepikiran. Lalu akhirnya, nilai menjadi turun berturut-turut. Itulah sebab beasiswa kuliah Arnando di Luar Neri di cabut.
Hari berganti hari membuat Gladista merasa iba terhadap ayahnya juga terhadap ibu yang selalu berangkat pagi pulang malam. la tahu betapa lelahnya mereka setelah perusahaannya hancur. Bisa jadi ini adalah sebuah ujian atas kesalahan yang dulu kami tidak sadari.
"Ayah, gimana kalo kita buka toko atau restaurant Yah," ujar Gladista kepada Ayahnya yang sedang sarapan pagi.
"Gak usah, Dis. Biarin aja Ayah cari kerjaan yang bagus." Bukannya memberi kesempatan untuk Ayahnya menjawab, tapi Arnando seolah-olah melerainya. "Bener kata Abang kamu Dis, biar Ayah cari kerjaan di Kantor aja. Supaya tahun depan, kamu bisa kuliah."
"Jangan kayak Bang Ar, gak tamat kuliahnya." Sontak Gladista pun merasa kaget dengan ucapan Arnando. la tahu apa yang abangnya ucapkan itu benar. Tapi, juga salah seolah-olah bang Ar ingin ayah merasa bersalah terus-terusan.
"Bang!!" bentak Gladista menggebrak meja makan.
"Kok lo sewot sih Dis?!"
"Udah, jangan ribut. Bang, Ayah minta maaf yaa."
"Yah,"
"Ayah emang salah Dis, wajar kalo harusnya Ayah minta maaf. Abang ke kamar dulu!" setelah puas terhadap apa yang terjadi, Arnando langsung melenggang pergi ke dalam kamarnya.
"Dis, Abangmu belum sepenuhnya ikhlas dengan apa yang terjadi pada kita. Jadi, wajar saja jika Abangmu itu masih kecewa sama Ayah. Abangmu itu memang dari dulu pengin banget kuliah di Luar Negri, dengan beasiswa. Karena katanya, dia gak mau ngerepotin Ayah sama Bunda. Makanya pas dia lolos, dia seneng banget. Jadi maklum saja, dia masih marah sama Ayah, Dis. Karena kuliah di Luar Negri dengan beasiswa adalah impian Abangmu sejak dulu."
Gladista juga tahu dulu pas pengumuman kelolosan beasiswa reaksi Arnando sangat bahagia, bahkan sampai jingkrak-jingkrak tidak jelas di kamarnya. Tidak hanya itu, bang Ar pun berlari menemui Bunda, dan ia sendiri. Lalu, bang Ar pergi ke kantornya Ayah, hanya sekedar mengabarkan bahwa bang Ar lolos beasiswa kuliah di Luar Negri. Padahal, telepon juga bisa.
Namun, ia sendiri juga tidak tahu, kalau itu semua adalah mimpinya. Setelah Gladista melihat bang Ar berhasil lolos dan jingkrak-jingkrak tidak jelas, ia pikir itu biasa. Tapi ternyata itu adalah harapan yang bang Ar simpan hingga akhirnya tercapai.
"Nanti coba Gladista omongin Bang Ar baik-baik deh Yah. Gladista juga yakin kok, pasti gak lama kemudian bang Ar akan menerima semua ini. Lagian kan, ini bukan sepenuhnya salah Ayah. Salah Bang Ar juga dong, yang terlalu mikirin keadaan kita pas bangkrut, jadinya gak fokus belajarnya deh."
"Ya udah, Ayah pergi dulu ya," pamitnya pada Gladista.
"Iya hati-hati ya Yah," balasnya dengan mencium tangan kanan Ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Teen FictionPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
