"Dia suka memang membantu. Tapi tolong, peka juga perlu."
~ Dirgantara ~
Di kuburan...
Gak salah tempat kah Dirga, ngajak Gladis ke Kuburan? Ia masih tak percaya, ada apa sebenarnya. Banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, tapi melihat kondisi ia urungkan semenatara.
"Kenapa lo?" Gladis yang mendengar malah mengernyitkan dahi tak paham.
"Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo ngajak gue kesini?" Dirga balas dengan senyuman, seakan membuat Gladis kesel adalah tindakan yang menyenangkan.
"Gue mau ketemuin lo dengan seseorang." Jawab Dirgantara.
Seseorang?
Perkataan itu membuat Gladis penasaran. Apa seseorang itu sangat berharga bagi Dirga? Mengapa Dirga membawa ia ke sini. Padahal dirinya bukan siapa-siapa. Tak ia ambil pusing, langsung saja ia ikuti Dirga dari belakang.
Melihat kesepian di tempat ini, membuat Gladis berpikir. Seharusnya, ia bersyukur karena ia masih mempunyai keluarga lengkap. Tak perlu menangis histeris dengan kepergian bang Ar. Ia seharusnya memaklumi kepergian bang Ar ke luar negri. Karena bang Ar akan menuntut ilmu dan akan mewujudkan mimpinya.
"Dis." Panggil Dirga sembari nelihat batu nisan yang tertera di gundukan tanah.
"Iya."
"Ini... Ayah gue." Dirga mengucapkan dengan tatapan sendu pada Gladis.
"Ayah lo?" tanya Gladis masih tak percaya. Beruntung saja kemarin, ia sempet urungkan untuk tanya dimana ayahnya. Ternyata beliau telah tiada.
"Iya. Kita ziarah dulu ya, nanti setelah itu kita ke pantai." Ajak Dirga membuat Gladis sedikit tersenyum.
"Oke."
Dirga mengangguk.
Mereka pun sama-sama mendo'akan ayahnya Dirga. Dirga begitu terlihat sedih, melihat ayahnya yang sudah tiada. Tak ada yang bisa menebak takdir akan datang kapan. Yang hanya kita lakukan adalah memperbaiki amal kita. Karena kita tak pernah tahu kapan waktunya kita akan pulang.
Setelah semua selesai, Dirga mengajak Gladis ke pantai. Memang sudah lama Dirga gak ke sana. Dengan segala beban yang terlalu berat ia tanggung. Mungkin ini kesempatan ia untuk bisa mengeluarkan semua masalah yang selama ini ia pendam.
Pantai...
Tempat yang memiliki dua sisi keindahan, tetapi keduanya hanya bersifat sementara. Yaitu fajar dan senja. Keduanya sama-sama indah dan bersifat sementara. Mungkin yang membedakan adalah waktunya. Fajar datang di saat menjelang pagi, dan senja datang di saat menjelang malam.
"Dis, menurut lo senja itu apa?" tanya Dirga sembari menikamati pantai.
"Senja adalah sesuatu yang sangat indah, tetapi bermanfaat. Begitulah kata bang Ar." Kata Gladis sambil memandangi hp-nya. Ia membuka catatan yang ada di hp. Di situ tentang kata-kata yang ia buat bersama bang Ar.
"Gue tanya menurut lo, bukan menurut bang Ar!" Gladis yang mendengar begitu langsung menjauhkan hp-nya.
"Sama aja, itu juga menurut gue." Jawab Gladis cuek.
"Terserah! Tapi kalo menurut gue, senja itu sama kayak Ayah." Dari tatapannya, Dirga seperti kecewa.
"Ayah lo?"
"Iya lah. Ayah jahat! Sama kayak senja, dia hanya menunjukkan keindahannya sekejap, lalu secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala. Benci gue." kata Dirga.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Teen FictionPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
