Pergi, kembali, dan pergi selamanya.
Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan.
Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya.
Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
"Banyak yang bilang bahwa lelaki itu hampir sama semua. Namun, tidak dengan cinta pertama seorang anak perempuan, yaitu ayahnya."
-Maaf, Gladista-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dis," panggilnya dari belakang.
"Loh, Bang Ar disini?" Gladista yang sedang fokus mencuci piring pun sontak kaget melihat keberadaan Arnando di kantin.
"Sengaja, mau nyuri lo." Gladista memutar bola matanya malas, kemudian lanjut mencuci piringnya dengan bersih.
"Lia, mending kamu pulang saja tidak apa-apa. Lagian sebentar lagi selesai kok. Kasihan kakak kamu udah nungguin," kata bu Dian.
Sebenarnya, bu Dian juga sedikit heran, mengapa kakaknya itu memanggil adiknya dengan sebutan 'Dis' padahal dia memperkenalkan dirinya, dengan nama Lia. Namun, bu Dian tidak pikir pusing, mungkin saja itu panggilan di keluarganya.
"Duh Bu Dian, jangan gitu. Gak apa-apa, sebentar lagi ini, Bu." Entahlah Gladista juga tidak tahu, mengapa Arnando ini tiba-tiba saja menjemputnya.
"Dis," panggil Arnando sembari memutar-mutarkan kunci motornya, seolah-olah Arnando tidak ingin menunggu lama sampai lumutan.
"Ini, beneran gak apa-apa Bu Dian?" jujur saja, Gladista tidak takut dengan gajinya yang tiba-tiba dipotong, jika ia balik duluan. Namun, ia hanya tidak ingin bu Dian kelelahan. Cukup Gladista hanya merasakan sekali saja ibunya pingsan karena kelelahan. Tidak ingin kedua kalinya untuk melihat bu Dian yang jatuh sakit karena kelelahan juga.
"Udah, gak apa-apa, kan ada anak Ibu juga. Sana, udah tungguin itu." Tanpa menunggu lama, Gladista pun menundukkan kepalanya sebentar, tanda ia pamit pada bu Dian sebelum pulang.
"Hati-hati Kak!" seru anak bu Dian.
Sontak Gladista hanya melambaikan tangan kanannya ke anak bu Dian yang kini masih menemani. Jika ia pulang, tandanya butiran-butiran keringat ini akan cepat lenyap setelah air yang ia inginkan nanti telah menyentuh kulit Gladista.
Sore ini tampaknya sebentar lagi senja menghampiri, terlihat dari ujung barat matahari mulai tertutupi awan yang semenjak pagi cerah, tapi tidak kalah dengan teriknya juga.
"Bang, kenapa tiba-tiba jemput?"
"Ayah yang nyuruh."
"Beneran?"
"Ayah minta kita pulang cepat. Adik Abang ini ya, terlalu senang bekerja sampai chat Ayah pun di abaikan." Gladista yang tidak menyadari apapun pada benda pipihnya ini langsung mengambil untuk memastikan bahwa apa yang diucapkan Arnando benar.
First Love❤ Sayang, bisa pulang cepat?
Arnando benar. Ayah telah mengirimkan pesan beberapa jam yang lalu, tetapi Gladista tidak sama sekali merasakan getaran atau suara notifikasi pada HP. Kemudian, benar saja Gladista telah mengheningkan suara notif dan mematikan getarannya.