"Jangan hanya menatap iba pada seseorang di dekatmu. Namun, bantulah dia agar kau tidak terlarut dalam rasa ibamu itu."
-Maaf, Gladista-
Kantin di dunia perkuliahan ini sangatlah luas dibanding dengan yang ada disekolah. Jelas, tentu saja. Karena disini bukan hanya ratusan mahasiswa, tapi ribuan dari berbagai fakultas dan prodi. Sesuai permintaan Christa, bahwa dia mengajak Gladista ke kampusnya. Gladista berdecak kagum setelah mobil yang dia bawa mulai masuk ke gerbang utama kampus.
Begitu besarnya nan indah nama kampus terkenal yang terpajang di gerbang utama. Setiap perjalanan masuk membuat Gladista tak lepas memandang ke samping kanan dan kiri, banyak bangunan dan juga pepohonan yang sangat menarik di pandang. Bahkan jika ia jalan kaki dari awal masuk gerbang pun, ia akan rela, meskipun itu sangat jauh.
"Chris,"panggil Gladista.
"Iya?"
"Cantik banget."
"Gue tahu, Dis, gue cantik."
"Kampusnya, bukan lo!"
"Apa salahnya sih, lo bilang iya." Pernyataan itu hanya Gladista balas dengan buangan muka, ya ia terlalu asik memandang penghijauan di setiap jalannya di banding melihat sahabatnya sendiri yang ada disamping.
"Dah, sampe Dis. Lo mau sampe kapan, di dalem terus?" tanyanya membuat Gladista sadar, bahwa mereka sudah tiba di parkiran.
"Bawel lo!"
Sementara Gladista langsung membuka pintu mobil itu, lalu turun sesuai yang di perintahkan Christa. "Dimana kantin nya, Chris?"
"Lo laper, apa gimana, Dis? Lo nanya berasa gue kayak babu lo, deh." Ya, Christa tahu, dia sendiri yang mengajaknya. Namun, jadinya mereka bukan seperti sahabat, melainkan majikan dan pembantu.
"Diem lo! Suara lo pengin gue robek!"
"Eh, bentar Dis. Ini gue dapet notif, kalo dosennya masuk cepet hari ini," jelasnya Christa sebelum tiba di Kantin.
"Hm. Terus?"
"Lo, kesana sendiri ke Kantin, gak apa-apa kan, Dis?" tanya Christa sembari senyum tanda mengejek.
"Lo mau ngajak gue makan atau mau buat gue nyasar, di kampus lo?!"
"Ih, Dis, Kantin nya gak jauh kok, lo tinggal lurus, terus belok kanan, lurus lagi, dan belok kiri. Sampai deh," jelasnya membuat Gladista mengerutkan keningnya.
"Lo jelasin tanpa ngarahin, Chris. Mana bisa tahu," balasnya.
"Gak usah takut nyasar, disana banyak mahasiswa baik hati, lo tanya aja, Dis. Pasti bantuin kok. Gue ke kelas dulu ya, takut telat. Dadah, Distaa!!"
Lalu, kemudian Christa langsung melenggang pergi dari hadapan Gladista yang masih setia berdiri. Seketika pandangan Gladista langsung bingung, ia harus kemana dan akan bersama siapa nantinya. Apa selama perjalanan menuju ke Kantin, akan baik-baik saja? Atau malah sebaliknya.
"DASAR SETAN LO, CHRIS!!" seolah-olah Gladista langsung menutup mulutnya sendiri setelah berteriak tanpa memandang lingkungan sekitar. Kemudian, Gladista berjalan secepat mungkin untuk bisa ke Kantin. Bukan, karena ia sudah sangat lapar. Tetapi, karena ia malu. Bisa-bisanya ia meneriaki Christa yang sudah jelas jauh darinya tanpa melihat sekitar. Mau taroh dimana muka Gladista coba?!
Sepanjang perjalanan, Gladista tentu merasa sangat membosankan. Beberapa kali ia memandang mahasiswa yang berseliweran, tapi ragu untuk menanyakan sebuah tempat yang sangat Gladista ingin tanyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Roman pour AdolescentsPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
