"Kebersamaan itu sudah biasa, tapi jika merasakan
dengan hal yang pernah belum di rasakan,
rasanya luar biasa."
~ Dirgantara ~
Cuaca hari ini tidak seperti biasanya. Matahari terlalu terik di pandang. Hingga Gladis tidak mampu bertahan yang kini sedang dalam perjalanan bersama Dirga. Sekarang ia tidak tahu akan kemana sebenarnya. Karena sedari tadi, ia sudah bertanya berkali-kali. Tapi, Dirga malah jawab 'entar lo tahu' kan nyeselin.
Saat itu juga tidak sengaja Gladis melihat pedagang gantungan kunci. Dan kebetulan sekali, mereka imut-imut. Wah, kesukaan Gladis. Mata berbinar langsung menyertai, ia tidak tahan lagi jika hanya sekedar melihat saja. Ia harus beli.
Gladis akhirnya meminta Dirga untuk berhenti. "Stop!!" kata Gladis sembari menepuk-nepuk pundak Dirga.
"Ada apa?!" Dirga yang sedang menyetir pun kesel, tiba-tiba Gladis menyuruh berhenti.
"Lo, lihat itu gak?" setelah motornya berhenti, Gladis menunjukkan pedagang gantunga kunci. Tepatnya berada di seberang ujung sana. Tandanya mereka harus menyebarang.
"Kenapa?" tanya Dirga tak paham.
"Gue pengin beli..." Gladista mulai merengek pada Dirga macam anak kecil. Hingga ia tunjukkan dengan mata yang berbinar macam upin dan ipin.
"Ya udah, beli sana!" bukannya mau di anterin, malah suruh ke sana sendirian. Tidak apa, asal Gladis beli.
"Hm... lo mau nungguin?" tanya Gladis memastikan.
"Hm!"
Lantas Gladis langsung turun dari motornya Dirga. Kemudian ia celingak-celinguk ke kanan-kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Langsung saja, ia menghampiri pedagang gntungan kunci. Sesampai-nya di sana, gantungan kunci yang ia cari tidak ada. Padahal ia ingin sekali gantungan kunci BT21. Mereka lebih imut. Tetapi, di sini masih ada Hello Kitty.
Gladis pun bertanya, pada para pedagannya. Dan katanya bener gak ada. Jadi inget waktu dulu sama bang Ar.
Jadilah orang yang murah senyum, jadi gak gampang sedih. Dan orang yang memandang pun seperti di hadapan kita. Imut kaya Hello Kitty, BT21.
Itulah kata-kata bang Ar, setiap kali melihat benda yang comel pasti kangen sama bang Ar. Kira-kira di sana lagi ngapain ya? Apa bang Ar gak kangen sama Gladis? Kata Gladis dalam hati.
Dirgantara tidak tahan nunggu lama-lama. Akhirnya ia menyalakan motornya, berniat menghampiri Gladis. Seharusnya tadi gak usah di ijinin, kalo ujungnya lama. "Udah belum?" tanya Dirga.
"Belum, gue lagi nyari yang paling imut." Dirga memutar bola mata jengah. Bahkan, menurut Dirga tidak ada sama sekali yang imut, mereka hanya benda mati.
"Dir, memurut lo imut yang mana? ini atau yang ini." tanya Gladis sambil memegang dua gantungan kuci Hello Kitty yang, keduanya sama-sama lucu.
"Ter-se-rah!!"
"Orang kalo minta pendapat tuh, kasih pilihan. Bukan malah bingungin." Gladista mulai menurunkan gantungan kuncinya dengan perasaan sedih. Tinggal pilih aja susah.
"Sebelah kanan lo." Tiba-tiba Dirga menjawab.
"Kenapa yang kanan?" tanya Gladis ingin mengetahuinya.
"Bawel lo, paling lucu menurut gue!!" kata Dirga ketus.
"Oh ya? ya udah deh." Akhirnya Gladis lebih memilih di sebelah kanan.
Gladis pun langsung membayarnya. Dan tanpa aba-aba dari Dirga, ia menaiki motornya. Benar, Dirga sama sekali tidak penasaran, mengapa ia membelinya. Padahal menurut Galdis, ini patut di tanya.
Selama perjalan seperti biasa hanya diam yang menemani, tanpa sebuah kata. Jadi bosen kan Gladis. Masa harus Gladis yang mulai pembicaraan? Mana mungkin.
°°°°°
Gladis kebingungan dengan Dirga. Dia membawanya ke rumah, entah ia tak mengerti rumah siapa ini. Yang jelas bukan rumah Gladis, iyalah wong arah jalannya aja beda. Dan baru ingat.
Bukannya, semalam ibunya Dirga minta ke rumahanya? Dan, apa jangan-jangan ini dia. Wah, Dirga Ngejak ribut ternyata!
Di samping rumah Dirga, sedari tadi ada yang memerhatikan mereka. Saat Gladis meliriknya, ternyata itu Kerlyn. Pantas saja, mereka bersahabat. Wong mereka tetangga.
"Dir, lo tetanggaan sama Kerlyn?" tanya Gladis yang hanya di jawab anggukan olrh Dirga.
"Masuk!"
"Jadi, bener ini rumah lo?" tanya Gladis, sambil mencari Tari.
"Iya."
"Tente Tari mana?" Gladis yang masih melihat-melihat tak sadar ternyata ada Tari di dapur.
"Di dapur." Dirga pun langsung menemui ibunya di ikuti Gladista di belakangnya.
"Assalamualaikum Tante." salam Gladis yang baru saja menemui Tari.
"Wa'alaikumsalam."
"Tente jualan?" tanya Gladis, sambil menengok ke Dirga yang sedang duduk di sampingnya. Lalu Dirga malah mengarahkan matanya ke Tari.
"Iya, kamu namanya siapa ya?"
"Gladista."
"Oh ya, Tante ngundang kamu kesini, hanya ingin minta maaf, soal kemarin." Gladis pikir ada apa? Ternayata iti doang.
"Yang kemarin, gak usah di bahas lagi Tan." Kata Gladis tak ingin lagi membahasnya.
"Tapi kamu gak di apa-apain kan sama Kerlyn di sekolah, soalnya Tante dengar dia masuknya ke kelas Dirga." Segitunya Tari khawatir sama Gladis. Tapi, tidak mungkin juga ia harus jujur.
"Hm... Gak kok Tan. " Gladis bohong, tentu saja. Walau sebenarnya, ia marah di bilang ia sebagai perebut.
"Syukur deh. Oh ya bentar lagi kan makan siang, Gladis makan disini ya." Ajak Tari.
"Boleh deh bu, abis di rumah sepi." Tari menatapnya dengan rasa iba.
"Kenapa?"
"Bang Ar Kuliah, sedangkan Bunda pergi ikut arisan. Ayah kerja, jadilah Gladis sendiri di rumah." Gladista mengatakan sejujurnya, karena ia tak akan kehilangan momen ini. Sudah lama juga, ia tidak makan bersama.
"Kalo gitu, Tante masak dulu ya." Tari mulai akan menyiapkan bahannya.
"Tante mau masak apa? Gladis bantuin yah?"
"Boleh."
"Bu, Dirga ngapain?" Dirga kebingungan.
"Irisin bawang nih."
Dirga pun langsung menuruti kata Tari. Sebenarnya Dirga sudah biasa bantu-bantu masak, tapi kali ini malah jadi bagian iris bawang. Biasanya kan yang goreng-goreng.
Namun, setelah Dirga melihat ikan. Ia jadi takut. Pastas saja ibu menyuruh Dirga iris bawang. Ya, dia takut goreng ikan. Bukannya matang, malah jingkrak-jingkrak kerakutan.
"Tan." Panggil Gladis.
"Iya?"
"Dirga cuek ya?" tanya Gladista tanpa menoleh Dirgantara.
•••
Note : Ramaikan tiap paragraf, bisa menambahkan mood. Juga menambah rasa penasaran.😄
⚠Ada Typo, wajib komen!!
Don't forget Voment :)
👇👇
TBC
💚 Selamat Hari Santri 💚
• Santri Sehat Indonesia Kuat •
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Novela JuvenilPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
