Pergi, kembali, dan pergi selamanya.
Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan.
Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya.
Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
"Dari kita semua ada satu hal yang telah mereka inginkan. Yaitu, bahagia. Ingin bahagia bersama mereka yang kini telah menyayangi kita. "
-Maaf, Gladista-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kini kantin sudah menjadi tempat keseharian Gladista untuk bekerja setiap hari. Ia berangkat dari rumah setiap pagi, dan pulang di sore hari tepat jam 17.00 WIB.
Pada saat jam 08.00 sampai dengan jam 09.00 WIB. kantin lumayan sepi. Karena kebanyakan dari mahasiswa sedang ada mata kuliah. Mereka akan keluar sekitar jam sembilan ke atas, baru nanti kantin kembali ramai, yang artinya Gladista harus siapkan tenaga untuk bolak-balik mengantar pesanan.
Semua mahasiswa disini sudah ia kasih tahu, bahwa nama dirinya bukan Gladista, melainkan Lia. Ya, Gladista menggunakan nama samaran, dengan tujuan mereka yang berasal dari sekolah yang sama dengan Gladista tidak mengenalinya.
"Lia, sudah istirahat saja dulu mumpung kantin tidak terlalu ramai!" perintah bu Dian setelah mencuci piring dengan bersih.
"Ya udah, Bu. Bu Dian juga istirahat ya, nanti biar saya aja deh yang cuci piring untuk keduanya." Gladista juga tidak ingin melihat bu Dian kelelahan. Hal itu mengingatkan ia kepada sang ibundanya yang baru saja keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Iya, Ibu mau ke belakang dulu ya." Gladista mengangguk sebagai balasan ia menyetujuinya.
Ia melihat sekeliling di sekitar kantin, cukup banyak mahasiswa yang bersenda gurau, bertukar cerita dan cukup banyak mahasiswa yang hanya berdiam sembari makan. Jujur, Gladista sangat merindukan momen dimana ia bersama dengan sahabat-sahabatnya.
Gladista kangen dengan senyum mereka, baik Christa dan Intan. Gladista kangen bertukar cerita dengan mereka. Kangen dengan candaan mereka. Kangen juga bepergian dengan mereka. Namun, sayangnya kita saat ini mempunyai kesibukan masing-masing. Entah kenapa, akhir-akhir ini Intan sangat sulit hanya sekedar untuk bertemu.
"Gue bener-bener kangen banget sama mereka. Sampai gue pengin peluk diri gue sendiri, sebagai bentuk obat rindu gue sama mereka. Ya meskipun baru kemarin ketemu Christa, tapi rasanya kayak udah gak ketemu beberapa tahun yang lalu. Chris, gue kangen lagi sama lo dan juga Intan," gumam Gladista tanpa ssadar mengeluarkan menak air mata yang sudah menggenang sejak tadi.
Flashback on
Christa yang sadar sedari tadi hanya diam, akhirnya dia mulai membuka suara dengan topik tentang pelajaran di esok hari. "Eh, kalian besok mau pada berangkat gak? gue males banget sumpah, ketemu matematika. Pengin gak berangkat ajalah besok, pura-pura sakit." Intan yang setuju dengan ucapan Christa pun hanya mengangguk lantaran dia sedang makan.
"Jangan gitulah, Cris. Gue tetep mau berangkat!" tegasnya Gladista.
"Halah, berangkat apa? Umroh? Matematika aja lo pinjem catetan di gue terus." Seketika Gladista hanya cengengesan menanggapinya.