"Entah apa yang mereka akan pikirkan
dan katakan, karena aku hanya melakukan apa yang aku mau."
~ Dirgantara ~
Saat kelas XII SOS2 telah selesai pemilihan struktur organisasi, semua murid pun berbondong keluar. Ada yang ke kantin, perpustakaan, ada juga yang ke masjid untuk beribadah. Bahkan ada yang hanya sekedar keliling Sekolah.
Kini Dirga dan dua sahabatnya, memilih ke kantin dari pada mereka harus di kelas, hanya bermain handphone. Pada saat mereka sudah sampai, ternyata sudah penuh semua tempat duduknya. Dan hanya tersisa tiga kursi, yaitu di tempatnya Gladis dan dua sahabatnya itu.
Tidak ada pilihan lain, Dirga dan dua sahabatnya pun langsung menghampirinya, dari pada mereka harus bingung kelaparan dan gak ada tempat duduk.
"Dis, Kita duduk disini ya?" tanya Joval meminta persetujuan dari Gladista dan teman-temannya.
"Ya udah, tinggal duduk aja masih kosong tiga tuh, pas untuk kalian." Jawab Gladista setuju.
"Okeh, makasih Gladista cantik." Setelah Joval mengucapkan terimakasih pada Gladis. Ia lebih memilih duduk di dekat Christa, biasa mau modus!
"Ngapain lo duduk deket gue?" tanya Christa sewot.
"Pengin aja." Jawabnya sambil menaikkan alis.
"Tapi gue gak mau, mending pesen makanan dulu sana." Pinta Christa pada Joval. Tapi, sepertinya ucapan Christa gak mempan sama dia. Joval malah fokus lihatin Christa mulu, mana gak kedep-kedep lagi. Ish, bikin gak nyaman aja.
"Gak. Garran aja sana yang pesen, nanti malah ada yang dudukin di sini lagi." Kata Joval tak menuruti perkataan Christa. Malah nyuruh Garran.
"Emang Garran mau?" tanya Christa memastikan sambil mengedipkan mata ke Garran. Agar Garran tidak mau.
"Mau kok, iya gak Garr?" sekarang malah Joval balik tanya sambil mengedipkan matanya ke Garran. Sama kayak yang Christa lakuin sebagai kode, bahwa Garran harus mau.
Garran pun hanya menghela napas dan memutar bola mata malas. Bingung harus milih si Christa apa Joval. Akhirnya, ia lebih memilih Joval. "Iya deh." Pasrah Garran.
"Gue temenin ya?" Intan yang takut jadi nyamuk pun, akhirnya lebih memilih ikut Garran ke kantin.
"Hm... boleh deh."
"Yeeee," teriak Intan sambil tersenyum puas dengan menggerakkan tangannya, seperti sedang bertepuk tangan. Seketika senangnya bukan main.
Tidak menunggu lama, pesenan mereka datang juga. Intan pun bantu membawanya, karena bu Siti—penjaga kantin sedang melayani murid yang sedang mengantri. Beginilah pertama masuk sekolah, semua kelas bebas, guru masuk pun paling hanya memperkenalkan diri dan membuat struktur organisasi seperti tadi. Dan terkadang pun masih ada yang gak berangkat alias libur sendiri.
Saat makanan langsung datang, Joval langsung meraih minumannya, yaitu teh anget. Waktu Joval meminumnya, ia langsung mengibas-ngibas lidahnya. "Lo kenapa?" tanya Christa.
"Ini teh udah panas, pahit lagi." Kata Joval yang tak tahan dengan panasnya teh ini. Jangan-jangan ini air baru di angkat dari pancinya. Pikir Joval.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Teen FictionPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
