22. Cetak Foto

83 5 0
                                        

Hallo Caa, update lagi kuyy

Vote dan koment yang banyak ygy😍

"Ku merasakan ini berulang kali, sampai ku bertanya pada diri sendiri, apakah dia merasakan hal yang sama denganku?"

-Maaf, Gladista-

Beruntunglah Gladista masih menyimpan beberapa foto dibenda pipihnya. Dari beberapa foto yang lumayan banyak ini akan ia cetak. Ya, bisa dibilang bahwa Gladista sedang rindu dengan setiap moment yang ia foto. Dari situ banyak sekali yang ingin ia ulang waktunya. Namun, yang seperti kita tahu bahwa waktu tidak dapat diputar kembali, jika sudah maju dia akan terus maju, tidak akan pernah bisa mundur atau kembali. Dan jika memang bisa kembali itu hanya terjadi dalam drama-drama saja yang sering Gladista tonton dibenda pippihnya.

Cuaca hari ini cukup gelap, meski hujan belum datang sama sekali. Tapi, ia yakin cepat atau lambat, sudah atau belum ia sampai pada tempat cetaknya, hujan akan segera tiba. Firasat yang baru saja buruk ia pikirkan, tapi ia yakin bahwa hampir semua orang akan berpikir seperti itu.

Jangan kalian bertanya uang darimana Gladista bisa mencetak foto, yang pasti ia belum sama sekali dapat pekerjaan. Lalu, ia menggunakan uang tabungan yang ia simpan beberapa tahun yang lalu. Entah karena alasan apa ia mencetaknya, yang jelas ia hanya igin mencetak tanpa ada alasan. Mungkin saja ia rindu bermain denga mereka.

"Dis, rapih banget, mau kemana?" tanya Arnando yang baru saja keluar dari kamarnya, lalu melihat adiknya yang sudah duduk diluar rumah entah mau kemana.

"Bang Ar, Gladis boleh pinjem motornya?" tanya Gladista dengan raut wajah penuh keraguan.

"Gak!"

"Kenapa?"

"Mau hujan Dis, lo mau kemana mendung-mendung gini, mending dirumah aja." Sebenarnya, Gladis masih bingung dengan kejadian semalam bang Ar jadi perhatian. Bukannya ia tidak merasa senang, hanya saja ia ingin tahu alasannya.

"Bang, gue masih bingung deh kenapa Bang Ar semalam berubah jadi perhatian? Kan awalnya Bang Ar benci sama Gladista. Iya kan Bang? Bisa jelasin, kenapa?"

"Gak! Gak bisa."

"Bang Ar aneh banget sih Bang, kenapa jadi kaku gini coba?" Ya, Gladista bisa lihat dari mimik wajahnya yang terlihat kaku, seperti ketakutan sesuatu, tapi entah itu apa.

"Udah-udah katanya lo mau pinjem motor? Sana pergi!"

"Jadi, diijinin nih?"

"hm."

Alhasil kunci dengan beberpa gantungan itu langsung diambil paksa Gladista yang awalnya berada ditangan Arnando. "Adik sialan." Umpatanya Arnando.

Setelah Gladista pergi bersama motornya Arnando. Kemudian kakak dari Gladista itu buru-buru mengambil jaket di kamar, lalu berlari entah kemana. Mungkin saja mengejar Gladista, atau ada hal lain yang akan Arnando urusi.

"Ya, gue bentar lagi kesana. Ini lagi jalan," katanya dalam telepon, entah itu adalah teman dekat atau siapa yang sukses membuat Arnando menurutinya.

°°°°°

Mungkin saja, Gladista harusnya bahagia bukan, melihat kakaknya telah berubah menjadi baik. Namun, ada hal lain yang ingin ia ketahui, alasan apa yang membuat bang Ar menjadi seperti dulu. Karena, setelah Gladista pikir, tidak mungkin ia berkata sakit, dan bang Ar akan berubah jadi baik. Itu semua pasti ada alasannya, dan ia akan cari tahu secepat mungkin.

Di tempat cetak ini cukup rame, meskipun cuacanya tidak mendukung, tetapi tidak menutup kemungkinan di beberapa tempat akan sepi. Jujur saja, Gladista kesusahan mencari tempat duduk saking banyaknya orang yang berada di tempat cetak ini.

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang