Hai, maaf yaa Caa, telat:)
Jangan lupa vote dan koment nyaa❤
"Percaya tidak percaya, setiap pertemuan pasti ada kalanya berpisah, entah itu cepat ataupun lambat."
-MAAF, GLADISTA-
°°°°°
Hari sudah berganti, waktu sudah berganti, bahkan malam sudah berganti pagi. Tidak ada tanda-tanda bahwa abangnya Gladista pulang. Ya, semenjak kejadian kemarin, Gladis rasa abangnya semakin membenci. Bukan hanya pertemuan yang tiba-tiba saja, mungkin juga karena perkataannya yang ia tidak bisa tahan. Lalu, mau gimana lagi?
Gladis berpikir bahwa abangnya tidak seperti itu, dia hanya menyesal dengan beasiswa kuliahnya yang di cabut. Abangnya ini tipikal orang yang apa-apa di pikirin, jadi wajar saja pada saat Gladista memberi kabar buruk tentang perusahaan ayah, nilai bang Ar tiba-tiba turun, dan berakhir beasiswanya di cabut. Sungguh menyedihkan!
Namun, Gladista percaya, bahwa ini tidak akan lama. Ini hanya sebentar. Tuhan mengujinya, karena kita sebagai manusia sadar akan kelalaian pada-Nya.
"Huh, gue masih penasaran nih Pal, sama ceweknya. Kira-kira dia siapa ya?" tanyanya Gadista dalam telepon.
"Pacar, mungkin Dis."
"Nggak! Bang Ar nggak boleh punya pacar dulu."
"Loh, kenapa Dis?"
"Ya, gue dulu lah. Kalo misal bang Ar udah ada, gue kesepian Pal." keluhnya pada Joval.
"Bukannya tiap hari lo kesepian ya?"
Tutt.
"Kenapa sih lo ngeselin banget Pall?!" katanya sambil melempar HP ke kasur.
Pagi ini Gladista masih saja didalam kamar, ia tak berani untuk keluar dari kamarnya. Karena, orangtua-nya pasti akan bertanya tentang keberadaan abangnya. Sungguh merepotkan anak lelaki satu ini! Kenapa dia tidak berpikir lebih dewasa dari dirinya? Huh, abang macam apa dia!!
"Apa gue barusan ngatain bang Ar? Lo bener-bener berubah Bang. Dan gue kesel banget sama lo. Entah kenapa gue nggak bisa bilang 'benci' sama lo. Karena gue tahu, lo nggak mungkin seperti ini tanpa ada alasan." Ucapnya bermonolog sembari memandang dinding yang bernuansa putih dengan tatapan kosong.
Gladista masih sangat penasaran dengan perempuan itu semalaman. Karena setahu ia, abangnya ini tidak pernah cerita tentang perempuan yang dia sukai. Atau mungkin, karena Gladista yang terlalu banyak cerita, hingga bang Ar tidak ada waktu untuk cerita ke Gladista?
"Kenapa pagi-pagi ini sudah bikin pusing sih?!" Gladista mengacak rambutnya frustasi.
"GLADISTA KELUAR, AYOK SARAPAN!!"
Gladista hanya bernapas gusar setelah mendengar teriakan nan merdu itu dari suara ibunya. "IYA, GLADIS BAKAL KELUAR."
•••••
Cuaca yang tidak mendukung, tidak ia kira bahwa hari ini, tepat di sore hari awan akan berubah menjadi abu yang sangat gelap. Langit yang awalnya membiru, perlahan tertutupi oleh awan yang sudah berubah menjadi hitam.
Entahlah, akhir-akhir ini cuaca tidak sesuai dengan perkiraannya. Jadi, sudah tidak ada gunanya untuk selalu cek ulang cuaca hari ini di benda pipih yang selalu di bawa ke mana-mana.
"Huh, gue ke pantai lagi. Entah kenapa, gue nggak bisa lupain pantai, terlalu banyak kenangan indah yang gue lalui. Terlalu banyak percakapan yang selalu dia ucapkan, meskipun terkadang terdengar menjengkelkan. Namun, ternyata itu semua menyisakan rindu. Ya, gue kangen banget sama lo Dir. Kapan lo bisa ketemu gue lagi? Kapan lo bisa ngajak gue pergi lagi? Kapan lo bisa cerita sama gue lagi? Waktu kita untuk bersama sangatlah singkat, untuk dijalani. Sangatlah cepat berlalu. Gue pengin balik kayak SMA lagi, gue rindu kita sekolah, gue rindu kita berangkat bareng, dan gue rindu disaat lo mulai peduli sama gue. Sangat gila hari ini gue gara-gara lo Dir. Gue-"
"Cukup, Dis!!"
"Kerlyn?" GLADISTA tidak sadar bahwa di sampingnya sudah terdapat seorang perempuan yang dulu suka sekali mencari masalah, hanya karena Dirga.
"Dis, lo juga butuh bahagia. Nggak ada gunanya lagi, kalo lo terus mikirin Dirga. Nggak ada manfaatnya, kalo lo terus mikirin masa lalu, terus berandai-andai pengin balik kayak dulu lagi. Semua orang pasti punya kenangan di masa lalunya, Dis. Tapi, buat apa, kalo kita terus memikirkan yang sudah terlewat? Buat apa Dis? Bukankah, itu hanya membuang waktu saja? Dis, yuk bangkit lagi. Kamu butuh kebahagiaan, tidak harus dengan Dirga. Ayoklah bahagia, dengan siapapun. Bahagia itu di ciptakan, bukan dicari. Jadi, kalo kamu ingin bahagia, ketika Dirga pulang, sama saja lo nyiksa diri lo sendiri, Dis!"
"Kerlyn, sejak kapan lo disini? Hm, lo ngagetin gue aja, Rin." Kerlyn terus memandang Gladista yang kini sedang duduk di bawah pasir halus itu, sedangkan dirinya masih berdiri menunggu hujan turun.
"Dis, berdiri."
"Apa?"
"Perlu gue bantu, untuk berdiri?"
"Gue bisa."
"Okey."
"Ada apa?"
"Kita tunggu saja hujan turun ini dengan berdiri disini."
"Hah, ngapa-aduh, kita harus lari Lyn, ini deras banget." Gladista yang sudah menarik-narik lengan Karyn ini susah payah, karena dia belum mau juga melangkah untuk pergi dari tapi pantai.
"NGGAK DIS, NGGAK!! KITA HARUS HUJAN-HUJANANN!!" Kerlyn sengaja berdiri, karena dia tahu sebentar lagi hujan akan turun. Dan ternyata memang benar, hujan turun dengan sangat deras.
"LO GILA LYN? LO BISA SAKIT NANTI."
"DIS, LO MASIH INGAT GUE TADI BILANG APA?"
"APA?!"
"GUE TADI BILANG, KALO BAHAGIA ITU HARUS DI CIPTAKAN, BUKAN DI CARI. JADI, MARI KITA BAHAGIA DENGAN HUJAN DI TEPI PANTAI INI."
"TA, TAPI LYN, LO BISA SA-"
"AYOK KITA LARI DIS!!" Di Pantai itu, Kerlyn langsung menarik tangan Gladista untuk berlari menuju ujung Pantai, mereka menikmati bersama dengan ombak yang berkali-kali menghampiri kaki mereka.
Hujan yang baru saja turun ini, belum juga terasa mau reda. Masih deras, hingga mata mereka berdua perlahan memerah, akibat air hujan yang lumayan deras. Tidak peduli seberapa basah dan lembapnya mereka, yang mereka lakukan hanyalah kebahagiaan. Meskipun dulu pada saat sekolah, mereka tidak terjalin dengan hubungan yang baik. Namun, Gladista tetap bersyukur telah di pertemukan dengannya. Dan ia percaya, bahwa seburuk apapun manusia pada kita, pasti ada sisi baik di dalam hatinya, meskipun hanya sebiji kacang hijau.
"KERLYN, KENAPA LO BISA TAHU GUE DISINI?"
"GUE TADI KERUMAH LO DIS, TAPI LO NGGAK ADA, DAN KEBETULAN AJA GUE KE PANTAI, TERNYATA LO ADA DISINI. ADA YANG MAU GUE KASIH KE LO DIS!!"
"APAAN?"
"SESUATU, PUNYA DIRGANTARA."
"PUNYA SIAPA?"
"DIR-GAN-TA-RAA."
Setelah itu, Gladista hanya diam membisu, tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Tangan ia yang awalnya sibuk dengan ombak di tepi laut, kini terhenti. Semua mendadak menjadi canggung. Gladista hanya bisa diam, serta memikirkan apa yang akan Kerlyn berikan untuk ia dari Dirga.
"KERLYN."
"IYA?"
"KENAPA LO DULU SUKA SAMA DIRGA?"
"DIA SAHABAT GUE DIS PAS SMP. GUE SELALU PERHATIAN SAMA DIA, TAPI DIA MALAH CUEK TERUS, NGGAK PERNAH MAU KALO DIAJAK JALAN SAMA GUE. TAPI, GUE BERSYUKUR, AKHIRNYA LO BISA BUAT DIA JATUH HATI SAMA LO, DIS. GUE YAKIN, DIRGA NGGAK BAKALAN LUPA SAMA LO, MESKIPUN DIA JAUH."
"KENAPA LO JADI BAIK SAMA GUE LYN? BUKANNYA DULU LO BENCI, SAMA GUE?"
"GUE EMANG BENCI SAMA LO DIS, TAPI KALO LO BISA BUAT DIRGA BAHAGIA. BUAT APALAGI GUE BENCI?"
•••••
FOLLOW IG :
@yuliatul_asy
@katafiksi67
@katalia286
See youu Caa❤
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Ficção AdolescentePergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
