35. Siapa Dia Sebenarnya?

69 5 0
                                        

"Entah bagaimana rasa salahmu, hingga akhirnya kau mengulangi kesalahan yang sama."

-Maaf,Gladista-

Ombak yang terus beradu tak pernah bosan Gladista lihat. Pasir yang ia injak dan terus langkahi juga tak pernah bosan Gladista rasakan. Sensasi, udara dan suasananya begitu sangat menenangkan. Gladista terus melangkahkan kakinya di pinggir pantai, sedikit terkena ombak air, namun tak dapat membuat Gladista berhenti berjalan.

Hingga akhirnya Gladista berhenti tepat matahari mulai menampakkan wujudnya, ini benar-benar sangat indah. Langit yang mulanya hanya terlihat biasa, kini tampak takjub ketika matahari mulai mengeluarkan cahayanya.

Warna orange dan jingga kini menyatu meski nantinya akan hilang kembali. Awan yang tadi tidak nampak, sekarang terlihat sangat jelas bahkan bentuk-bentuknya terlihat unik. Sungguh nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Gladista yang tidak ingin melewatkan keindahan pantai, ia mulai mengambil beberapa gambar yang ia poto menggunakan benda pipihnya. Setelah beberapa pemandangan ia poto, lalu Gladista mulai menjauh dari tepi pantai berniat duduk di pasir putih sembari menikmati sunset yang mungkin sebentar lagi akan menghilang.

Gladista duduk tanpa alas lalu menselonjorkan kakinya sembari melihat hasil beberapa jepretan yang sempat ia lakukan. Tidak begitu banyak yang Gladista ambil, hanya ada satu yang menurut ia patut di pamerkan pada semua orang, bahwa bangun lebih pagi ke pantai lebih menyenangkan dibanding masih terlelap dalam dekapan kasur, sehingga berguling-guling tiada tujuan.

Ya, Gladista ingin mengubah dirinya menjadi lebih produktif, sekalipun rasanya sangat malas, ia pun tetap saja untuk berusaha bangkit menyusun apa saja yang harus dilakukan hari ini.

Gladista membuka benda pipihnya, lalu membuka aplikasi notes, disana ia sudah mencatat beberapa point yang harus ia laksanakan hari ini juga dengan bertujuan agar ia terlihat sibuk dan tidak terlalu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan dan tidak penting.

To do list
•Ke Pantai
•Ke Alun-Alun
•Ke Pasar
•Masak
•Makan bersama

"Sejak kapan ya gue kayak gini, tapi gak apa-apa deh, dengan kayak gini gue lebih hidup dari sebelumnya."

Waktu Gladista di Pantai ini tidak begitu banyak, ia berpikir bahwa sebentar lagi harus pergi dari pantai, lalu menuju ke Alun-Alun. Ia tidak akan bertemu siapa-siapa, hanya saja Gladista ingin jalan-jalan, pasti weekend ini rame.

Dulu memang sering jalan jauh-jauh dari kota, kemudian baru ini Gladista sadar bahwa ternyata di sekitar tempat tinggalnya ini jauh lebih indah dari pada harus pergi ke luar kota, ke luar negri, itu sungguh sangat melelahkan. Jika disini saja ada, mengapa harus capek-capek pergi jauh-jauh yang hingga akhirnya akan balik ke tempat yang sama.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.05 WIB. Dengan segera, Gladista bangkit dari duduknya menyudahi pemandangan indah di Pantai. Namun, pada saat ia sudah berdiri ia samar-samar melihat sosok lelaki di pinggir Pantai sana. Sungguh bentuk punggungnya sangat familiar Gladista lihat.

Ingin sekali Gladista menghampiri lelaki itu dan melihat wajahnya, tetapi Gladista pikir buat apa juga, ini pasti akan membuang-buang waktu saja. Ya, Gladista pikir akan sia-sia nantinya. Lagian siapa sih yang Gladista harapkan dari lelaki itu hingga akhirnya ingin menghampiri?

Sudahlah. Ia harus bergegas dari Pantai ini, sekarang sudah tidak aman dan membahayakan hati Gladista yang kekeh ingin melihat si wajah lelaki itu.

°°°°°

Gladista pergi ke Alun-alun menggunakan sepeda, ya dari rumah ke Pantai juga naik sepeda. Entahlah, Gladista juga tidak tahu mengapa sekarang sangat hobi sekali naik sepeda, dan bingungnya sampai gak kenal capek.

"Bingung deh, gue mau ngapain disini. Mana yang lain pada bawa pacar lagi, kalo gak pacar pada bawa keluarga. Terus yang sendirian cuma gue gitu? ck, sungguh malang sekali Gladista."

Karena Gladista tidak tahu harus ngapain disana, akhirnya ia memilih bersepeda disekitar Alun-alun kota. Memang terlihat sangat ramai sekali, tapi tidak apa, dibandingkan ia hanya duduk seorang diri tidak ada teman.

Awalnya ia ingin mengajak Christa ataupun Intan, tetapi karena mereka akhir-akhir ini sibuk kuliah, bisa jadi hari minggu adalah hari untuk mereka istirahat total tanpa mau di ganggu.

"Duh, capek ah!" Gladista menghentikan sepedanya, kemudian mengambil sebotol aqua untuk di teguk ke dalam tenggorokan yang sudah kering ini.

"Mbak, itu bannya kempes, gak sadar apa?!" celetuk ibu-ibu membuat Gladista menghentikan tegukan aqua dalam tenggorokannya.

Gladista yang sadar akan teriakan ibu-ibu itu refleks melihat ke arah belakang memastikan apa yang dikatakan ibu tadi benar. Kemudian benar saja, ban belakangnya kempes, Gladista tidak tahu pasti itu kempes atau bocor, yang pasti ia sangat kebingungan, mana bengkel dari Alun-alun lumayan jauh.

"Biar gue bantu," ucap seorang lelaki yang tiba-tiba saja muncul depan Gladista.

Namun, dengan Gladista amati, sepertinya lelaki itu yang di tepi Pantai tadi. Dari segi rambutnya, pakaiannya sepertinya Gladista tidak salah menduga. Hanya saja sekarang dia memakai masker untuk menutup sebagian wajahnya. Sungguh itu membuat Gladista penasaran.

"Mau gue bantu gak nih?" sontak Gladista kaget karena sedari tadi melamun memikirkan siapa dia sebenarnya, mengapa sering sekali Gladista bertemu, entah itu di kampus, Pantai, dan sekarang di alun-alun.

"Eh, iya boleh."

"Ikut gue!"

Akhirnya Gladista menuntun sepedanya lalu mengikuti si lelaki itu, entah dia mau kemana, Gladista hanya mengikuti.

"Lo, mau tetep naik sepedanya terus gue dorong, atau lo mau bonceng gue, dan sepedanya di tuntun pake motor gue?"

"Hah?" Gladista yang bingung memahami pun hanya mengerutkan kedua alisnya seolah-olah tidak dengar apa yang lelaki itu jelaskan padanya.

"Arghh. Gini, lo bonceng di motor gue, apa lo naik sepeda?" tanyanya sekali lagi.

"Oh, gue naik sepeda aja deh, lagian gak terlalu kempes kok." Lelaki itu bernapas lega akhirnya Gladista paham juga dengan ucapannya.

"Ya udah, naik, biar gue dorong!"

Gladista pun menaiki sepedanya, begitu juga dengan lelaki itu, dia menaiki motornya sembari mendorong sepedanya Gladista dengan satu kaki menggiring sepeda, sedangkan kedua tangannya tetap fokus menjalankan motornya.

Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam. Gladista yang tetap mempertahankan dirinya agar tidak jatuh dari sepedanya, dan lelaki itu yang tetap fokus menjalankan motornya sembari hati-hati mendorong sepedanya Gladista.

"Eh, lo hati-hati ya. Gue takut jatuh," celetuk Gladista untuk memecahkan keheningan, padahal lelaki itu juga sudah hati-hati.

"Lo buta ya, ini gue udah hati-hati banget, karena lo perempuan pasti gampang takut."

"Barusan lo udah remehin gue tadi!"

"Faktanya emang gitu."

"Lo kayak gak tahu aja seberapa gue lawan ketakutan gue ketika mencoba naik sepeda lagi, dan akhirnya gue berhasil melawan ketakutan itu, alhasil kemana-mana lebih ke naik sepeda."

Bungkam.

Lelaki itu hanya diam sembari fokus memandang ke depan tanpa mau melihat wajah si gadis itu yang sejak tadi memecahkan keheningannya.

TBC

Temukan penulisnya
di IG/Tweet @kata_lia7 dan @yuliatul_asy

Tiktok @katalia615

Yuk, bantu katalia ramaikan cerita ini
dengan cara vote, komment, dan share ke temen kalian ygy😍

MAAF, GLADISTA (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang