"Sifat yang kau lakukan kini memang membuat semua
orang penasaran, terutama aku."
~ Dirgantara ~
"Lo pulang naik apa?" tanya Christa sembari berjalan dengan Intan.
"Naik taxi mungkin," jawab Gladis yang masih memikirnya.
"Ya udah, gue sama Intan duluan ya," Christa dan Intan pun langsung pergi dari sekolah.
"Iya."
"Oh ya, jangan lupa nanti kalo ada apa-apa kabarin ya, terus kalo nanti udah sampe rumah kabarin juga." Ujar Christa bawel dengan teriak-teriak, memang begitulah Christa mempunyai sifat bawel, tapi kadang yang dengernya itu pusing sendiri, betul gak?
"Iyah bawel lo." Seketika Gladista menjawab, Christa dan Intan pun langsung lenyap begitu saja.
Gladis pun akhirnya berdiri di depan gerbang SMA Aksara Bangsa. Dulu sih waktu masih Kelas X dan XI selalu di anter-jemput sama abangnya karena dulu kan satu sekolah. Sekarang mah boro-boro wong abangnya kuliah di Luar Negri, sedih sih emang di rumah jadi kesepian cuma ada bunda dan ayah.
Cukup lama Gladis menunggu taxi, tiba-tiba saja ada sebuah Motor Sport berhenti di tempat Gladis berdiri. Ketika Gladis menoleh ke samping, ternyata Dirgantara yang menggunakan Motor Sport itu.
"Ngapain lo disini?" tanya Dirgantara cuek.
"Nunggu taxi lah." Jawabnya.
"Naik!!" pinta Dirga menyuruh Gladis untuk menaiki motornya.
Gladis yang sedang di tawari pun kebingungan. Sedang mimpi apakah dia? Kenapa sosok Dirgantara yang cuek ini seolah ingin membantu dirinya. Akhirnya, tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menolak ketimbang menerima.
"Gak!!" jawabnya begitu singkat.
Kemudian, tanpa suara pamit dari Dirgantara. Dia langsung menyalakan motornya kembali, pikiran Gladis sebenarnya sudah khawatir. Apakah Dirgantara tega meninggalkannya di tempat yang sudah sepi ini tanpa ada seorang pun?
"Cepet naik!!" pinta Dirga ulang dengan tegas.
Gladis pun masih diam, dia bingung terima atau tolak tapi dirinya seakan ingin menuruti egonya, yaitu tolak. Tapi juga dirinya takut di tinggal sendiri disini.
"Udah naik aja!!" Dirga pun masih menunggu jawaban dari Gladis dengan sabar. Siapa coba yang gak mau di boncengin sama Dirga. Ini juga baru yang pertama kalinya ia pulang bareng sama cowok.
"Emang lo tahu rumah gue?" tanya Gladis mengalihkan topik.
"Dimana?"
"Apanya?" tanya Gladis polos.
Dirga pun menghela napas berat. "Rumah lo lah, " ujar Dirga emosi. Jangan sampai ia bisa marah gara-gara satu cewek ini.
"Oh, nanti lurus ajah kesana, ter-" ucapan Gladis kini malah di potong, padahal kan belum juga selesai jelasinnya.
"Stop! nanti jelasinya, sekarang naik!!" inilah yang di tunggu Dirga dari tadi. Di suruh naik, malah jelasin panjang lebar gak guna. Pikir Dirga.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF, GLADISTA (END)
Teen FictionPergi, kembali, dan pergi selamanya. Takdir hanya mempertemukan, tanpa kebersamaan. Hanya ada kata maaf, yang lelaki itu ucapkan, sebelum pergi. Hanya sebuah surat, yang lelaki itu tinggalkan, tanpa menemuinya. Bertemunya, bersama dia sosok lelak...
