PREJUDICE

85 10 0
                                        

"Iced Americano kayak biasa ya."
Emryn baru hendak mengambil uang di dompetnya saat si pelayan bertanya dengan senyum dikulum, "Biasanya sama Caramel Macchiato, Pak? Bu Alesha belum mampir lho dari tadi." pegawai bakery yang lain pun mesem-mesem.

Emryn bukan penyuka gosip. Tapi dia tak akan keberatan bila beredar rumor tentang kedekatannya dengan Alesha. "Ternyata kalian ini, selain masak roti, juga masak gosip ya?"

"Habis, pak Emryn romantis banget sih, nyuruh bu Alesha pake jas Bapak. Videonya dimana-mana lho, Pak. Hayo ngaku, Pak Emryn pacaran kan sama Bu Alesha?" kini dapur bakery makin ramai dengan tawa kecil.

"Hus! Nggak ada kayak gitu. Udah sana, kerja lagi, berapa jadinya?" Emryn teringat peristiwa di kolam renang hotel di malam pernikahan Rania, pasti ada yang merekam dan mengunggahnya ke media sosial.

"Jadi, sama caramel macchiatto gak Pak?" si pelayan masih belum menyerah menggoda Emryn,  sekalian usaha menaikkan omzet.

"Ya udah, caramel macchiatto juga. Langsung taro di meja bu Alesha, ya."  Emryn memesan dengan senyum lebar. Apa boleh buat, minyak kadung panas, goreng kerupuk sekalian.

"Cieeeee...  Suit suit" bakery mini di lantai bawah itu pun langsung ramai dengan tawa pagi itu.

Emryn memulai pagi dengan menandatangani tumpukan dokumen yang sudah disiapkan sekretarisnya. Lanjut menyiapkan bahan ajar untuk Kelas Internasional pagi ini. Tiba-tiba, Emryn teringat kopi yang tadi ia pesan untuk Alesha,

[Sha, gue tadi pesenin kopi. Udah sampe di meja lo?]
[Iya, makasih ya, repot amat. Tapi besok-besok nggak usah, Em.]
[Kenapa? Gue nggak repot kok]
[Pokoknya nggak usah. Gue bawa kopi dari rumah.]
[Hmmm, oke. Ohya, hari ini bimbingan ya di kantor gue.]
[Eh, kok dadakan?]
[Iya, mumpung gue kosong, biar progress lu semakin cepet. ]
[Hmm, sesuai jadwal aja deh, Em. Besok lusa jam 13.00 kan?]
[Oh gitu, oke. Ohya, hari ini Sabrina ada yang jemput nggak? Kalau nggak salah lu ada kelas kan? Gue kosong kok.]
[Lu kok banyak banget jadwal kosongnya, sih?]

Emryn tersenyum. Sebenarnya jadwalnya padat sekali hari ini. Tapi kalau Alesha yang minta waktu, dia bahkan mungkin akan minta malaikat Israfil menunda meniup terompet kiamat. Nggak mungkin? Ya namanya juga usaha. [Ya makanya, langka kan jadwal gue longgar begini. Gimana?]
[Nggak, Em, Sabrina hari ini udah gue titipin dulu ke rumah tetangga.]
[Lho, kenapa nggak sama gue aja? Atau sama Rania, kan udah biasa Sabrina main di ruangan Rania?]
[Nggak apa-apa kok, biar Sabrina akrab sama tetangga. Gue udahan dulu ya, Em.]
[Oke]

Emryn mendengkus kecewa.  Berarti hari ini dia tak punya alasan bertemu Alesha.  Akan tetapi, rasanya ada yang aneh. Apa  Alesha menghindar? Tapi kenapa?

Emryn segera menyuruh prasangkanya untuk diam. Mungkin memang Alesha sedang sibuk, lagipula, bagus juga kan kalau dia akrab dengan masyarakat di sekitar kontrakan barunya?

Kelas demi kelas, meeting demi meeting hari ini akhirnya tuntas sudah. Emryn menengok jam, pukul 17.00. Anehnya, alih-alih teringat jadwalnya sendiri, Emryn malah memikirkan jadwal  Alesha, ia pasti sudah selesai menjemput anak-anaknya. Malam ini Alesha masak apa ya kira-kira? Emryn menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengembuskan napas. Waras, Em, Waras. Lu udah ditolak. Bersikap yang manis sebagai temannya, ya.

"Kenapa lo geleng-geleng kepala sendiri kayak boneka dashboard mobil gitu?" tahu-tahu Rania sudah  masuk ruangannya, duduk menyilangkan kaki di sofa, sambil menyandarkan kepala seolah organ atasnya itu sangat berat.

"Heh, lo main masuk aja. Lo kan udah nggak single, sejak detik akad diucapkan Gibran, masuk ke kantor gue harus permisi dulu." Emryn mengingatkan kode etik mereka

"Haduh, iya ya, lupa gue. Sori, lagi pusing!"

"Pusing kenapa, Ran, lu kan belum sebulan nikah sama Gibran? Udah ada masalah lagi?"

Lima MenitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang