Tidak ada yang berjalan indah dalam hidup AMEERA AYUNDA, gadis manis berparas cantik berusia 20 tahun. Baik itu keluarganya, kisah cintanya dan juga masa depannya. Hidupnya rumit dan berliku, memiliki Ibu yang tak pernah menginginkannya dan pernikah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
>> Happy Reading <<
Hampir setiap saat Dewa, Ayah Momo memberikan kabar terkini pada Ameera mengenai Wika yang tengah di rawat di rumah sakit setelah dilakukannya prosedur operasi dengan biaya pinjaman dari Dewa. Dan biaya operasi Wika itu cukup banyak menguras tabungan yang Dewa miliki. Tapi Dewa tak keberatan dengan itu mengingat dulu, Wika dan Ameera merupakan tetangga dekatnya yang sudah ia anggap seperti keluarga.
Wika sedang dalam kondisi koma. Sudah dua hari Wika koma.
Bukan hanya kondisi Wika saja yang menjadi beban pikiran Ameera, tapi juga untuk seluruh biaya perawatan selama Wika di rawat. Sejujurnya Ameera juga ingin pulang ke Jakarta untuk melihat langsung kondisi Ibunya tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri tak memiliki cukup uang untuk itu.
Sembari membersihkan meja-meja yang kotor yang baru saja digunakan oleh pelanggan, Ameera memikirkan kemana lagi ia harus meminjam uang. Ia sudah meminjam pada Momo, pada Jehan dan pada teman-temannya yang lain, pada semua orang-orang yang ia kenal tapi hasilnya nihil.
Ameera juga sudah mencoba meminjam pada atasan di tempatnya bekerja tapi mereka menolak pinjaman itu karena Ameera merupakan karyawan baru yang tidak memiliki jaminan.
Ameera benar-benar muak karena selalu saja permasalahan di hidupnya tak jauh-jauh dari uang, uang dan uang!
Dari lorong toilet, Momo melambaikan tangannya pada Ameera agar supaya Ameera menghampirinya.
"Bokap mau ngomong sama lo," jelas Momo sembari menyodorkan ponselnya. Andai saja Momo memiliki banyak uang, ia akan memberikan seluruh uang miliknya untuk membantu Ameera. Ia kasihan melihat Ameera yang terlihat sangat frustrasi. Meski Ameera tak mengatakannya secara gamblang tapi Momo bisa melihat itu dari raut wajah sahabatnya.
"Ibu." Tubuh Ameera lunglai dan terduduk di lantai setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Dewa.
Meski hubungan Ameera dengan Ibunya tak pernah baik, tapi Ameera tidak pernah sekali pun meminta pada Tuhan untuk menyakiti Ibunya apalagi sampai membuat Ibunya sekarat seperti sekarang.
Dan karena ada pendarahan di selaput otak, prosedur operasi kedua pun harus segera dilakukan, lebih cepat lebih baik. Dan operasi itu membutuhkan biaya yang tidak lah sedikit. Baik Dewa atau pun Ameera benar-benar bingung harus mencari pinjaman ke mana lagi.
Tapi dengan penuh percaya dirinya Ameera berkata untuk urusan biaya sepenuhnya serahkan padanya saja. Ameera tidak ingin membebani dan merepotkan Dewa. Lagi pula Dewa dan Intan, kedua orang tua Momo sudah cukup banyak membantunya dengan menjaga Ibunya di saat Ameera tak bisa melakukannya. Ameera sangat-sangat berterima kasih untuk itu. Momo dan kedua orang tuanya selalu ada disaat ia membutuhkan bantuan. Ameera tidak akan pernah melupakan kebaikan mereka.
"Jual diri laku berapa sih, Mo?" tanya Ameera tanpa sadar membuat Momo terkejut setengah mati mendengarnya.
Kini Ameera tahu kenapa Ibunya memilih jalan ini untuk bertahan hidup. Ameera bisa merasakan betapa frustrasi-nya ia disaat tak memiliki apa pun dan pikiran sudah buntu, hanya terpikirkan tubuh satu-satunya yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan uang.