Tidak ada yang berjalan indah dalam hidup AMEERA AYUNDA, gadis manis berparas cantik berusia 20 tahun. Baik itu keluarganya, kisah cintanya dan juga masa depannya. Hidupnya rumit dan berliku, memiliki Ibu yang tak pernah menginginkannya dan pernikah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
>> Happy Reading <<
Dengan memegangi gelas sloki berisi wine, tatapan mata Reagan tak lepas sedikit pun dari Ameera yang hingga saat ini masih tak sadarkan diri. Dokter pribadi yang memeriksanya mengatakan ini disebabkan karena hipotermia. Dan ini semua terjadi akibat insiden di pesta tadi.
Reagan mengepalkan sebelah tangannya. Kenapa Ameera harus membuatnya marah sekaligus iba di waktu yang bersamaan?!
Ya, ia marah dengan kejadian yang terjadi di pesta. Tapi ia juga iba melihat kondisi Ameera seperti ini. Beruntung saat ia meninggalkan Ameera, tak lama Alvarez menghubunginya saat Alvarez mendapati Ameera tak sadarkan diri di parkiran. Dan berakhir lah Ameera di kamar ini. Berbaring di atas tempat tidur setelah di periksa oleh Dokter.
Tak berselang lama, Reagan mendapati jari jemari Ameera bergerak. Kemudian setelah itu Ameera meracau tidak jelas dengan bahasa antah berantah yang tak Reagan mengerti.
"Ibu. Bu, Ibu ... " Dengan mata terpejam Ameera memanggil-manggil Ibunya.
Perlahan tapi pasti mata Ameera terbuka. Ameera mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri. Dan sedetik kemudian tangis Ameera pun pecah karena ini benar adanya. Ibunya sudah meninggal dunia.
Tangan Ameera terulur meraih ponsel yang biasa ia letakkan di atas nakas. Benar. Tiga jam yang lalu Dewa menghubunginya dan memberikan kabar tentang kematian Ibunya padanya.
Tak berselang lama, Momo menghubunginya via video call. Saat Momo memberikan kekuatan dan dorongan semangat padanya, tangis Ameera terdengar semakin pilu. Sesekali Ameera menghapus kasar air matanya.
"Kabarin gue kalau lo udah siap dan udah dapet izin dari Reagan. Kita pulang ke Jakarta sama-sama. Kebetulan gue juga lagi cuti."
Ameera mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian mengakhiri panggilan itu.
Ameera kembali menangis sejadi-jadinya. Ameera belum menyadari eksistensi Reagan yang sedari tadi hanya memperhatikannya dalam diam. Jelas saja Ameera tidak melihatnya karena suasana kamar cukup gelap, tidak ada penerangan yang cukup selain pantulan cahaya yang berasal dari lampu tidur.
Reagan mencoba mencerna apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Meski ia tak mengerti apa yang Ameera dan lawan bicaranya bicarakan, tapi Reagan yakin yang dibicarakan itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Buktinya Ameera sampai menangis dan tangisannya terdengar semakin pilu.
Setelah puas menangis hingga sesegukkan, Ameera merubah posisinya dengan menoleh ke arah kanan. Dan di situ lah ia menyadari keberadaan Reagan yang tengah memperhatikannya dalam diam dan dalam kegelapan malam.