Tidak ada yang berjalan indah dalam hidup AMEERA AYUNDA, gadis manis berparas cantik berusia 20 tahun. Baik itu keluarganya, kisah cintanya dan juga masa depannya. Hidupnya rumit dan berliku, memiliki Ibu yang tak pernah menginginkannya dan pernikah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
>> Happy Reading <<
Di malam pengantinnya, Ameera benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Meski mereka menginap di kamar presidential suite di salah satu hotel bintang lima ternama di kota London dengan harga sewa permalam mencapai puluhan juta rupiah, tetap saja Ameera tak bisa mengenyahkan pikirannya terhadap apa yang Reagan lakukan malam ini.
Saat Reagan menciumnya, Ameera merasa ada sebulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ameera pikir itu tetesan air hujan tapi nyatanya bukan. Mata Reagan terlihat berkaca-kaca.
Tunggu! Apa ini terjadi karena Reagan menyesali pernikahan yang sudah terjadi ini? Ya, mungkin saja. Itu artinya bukan hanya Ameera saja yang menyesalinya tapi Reagan juga demikian.
Ameera memutar posisi tidurnya menghadap ke arah Reagan yang tidur di sofa dengan posisi tidur membelakanginya, masih dengan pakaian lengkap yang sama seperti di acara resepsi tadi. Hanya tuxedo-nya saja yang Reagan lepaskan. Sementara Ameera sudah berganti dengan gaun tidur yang telah disediakan. Meski Ameera enggan memakai gaun tidur berbahan satin ini tapi ia tak punya pilihan lain karena ini pakaian satu-satunya yang ada. Tidak mungkin juga ia tidur dengan mengenakan off shoulder long dress berwarna putih dengan belahan panjang hingga ke paha yang ia pakai di pesta resepsi.
Benar, setelah Reagan menciumnya kemudian memeluknya dan karena malam sudah larut, Reagan pun menggendongnya menuju mobil kemudian membawanya ke hotel ini. Dan selama perjalanan menuju hotel, tak ada perbincangan yang terjadi antara keduanya. Reagan diam membisu dan fokus menyetir, sementara Ameera hanya diam, tidak ingin memecah fokus Reagan meski ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Reagan termasuk seputaran ciuman tadi.
Ameera beranjak dari ranjang sembari membawa satu buah selimut tebal yang tidak ia gunakan. Meski pria bermulut tajam itu menyebalkan dalam berbicara padanya dan kerap kali mencemoohnya tapi tak bisa dipungkiri, Ameera merasa berhutang budi padanya. Reagan Foster lah yang membantunya di saat Ameera membutuhkan bantuan untuk biaya operasi Ibunya meski imbalan yang Reagan inginkan di luar ekspektasinya.
Ameera pun menyelimuti Reagan yang terlihat sudah benar-benar pulas sekali.
"Seratus hari," gumam Ameera. Hanya dalam waktu seratus hari saja pria bermulut tajam ini menjadi suaminya. Dan setelah seratus hari itu ia bisa kembali pada kebebasannya, pada kehidupan yang diinginkannya.
"Aku harap untuk sembilan puluh sembilan hari ke depan kamu membuat semuanya mudah, Reagan Foster."
***
"Ameera."
"Bangun, Ameera." Reagan menyingkap selimut Ameera kemudian berusaha membangunkannya. Reagan segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah kala secara tidak sengaja pandangan matanya mendapati gaun tidur yang Ameera kenakan tersingkap hingga memperlihatkan paha putih mulusnya. Reagan menarik ke bawah gaun tidur itu untuk menutupinya.