1. Tentang Mereka.
“Saya gak mau tahu pokoknya panti asuhan itu harus digusur!” teriakan perempuan bernama Wina memenuhi ruangan tempat dia bekerja. Dia sangat berambisi agar panti asuhan tempat Alfin— nama anaknya yang tidak pernah dia akui tempat tinggalnya harus digusur. Wina tidak ikhlas melihat Alfin hidup damai sampai sekarang, walau sudah empat belas tahun Alfin hidup di dunia ini. Tapi tak pernah sedikitpun dia mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu dan ayahnya. Sejak umur empat tahun saat baby sitter yang merawat Alfin diberhentikan kerja, Alfin langsung dikirim ke panti asuhan itu oleh Wina karena permintaan Dion— anak sulungnya bersama suami sahnya.
Wina mematikan sambungan telponnya lalu membanting ponselnya ke atas sofa dengan kesal. Raut wajah kesal terlihat kentara diwajahnya, menginjak usia kepala empat tidak membuatnya terlihat tua, dia malah terlihat awet muda. Entah apa yang membuatnya awet muda padahal setiap hari kerjaannya marah-marah saja saat tidak berhasil membuat Alfin menjadi gelandangan, bahkan sudah berupaya cara tidak ada satupun yang berhasil. Wina duduk di atas sofa sambil memijat pangkal hidungnya, dia sedikit merasa pusing setelah marah-marah pada anak buahnya yang belum berhasil membuat Panti Asuhan Kasih Bunda digusur. Padahal Wina membayar mereka dengan harga yang mahal, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan apapun.
Beberapa detik kemudian raut wajah Wina berubah senang, sepertinya dia mendapat ide cemerlang, dia berdiri setelah mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya, bersamaan dengan berkas yang isinya adalah tagihan hutang yang dimiliki oleh panti asuhan itu pada suaminya. Wina tersenyum sinis lalu berjalan cepat menuju mobilnya. Di samping mobilnya sudah ada supir pribadinya yang membukakan pintu belakang sambil menunggu majikannya masuk, dia masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu untuk majikannya.
“Kita mau ke mana nyonya?” dengan sedikit takut, sang supir bertanya pada majikannya yang memasang ekspresi dingin. Menatap Wina dari kaca mobil dengan takut.
“Panti asuhan yang biasanya.” Wina menjawab dengan mempertahankan ekspresi dinginnya. Supir pribadi Wina langsung menginjak pedal gas menuju panti asuhan yang setahun sekali didatangi oleh majikannya itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan menuju panti asuhan itu memakan waktu satu jam, selama satu jam itu hanya ada keheningan di dalam mobil itu, tidak ada yang membuka pembicaraan dan tidak ada yang mau berbicara. Mobil itu berhenti dihalaman panti asuhan yang dipenuhi anak kecil yang bermain di sana, ada yang bermain lompat tali dan kejar-kejaran, ada juga yang bermain sepak bola. Wina diam menatap ke depan, dia baru saja mengingat jika Alfin belum pulang sekolah. Saat ini Alfin kelas X SMA, dia pernah loncat kelas satu kali saat SD, itu yang membuat dia menjadi siswa termuda di kelasnya. Wina akhirnya memilih untuk diam di dalam mobil, sambil menunggu kedatangan Alfin.
Di sisi lainnya, seorang siswa dengan seragam basah kuyup menunduk malu karena banyak tatapan menghina yang tertuju padanya. Dia Alfin, anak dari Wina dan adik iparnya Wina.
Banyak yang tidak suka pada Alfin karena Dion sengaja menyebarkan tentang rahasia Alfin. Rahasia yang selama ini Alfin simpan rapat-rapat jika dia hanyalah anak dari hasil perselingkuhan mamanya Dion dan pamannya Dion. Alfin mempercepat langkah kakinya saat dikoridor sekolah, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Rasanya Alfin ingin cepat-cepat lulus agar semua perundungan yang dia dapatkan selama ini segera berakhir.
“Bau banget sih, sana pergi jauh-jauh!”
Dion menutup hidungnya saat berpas-pasan dengan Alfin saat Dion keluar dari kelasnya. Dion tersenyum mengejek pada adik tirinya, Dion pernah bersumpah akan membuat sekolah ini bagai neraka untuk adik tirinya itu. Alfin menghela nafas lelah lalu melanjutkan perjalanannya turun dari lantai dua sekolahnya tanpa menghiraukan Dion yang mencoba mencari masalah dengannya lagi. Baru saja kakinya menapaki dua tangga pertama, tiba-tiba dia merapat ke dinding sebelah kirinya karena mendengar langkah kaki yang mengejarnya.
Alfin tersentak kaget saat melihat Dion kehilangan keseimbangannya dan jatuh terguling dari tangga lantai dua. Masih dalam keadaan terkejut, Alfin diam mematung dengan detak jantung yang sangat cepat. Beberapa detik kemudian Alfin terkejut saat mendengar suara pria berusia tiga puluh tahun sedang meneriakinya, rasanya jantung Alfin hampir copot saat melihat guru BK ada di dekat tubuh Dion yang terbaring lemah di bawah tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFIN [END]
Aktuelle LiteraturStart 11 April 2022 End 29 April 2022 Alfin membanting gelas yang ada di atas meja, mengambil pecahan gelas itu dan menggoreskannya ketangan. Kevin dan orangtuanya yang mendengar suara gelas pecah dari dalam ruangan Alfin langsung membuka pintu dan...
![ALFIN [END]](https://img.wattpad.com/cover/307197484-64-k104591.jpg)