diundang

196 21 0
                                    

"jo?" suara wanita dari arah belakang Joe membuat Joe berbalik dan tersenyum tipis

Kafka menatap wanita yang sepertinya sudah berumur namun masih terlihat sangat muda dah cantik

"dear, kenapa berhenti tiba-tiba, hm? kau membuat mama mu ini khawatir" wanita itu berkata dan mengelus lengan anaknya

"sorry, mom. Jo melihat seseorang yang membutuhkan bantuan" ucap Joe menatap Kafka yang tersenyum kikuk dan menganggaruk tengkuknya yang tak gatal

"oh, kenapa anak manis ini berjalan malam-malam seperti ini sendirian?" Kafka membolakan matanya terkejut, what?! apa tadi ibu ini bilang, dia manis? hahaha, apa ibu ini tidak melihat setampan apa wajah Kafka

"a-aku... aku... martabak, ah iya! aku tadi mencari martabak manis, tapi, sepertinya sudah tidak ada" ucap Kafka gugup membuat Joe menahan tawanya. mama Joe menatap Joe yang sedang menahan tawanya, seketika wanita ini ikut tersenyum

"kau bodoh sekali, anak manis. kau tidak pandai berbohong. mari ikut aku, aku akan menyuruh chef pribadi membuatkan mu martabak manis yang banyak" ucap wanita ini tersenyum sambil menarik lengan Kafka

"a-anu, tidak perlu, tante. aku akan mencarinya besok lagi. lagi pula sudah malam sekali, aku tidak ingin merepotkan mu, sekali lagi, terima kasih" Kafka melepaskan tangan wanita ini dengan lembut, ia berbalik dan menatap Joe yang menatapnya dengan datar

"thanks udah nolong. gue duluan" Kafka berkata kepada Joe, ia mengambil helm nya dan naik keatas motornya. ia menatap wanita paru baya itu dengan senyuman dibalik helm nya

"duluan, tan!" Kafka sedikit menaikkan nada suara nya dan melajukan motornya

"who?" sesaat setelah Kafka benar-benar hilang dari pandangan Joe, sang mama bertanya.

"teman." jawab Joe

"sejak?"

"sekelas." sang mama hanya tersenyum tipis ia menatap kearah dimana Kafka menghilang

"dia... tampan, bukan? ah, tidak. menurutku dia cantik, pemuda itu persis seperti almarhum papa mu." Joe menatap mamanya

"mom.. you okay?" tanya Joe khawatir menatap mamanya

"no prob, aku menyukai pemuda itu, lain kali bawalah dia kerumah." Joe mengangguk membuat wanita ini lagi dan lagi tersenyum tulus dan mengelus rambut anaknya

"mari pulang, Jhoan dan daddy mu pasti menunggu ku" Joe menggandeng tangan sang mama dan membawanya ke mobil yang tak jauh dari sana. setelah mamanya masuk ke dalam mobil, Joe berjalan kearah motornya memakai masker buff nya dan helm, lalu mengikuti mobil yang ditumpangi sang mama menuju rumah utama keluarga Dixon.

....

Kafka membaringkan tubuhnya diranjang, ia menatap langit-langit kamarnya. ingatan nya kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu, saat ia bertemu dengan ibu dari seorang Joe Anggarsha Dixon.

ia menggelengkan kepalanya.

"buat apa coba, gue mikirin tu anak ga jelas." gumannya, ia menutup mata dengan lengan nya lalu menyelami alam mimpi.

pagi telah tiba, Kafka dengan malas berjalan menuju kamar mandi, sekarang sudah menunjukkan pukul 06.15.

10 menit kemudian Kafka sudah siap dengan seragam nya. ia menyisir rambutnya kebelakang menggunakan tangan menghadap kaca besar dipojok ruangan.

"gila, gue ganteng ternyata. udah cocok ni buat nge gebet anak orang" dengan percaya diri Kafka melangkah keluar, ia mengambil roti dan mengoleskan salai rasa coklat diatasnya, lalu menggigit ujung roti sambil menggunakan sepatu.

setelah selesai menggunakan sepatu, ia berjalan menuju basement, ia menggunakan lift memencet tombol angka 1. setelah itu lift tertutup Kafka masih mengunyah rotinya.

ia berjalan dengan santai menuju motornya. ternyata, disini juga banyak anak SMA/K yang membeli apartemen disini. ia menggunakan helm dan melanjutkan motornya.

saat sampai disekolah, pandangan pertamanya jatuh kepada laki-laki yang duduk dijok motornya sambil mengusap rambut perempuan yang berdiri disamping laki-laki itu.

"buset, masih pagi juga." guman Kafka turun dari motor. matanya menatap mata laki-laki yang menatapnya, tatapan datar dan menusuk.

"hei, bang!" sapa Kafka sok kenal saat melewati laki-laki itu, membuat wanita yang berada disampingnya menatap tidak suka

"siapa, va? kamu kenal?" tanya wanita ini melihat Kafka yang terus berjalan

"ga." laki-laki itu langsung pergi meninggalkan wanita yang menghentakkan kakinya kesal.

didalam kelas, Kafka duduk dibangkunya seraya memainkan handphone. ia terlalu fokus bermain game tanpa sadar seseorang melewatinya.

dia, Joe. Joe duduk dibangku belakang, ia menatap punggung Kafka.

Tanpa sadar Joe menepuk bahu Kafka membuat Kafka berbalik dengan membolakan matanya terkejut

"kaget. lu buat gue kalah, jo" sudut bibir Joe berkedut. ia menatap Kafka dengan datar

"ikut. mama pengen ketemu lu" Kafka menaikan alisnya, pa maksut ni anak?

"maksud lu?" tanya Kafka balik

"lu ikut gue. pulang sekolah. mama gue pengen ketemu lu."ucap Joe dengan penekanan membuat Kafka mengernyit tidak suka, siapa dia ngatur-ngatur hidup Kafka.

"mama gue cuma seminggu disini" oke sekarang Kafka paham. jadi, Joe menyuruhnya untuk bertemu sang mama karena mamanya akan pergi lagi setelah 1 minggu. wahhh, anak yang baik.

"kenapa gitu? gue aja ga kenal ama emak lu" kata Kafka

"lu cantik, manis. seperti papa gue. menurut mama" Kafka dibuat heran dengan perkataan Joe, papanya cantik? apa dia typo dalam berbicara, tapi tidak mungkin

"papa lu cantik? typo kali, mama lu kali yang cantik" Kafka tertawa garing

"terserah. gue harap lu mau" Kafka menghentikan tawanya, ia menatap Joe sebentar lalu mengangguk

"boleh juga. dikasih makan ga? kalau ga, gue ga ikut" lagi-lagi Joe harus menahan senyum, kenapa pemuda didepannya ini sangat mengemaskan walaupun dia freak

"aman." jawab Joe, Kafka mengangguk membuat Joe tersenyum simpul. Kafka mah b aja liat senyum tipis Joe, beda lagi ama beberapa anak didalam kelas yang menatap aneh, terkejut, senang. Kafka tidak mempedulikan nya. ia kembali menatap depan yang ternyata guru sudah masuk dan diam menatap Kafka.

"dari kapan?" guman Kafka pelan sambil tersenyum kikuk menatap guru yang terkenal killer disekolah, pak Hamdi

"dari lu ngomong sama Joe, gubluk" itu suara wanita didepannya. Kafka menapuk jidatnya, dia lupa siapa Joe. mungkin karena itu sang guru ngak berani ngeberhentiin pembicaraan Joe dan Kafka.

15 menit lagi istirahat. Kafka masih sibuk menyalin catatan dari buku Talia, karena, tadi ia tidak mendengarkan ketika guru berbicara dan alhasil dia ketinggalan.

"oke, materinya sampe sini aja. kalian kerjakan halaman 115 sampai 125, jika belum selesai dilanjut setelah istirahat. harus dikumpulkan hari ini juga, tidak ada penolakan. kalau gitu bapak keluar, kalian kerjakan dan jangan ramai tunggu bel istirahat bunyi baru ke kantin. MENGERTI?" jelas panjang lebar bapak guru itu

"MENGERTI!" teriak semua murid dengan lantang. setelah sepeninggalan sang guru, banyak murid yang menggerumbul jadi 1, ada yang mengerjakan tugas dengan menyontek teman, ada yang mabar. Kafka mah anak baik, dia memilih tidur aja, mengabaikan Talia yang mengajaknya berbicara aka mengibah.

tbc

Who M.J? [boyslove] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang