Back To School

128 17 0
                                    

Arvaay

//sayang, aku didepan

BEMTAR, GYE AMNIL SEPATU//

//hati-hati, ka. Ngak perlu buru-buru, ngak aku tinggal

Kafka ngos-ngosan karena habis lari dari kamarnya. Arva terkekeh

"udah dibilang gausah buru-buru. Ngak aku tinggal, sayang" Kafka diam mendengarkan ucapan Arva, ia menaiki motor Arva dan memakai helmnya

"ayo, meluncur!" ucap Kafka dengan tangan yang dilayangkan kedepan, lagi-lagi, Arva terkekeh.

Ini udah 3 hari dari Kafka bertemu Jack. Mereka sekolah bersama, membuat mereka menjadi sorotan utama disekolah.

Kafka dan Arva sudah sampai disekolah, mereka berjalan beriringan tanpa jarak, bahu Kafka menyentuh lengan milik Arva

"kak Arva. Itu tentang acara pensinya gimana, kak?" Arva menghentikan langkah nya begitupun dengan Kafka saat adek kelas bertanya, Kafka mengerutkan dahinya, pensi? Kapan?

"tanya Angga" jawab Arva

"aku udah tanya sama kak Angga, tapi dia bilang suruh tanya kakak" Kafka terdiam, ia sedikit tidak suka saat gadis itu menggunakan kata 'aku' dalam kalimatnya, dipikir lucu apa?

"pensi kali ini yang pegang seluruhnya Angga" jawab Arva lagi

"iya, kak. Tema nya itu loh, kak Angga suruh tanya ke kakak"

"budek kali ya?" guman Kafka yang masih bisa didengar oleh orang yang berada disitu. Arva menatap Kafka yang berada disampingnya, Kafka menaikkan bahunya lalu pergi tanpa berbicara membuat Arva menghela napas

"ganggu." gadis itu terdiam, Arva melangkah untuk menyusul kekasihnya.

"gue bakal rebut kak Arva dari banci itu. Cih, emang dia pacarnya apa? Sok banget"

.
.
.
.

"ka"

"Kafka"

"sayang"

"babe"

"cinta"

"duh, bisa diem kaga si? Untung sepi" Arva yang dikomen hanya terkekeh, ia berjalan disamping Kafka memegang tangan Kafka yang terlihat kecil dari pada tangannya

"tu cewe siapa si? Gatel banget"

"Via. Namanya Vialin"

"via, dekel yang viral itu ga si? Yang katanya cantik? Muka kek gitu dibilang cantik, dahal b aja, ya ga?" Arva tertawa pelan. Ia mengangguk membenarkan ucapan Kafka

"iya, cantik kan kamu" Kafka memukul lengan Arva pelan. Salting dia tu

"ga jelas banget" Kafka berbelok karena kelasnya dan Arva berbeda jalur. Arva tersenyum, setelah Kafka lumayan jauh, ia mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali

.
.
.
.

"yoo bro. Ka, gue herman deh, lu pacaran sama kak Arva apa Joe dah? Apa jangan-jangan lu pacarin dua-dua nya?" Kafka yang baru saja duduk dibangkunya udah kena semprot ocehan milik Naylin

Who M.J? [boyslove] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang