Joe diam menatap Kafka yang tiduran. ia menatap ke arah pintu, dimana ada Aylen yang tersenyum manis sambil mengibaskan tangannya seperti sedang memanggilnya
Tanpa berfikir, Joe menghampiri Aylen. ketika ia melewati bangku Kafka, ia sempatkan untuk mengelus rambut halus milik Kafka.
Kafka terkejut dan langsung menatap siapa yang memegang rambutnya. ia melihat Joe yang berjalan menghampiri Aylen. Kafka mengedikan bahu acuh ketika Joe merangkul pundak Aylen menjauh dari kelas.
"ka, lu sama jo pacaran ya?" tanya salah satu siswi berbandana ungu ini
"hah? yang jelas aja. gue ga homo kali, gue normal. lagian kalau gue ngehomo juga ga bakal mau ama modelan triplek hidup kek dia" kata Kafka membuat gadis ini menekuk wajahnya sedih
"yahhh, padahal kalian lucu, gue mau layarin kapal joka, tapi respon lu kek gitu.. sedih banget hati gue Liiii" ucap siswi ini, ia merengek memeluk Talia
"udah, cup cup. Nay, jangan nangis dong. gue nanti yang dimarahin mommy lu" ucap Talia menenangkan sepupunya ini. Talia menatap Kafka sambil menggeleng
kringggg
bel istirahat sudah berbunyi nyaring.
"udah lha, nay. gausah nangis, nanti lu bisa layarin banyak kapal dah, ayo ngantin" ucap Talia menyeret Naylin pergi, Kafka mengedikan bahu acuh, ia bersandar pada sandaran kursi, ya kali bahu ayang, orang ga punya.
memainkan handphonenya. ia membuka Instagram, men-scroll nya sampe bawah.
tiba-tiba notif masuk, Kafka dengan malas membuka notif tersebut
Kei
//jangan cari alamat M.J
Kafka mengerutkan dahinya
mkst?//
//ga perlu ke jln. Permatasari.
knp bang?//
//ga perlu. gausah aneh-aneh.
👍//
Kafka kembali menaruh handphone nya kedalam saku celana dan berjalan keluar kelas.
Kafka sedang melihat-lihat isi kantin mencari tempat duduk. tatapannya bertemu dengan Aylen yang melambaikan tangan kearahnya.
Kafka berjalan menghampiri 6 laki-laki yang sedang makan juga. ia mengambil duduk seperti kemarin.
"Kafka, lu bisa kok gabung sama kita, ya ga, va?" Arva mengangguk mendengar perkataan Aylen membuat senyum Aylen terbit, Kafka tersenyum tipis
"iya dah"
mereka bertujuh memulai kembali acara makannya.
"tunggu digerbang" ucapan Joe membuat mereka semua menatapnya, begitu juga Kafka yang malah tatapan dengan Joe
"gue?" tunjuk Kafka pada dirinya sendiri, Joe tidak menjawab
"unt-- oh iya! hehe sori gue lupa, bro. nanti gue tunggu dah jan lama-lama tapi" Arva menatap Kafka yang cengengesan, ia menatap Joe bergantian.
"kenapa?" Joe menatap Arva yang bertanya
"mama pengen ketemu calon menantunya" ucap Joe tanpa beban, Kafka hanya mengangguk, ia tidak mengerti sama yang dibicarakan oleh orang-orang ini
....
Kafka menunggu Joe didepan gerbang, sudah 10 menit, tapi Joe belum menunjukkan batang hidungnya.
"ayo." Kafka kaget ketika seseorang menepuk bahunya
"bangsat!" umpatnya, Kafka menoleh menatap Joe dengan tampang datarnya seperti tidak merasa bersalah sudah membuat Kafka menunggu 10 menit.
"ikuti gue" ucap Joe melanjutkan motornya, Kafka kembali mengumpat dan menaiki motornya. ia mengikuti Joe yang sudah berada jauh didepan sana
Kafka melihat nama jalan yang dilewati, sekarang dia berada di perumahan elite.
jl.kenangan
jl.permata indah
jl.permarasariKafka seperti tau ini jalan apa. ketika melihat kedepan, Kafka bisa melihat Joe yang menghentikan motornya disalah satu rumah yang berpagar hitam tinggi
"rumah lu?" tanya Kafka. Joe mengangguk dan menuntun motornya memasuki pekarangan rumah.
"mas Joe, udah pulang toh. ibu sama bapak ada didalem, mas" ucap bapak penjaga, Joe hanya mengangguk, setelah memarkirkan motornya Joe menggandeng tangan Kafka memasuki rumah.
Kafka berdecak kagum melihat interior rumah Joe yang didominasi warna hitam dan putih.
saat diruang tengah, Kafka bisa melihat laki-laki yang sudah berumur duduk memegang laptop dan menggunakan kacamata baca. Kafka juga melihat wanita yang ia temui tadi malam duduk agak jauh dari laki-laki itu, wanita ini memegang majalah dan memakan buah apel.
mereka tidak mengetahui kehadiran Joe dan Kafka. Joe duduk disofa single yang berhadapan dengan wanita ini.
"sudah pulang kamu, Joe? apa abang mu ikut pulang?" ucap wanita ini, Kafka masih terdiam kaku, ia bingung kenapa diruang an ini malah terlihat canggung
"oh ya, dimana dia?" wanita ini meletakkan majalahnya, ia menatap Joe dan sedikit terkejut karena ada Kafka.
"lho, kok ngak duduk, sayang?" wanita ini menepuk sofa disampingnya menyuruh Kafka untuk duduk
"i-iya tan" Kafka berjalan kaku dan duduk disamping wanita ini
"Jack. lihatlah apa yang gue temuin. dia persis seperti dia." laki-laki yang diketahui ayah Joe ini menatap Kafka.
"jo?" ucap laki-laki ini menatap putra bungsunya
"mama." jawab Joe, ia memainkan handphonenya
"gue yang nyuruh aela. jangan marahin anak gue." jack, ayah Joe ini memutar bola matanya malas.
"dia anak saya. bukan anakmu." terdengar hembusan dari wanita ini
"istri lu yang nitipin dia ke gue. bodoh." Kafka melebarkan matanya
"buset ini tante-tante gaul bingits ya. keren dah, emaknya Joe" batin Kafka
"ma, dad, stop. disini ada tamu jika kalian lupa" wanita ini langsung menatap Kafka dan tersenyum
"maafin tante ya, daddy nya Joe emang kek gitu bikin emosi. beda banget sama istrinya yang sabar" wanita ini menatap Jack dengan tatapan sinisnya
"Nadella! stop ngejelekin nama saya!" Nadella, mama Joe menatap Jack dan tertawa mengejek sambil menjulurkan lidahnya.
Kafka tersenyum melihat keharmonisan keluarga Joe. padahal, yang terjadi didalamnya sangat jauh dari kata harmonis
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Who M.J? [boyslove]
Randomsemua orang mengetahui namanya namun mereka tidak mengetahui siapa dibalik nama M.J M.J ketua geng motor yang terkenal di kotanya. hingga seorang laki-laki yang rela pindah sekolah demi mencari siapa m.j. dia, Kafka Prananta. pemuda umur 16 tahun...