Bonchap (End)

160 11 1
                                    

Kafka berdiri ditaman depan rumahnya. Ia menyiram beberapa bunga mawar.

"ayah!!" senyum Kafka melebar, ia melihat anak kecil yang berlari kearahnya. Kafka merentangkan tangannya. Ketika anak kacil itu masuk kedalam pelukannya, Kafka langsung berputar

"How is the school?" Kafka menurunkan anak kecil ini

"not bad. Because there is Kenza" Kafka tersenyum, ia mencium pipi anak ini

"Jean udah besar aja" sekarang gantian anak kacil ini mencium Kafka

"Jean gitu loh"

"pinter banget anak ayah. Sekarang kamu masuk gih, bersih-bersih dan lunch. Setelah itu tidur" anak kecil ini memberikan gestur hormat kearah Kafka.

Saat anak kecil itu memasuki rumah, Kafka menoleh kearah gerbang, disana terdapat teman masa SMA nya

"eyyo Kafka. Gimana?" perempuan ini memasuki pekarangan rumah Kafka

"gue udah siapin kue. Ini tinggal tunggu Joe aja. Ya ampun, Lin. Gue baru inget, jarak Indo ke Prancis kan mayan jauh ye, kira-kira kalau jam delapan cukup ga?"

"bisa si, ka. Kan pesawat Joe udah berangkat setengah jam yang lalu" Kafka menghembuskan napasnya

"gue ga nyangka, Jean udah berumur enam tahun aja. Tapi, lebih ngak nyangka nya lagi, gue jauh sama kak Arva enam tahun" gadis ini tersenyum tipis kearah Kafka

"semangat deh, ka. Gue ga bisa bikin kata-kata. Tapi, kenapa lu ga cari cewe aja? Kalau ga suka cewe kenapa ga cari cowo. Ini Prancis loh, ka. Banyak cogan" Kafka menggeleng

"hati gue masih nge-stuck sama kak Arva."

"Nay." Kafka dan gadis ini menoleh kearah wanita yang menggunakan kemeja putih dan celana hitam

"eh, ayang. Sini-sini, Enza udah tidur? Nanti kamu jangan lupa loh ulang tahunnya Jeje"

"Enza udah tidur. Ka, gue bisa bantu apa?" Kafka meringis

"ga ada, Li. Mending lu berdua pergi deh, mesra-mesraan aja dirumah lu. Gue mau tidur aja"

"hadehhhh jomblo"

"cocotmu, Talia" Kafka menaruh kedua tangannya dipinggang membuat wanita yang dipanggil tertawa

"ayo, Nay."

"ayo ayo. Ka, gue pamit dulu, ya. nanti kesini!" Kafka mengacungkan jempolnya. Setelah patritri itu pergi, Kafka hanya menggelengkan kepalanya

"dasar Talia sama Naylin, hadeh" Kafka menutup gerbang, namun tidak menguncinya. Ia segera memasuki rumah.

Rumah Kafka hanya berlantai satu, namun luas.

.
.
.
.

"Je, wake up." Kafka mengguncangkan pelan tubuh anaknya

"ngapain, yah?"

"ngapain-ngapain. Ini udah sore loh jam empat, bangun terus mandi. Kita keluar buat makan malam sama bunda Nay dan Talia mom"

"Eja diajak?"

"ya iya lah, Je. Astaga, cepat mandi terus turun. Okay?" Jean langsung bergegas menuju kamar mandi, ia tidak ingin membuat ayah manisnya marah-marah.

Jeandra Prajarta. Anak dari Kafka Prananta dan Marva Jhoan Dixon. Kini, anak itu sudah tumbuh jadi anak yang tampan seperti papanya dan manis seperti ayahnya.

"ay-- Uncle?" Jean berhenti melangkah ketika melihat siapa yang duduk disofa ruang keluarga

"hey jagoan Uncle. Gimana kabarnya, sayang?"

Who M.J? [boyslove] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang