Diusianya yang menginjak angka 25, Giselle sudah tak asing lagi dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Kendati sudah ribuan kali orang-orang disekitarnya bahkan Maminya sendiri mengajukan pertanyaan itu, Giselle masih betah melajang. Dia seperti tidak te...
"Yah nano-nano sih." Karina mengusap perutnya yang mulai membesar sembari merebahkan tubuhnya pada sofa. "Awal bulan tuh gue sering banget muntah-muntah, makan pun rasanya nggak selera, apalagi kalau nyium bau-bau yang menyengat, beuh langsung deh mual."
"Separah itu?"
"Tergantung orangnya, Cel. Tapi kebanyakan emang gitu," ucap Karina. "Yang parahnya sih waktu Yogi iseng beli parfum baru, terus dia pake kan waktu pulang kerja. Gue yang udah nyambut diruang tengah langsung lari meluk Yogi kayak biasanya, taunya karena Yogi pake parfum baru, gue langsung muntah ke baju kerjanya. Serius mual banget nyium bau parfum barunya dia."
"Terus-terus?" tanya Giselle penasaran.
"Yah Yogi nggak marah sih, dia malah khawatir banget sama gue. Tapi abis itu gue nggak bisa deket sama sekali sama Yogi."
"Kenapa?"
"Mual banget nggak tahan. Walau Yogi udah mandi dan pake parfum yang kayak biasa, gue tetep mual deketan sama dia. Mungkin pengaruh dede bayinya juga kali ya, ngambek sama Papanya karena bikin gue mual jadi malah balas dendam."
Giselle mengernyit bingung. "Bayi bisa ngambek?"
"Nggak tau gue ngarang aja," kekeh Karina. "Malam itu Yogi tidur diluar dan gue dikamar sendirian. Baru besok sorenya gue bisa bersikap normal lagi sama Yogi. Pagi-pagi pun gue ogah dideketin sama dia."
"Hamil itu ribet ya," gumam Giselle.
Karina lagi-lagi terkekeh diseberang sana.
"Emang ribet tapi gue suka." Karina menjeda sejenak, Giselle diam menyimak. "Setiap momen yang terjadi sejak pertama gue tau kalau bayi ini ada diperut gue kayak memori yang berharga banget. Meski emang banyak nggak enaknya, tapi bagian enaknya juga banyak Cel."