Tentang tiga orang saudara yang harus bertahan dan berjuang dalam menghadapi kenyataan bahwa mereka bertiga kini terkurung dalam rumah mewah bersama pria-pria aneh nan misterius.
Rumah yang memberi mereka banyak luka, teka-teki, dan penuh konspiras...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎬¡!🎬
Sebuah taxi terlihat melaju pelan di jalan sepi yang berada di antara hutan berpohon menjulang di kanan kiri. Nia menyembulkan kepala untuk melihat sekitar.
"Stop pak stop," ucapnya membuat taxi terhenti.
Nia melangkah keluar, menyodorkan uang pada supir taxi tersebut.
Pak supir itu menerima lalu bersuara, "Dek, kamu mau ngapain ke hutan sendirian? Bahaya." Ujarnya khawatir.
Nia jadi salting sedikit, "ah gapapa Pak, ini saya ada masalah yang harus di selesaikan."
"Ohh, kalau begitu hati hati, ya?"
"Iya, pak." Setelah berucap demikian, taxi itu pun meninggalkan Nia sendirian.
Netra hitam Nia memandangi sekitar. Jika dilihat lihat tempatnya tidak terlalu buruk, sunyi dan sepi yang menenangkan. Cukup membuat Nia sedikit terkesan, namun tetap tak menghilangkan suasana ke-hororan. Dia jadi heran kenapa lokasinya bisa ada di tempat yang penuh dengan vibes horor begini.
Tapi, rasa heran itu hilang setelah ia kembali mengingat bahwa tiga adiknya diculik. Bukan dibawa ke luar negeri, atau ke hotel bintang lima.
Ia melihat ponsel Jayden, ponsel anak laki laki tidak sopan yang sudah sokab padanya.
"Pinter juga tu anak lacak mobil, lebih mudah liat ini daripada google maps," gumam Nia masih diam di tempat.
Lagi netra hitam itu melihat ke dalam penjuru hutan, napasnya ia atur perlahan. Tekad nya untuk menyelamatkan tiga anak itu tidak terhenti sampai disini. Rasa takut sama sekali belum menghampirinya. Hanya rasa cemas yang sedari kemarin menghantui, hal itu justru membuatnya jadi semangat untuk mencari.
Fyi, Nia juga sudah terbiasa ke hutan, dia suka pergi ke gunung bersama teman temannya dulu, sekarang saja ia membawa tas carrier untuk berjaga jaga. Tapi, rasanya menyeramkan karena ia sendirian.
"Ayo, Nia. Pasti bisa," ucapnya meyakinkan diri.
Takut kehilangan sinyal, Nia mencoba menghafal arah jalan dari ponsel Jayden.
"Tinggal lurus doang, gampang ini mah."
Akhirnya dengan segenap keberanian yang Nia punya, dan tekad yang bulat. Kaki nya mulai melangkah memasuki hutan. Jika cepat, ia mungkin tidak akan bertemu malam nanti, dan tidak susah susah memasang tenda.