EP. 11

157 21 7
                                        

🎬¡!🎬

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


🎬¡!🎬


"Abang ..., ma-maaf."

Kalimat lirih si bungsu yang membuyarkan lamunan itu lantas mendapat atensi dari dua saudaranya.

"Maaf? Buat apa?" Arsa membalas.

Raken terisak, merasa begitu sakit dan sesak untuk berbicara. "Ma-maaf, Raken bunuh mama kita ..., maaf karena udah lahir."

"Kamu ngomong apa sih?! Jangan ngomong gitu! Itu bukan salah kamu!" sentak Ganta yang berada di ujung sel sebelah kiri. Ia tak suka kalimat itu.

"Raken, jangan ngomong nggak jelas!" sahut Arsa.

"Tapi ..., kalau mama masih ada, kita pasti lagi bahagia, Bang! Ki-kita ndak akan berakhir disiksa disini ...."

Arsa dan Ganta terdiam. Mereka tidak bermaksud membenarkan ucapan si bungsu, hanya saja apa yang Raken ucapkan ada benarnya.

"A-abang ndak akan benci Raken, kan?"

Pertanyaan itu membuat deru napas panjang terdengar. Rasanya mereka ingin sekali memeluk si bungsu sekaligus memukulnya karena gemas.

"Raken, denger. Apa yang terjadi sama kita itu bukan salah kamu, kamu juga nggak bunuh Mama, tapi takdir kita aja yang udah diatur kayak gini, jadi stop salahin diri, ok?" jelas Arsa berusaha memberi pengertian.

"Kita saudara, saudara ngga boleh saling benci." 

   ⋇⋆✦⋆⋇ 

Chandra telah kembali ke Lab beberapa jam yang lalu, sebelumnya ia sempat melayangkan protes pada Garvin agar memberikan hukuman pada anak-anak, bahkan Chandra ingin memberinya secara langsung. Namun Garvin sudah menjelaskan bahwa anak-anak telah mendapatkan hukuman mereka.

Chandra berusaha mengikhlaskan, meski ia masih tetap kesal karena dipanggil kakek.

Sedangkan kini Garvin tengah duduk diam bersama Johan yang berdiri disampingnya. Netra gelap itu memantulkan wajah damai yang terlelap dalam ketenangan, ditemani suara Electrocardiogram yang mengisi kesunyian.

"Han." Johan yang disebut namanya melirik.

"Kau pasti membenci anak ini seperti Chandra, kan?"

Pertanyaan Garvin membuat Johan diam, ia turut mengalihkan pandangan pada sosok yang terpantul di netra Garvin, "kalau iya?"

Garvin seketika beralih pandang menatap si lawan bicara, "kenapa kau tidak ingin dia mati?"

STRUGGLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang