Tentang tiga orang saudara yang harus bertahan dan berjuang dalam menghadapi kenyataan bahwa mereka bertiga kini terkurung dalam rumah mewah bersama pria-pria aneh nan misterius.
Rumah yang memberi mereka banyak luka, teka-teki, dan penuh konspiras...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎬¡!🎬
"Disini kalimat, 'jika gagal coba lagi' itu ngga berlaku, sekali lo gagal artinya lo udah gagal untuk selamanya."
"Kenapa bisa gitu?"
"Lo tau kan anak-anak yang jadi korban sebelum adek-adek lo itu?"
"Iya, tau, terus?"
"Mereka yang ngga ngelawan aja tetep di jual, apalagi mereka yang ngelawan tapi ketahuan."
"M-maksudnya? Emang mereka di bedain?"
"Iyalah, anak baik di jual, anak pembangkang yang gagal kabur dibunuh."
◻️◽▫️
Bugh!
Arsa terlempar keras menabrak dinding lantas jatuh tersungkur. Ia meringis begitu pipinya beradu dengan lantai gudang.
"Kurang kah yang selama ini kami berikan pada budak-budak seperti kalian, huh?!" Chandra melayangkan dahan kayu yang ia pegang sampai menabrak punggung Arsa hingga terdengar retakan.
Melanjutkan aksinya pria yang kini sungguhan terlihat seperti 'monster' itu menendang kepala Arsa kuat hingga darah mengalir deras dari kepala. Kemudian cambuk mengambil kendali, mendarat hampir di sekujur tubuh Arsa.
Pukulan demi pukulan ganas terus diberikan, Chandra memberi Arsa luka tanpa membiarkan anak malang itu jeda untuk meneriakkan rasa sakitnya.
Sementara itu di tempat dan waktu yang bersamaan, Ganta dan Raken juga terbaring lemah di dekat dinding.
Meski tubuhnya sudah berlumur darah Ganta masih mencoba mengerahkan tenaga untuk mendekati sang adik, tetapi belum sempat jemari tangan yang dipenuhi warna merah kental itu menyentuh kepala Raken, Ganta kembali diseret oleh Johan.
Tak disangka pria yang selama ini diam-diam Ganta puji sama kejinya dengan Chandra.
Johan menarik sudut bibirnya seraya menarik rambut Ganta kencang, "dengar, jangan pikirkan saudaramu, jadi urus dirimu saja! Kamu tidak akan mati sendirian, kok."
Jujur, baru kali ini Ganta mendengar Johan berkata demikian. Dengan nada dan wajah menyeramkan pria itu memukul acak tubuhnya secara bertubi-tubi dengan tongkat baseball.
Segalanya terasa menyakitkan, bahkan ketika Johan menghentikan pukulan. Ganta justru menyaksikan Garvin yang menarik kepala Raken sembari menyeretnya.
Raken nampak pasrah, anak itu hanya mampu meluapkan sakitnya dengan tangis. Raken yakin Garvin mendengar isak nya meski ia berusaha sekuat mungkin meredam suara.
"M-maaf, maaf..."
Alih-alih meringis sakit, Raken terus meminta maaf. Lagipula apa gunanya menyerukan sakit pada mereka yang memberi sakit itu sendiri?