Tentang tiga orang saudara yang harus bertahan dan berjuang dalam menghadapi kenyataan bahwa mereka bertiga kini terkurung dalam rumah mewah bersama pria-pria aneh nan misterius.
Rumah yang memberi mereka banyak luka, teka-teki, dan penuh konspiras...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎬¡!🎬
"Jay, kau tidak mencoba mengkhianati Ayah, kan?"
"Hah? Tentu saja tidak, Yah! B-bagaimana bisa aku melakukannya ...."
"Sungguh?"
Jayden mengangguk cepat, cukup terkejut dengan lontaran pertanyaan tiba-tiba dari Ayahnya. Jadi mau tak mau Jayden harus membohonginya.
Lagipula, ia tak sepenuhnya berkhianat pada sang Ayah, Jayden hanya membantu Nia untuk menghentikan aksi ilegal yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, meski jika pada akhirnya hukuman terbaik adalah mati, Jayden siap mengorbankan diri.
Chandra menatapnya, "omong-omong, Jay, Ayah ingin meminta maaf."
Jayden mengerutkan keningnya, "untuk apa?"
"Membawa mu ada di situasi sekarang ini."
Jayden terdiam.
Melihat reaksi Jayden, Chandra tersenyum, "menurut mu apa yang bisa anak kecil lakukan saat ibunya hendak pergi?"
"Mengikutinya?"
"Iya, mengikutinya. Hanya itulah yang bisa 'ku lakukan saat ibu memutuskan untuk menikah dengan Tuan Besar,"
"Hidup diantara para Laboran dan benda-benda canggih, sesuatu yang menakjubkan bagi seorang anak kecil. Hanya saja aku melakukannya demi ibuku, tapi lihat? akhirnya mereka merenggutnya ...."
"Jika kau berada di posisi ku, apa yang akan kau lakukan?"
◼️◾▪️
"Bang Arsa, keluar!"
Arsa menghela, dia hanya masuk dan menemukan Ganta tengah duduk meringkuk di kasur, ia khawatir dan mendekat tapi Ganta malah ketakutan seperti melihat jurig, "tenang, Abang cuma mau ngelurusin masalah ini sekarang, jadi denger baik baik." Pintanya tegas membuat Ganta tak berani membantah.
"Oke, ngga perlu panjang lebar, sekarang kalo kamu di posisi Raken, kamu bakal ngapain?" tanyanya langsung on point.
Soal tamparan, sudahlah Arsa pikir Ganta pantas mendapatkannya.
"Mau nyalahin diri? Padahal di pikiran kamu, kamu juga ngga mau lahir kayak gini, begitu?"
Ganta terdiam, dia pusing, tolong ... Ganta hanya butuh waktu untuk merenungi apa yang telah ia lakukan.
"Terus sekarang apa? Mau nyalahin dia sampe kapan? Sampe Raken ketemu Mama?"
"Arsaka!" Ganta berdiri.
Arsa menyeringai, mudah saja untuk mengembalikan Ganta, terlihat jelas jika Adiknya itu merasa bersalah. Tatapan tajam yang ia layangkan tak sama sekali diselingi sorot kebencian. Arsa bisa bilang jika Ganta sebenarnya kesal padanya namun dilampiaskan juga pada Raken.