4)

248 31 13
                                        

Sorry for typo 🙏

Happy reading 🤗
==================


"Pagi, Non,"

"Pagi, Bi Ami,"

Mikha yang sengaja turun pukul 8 pagi itu mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru rumah, tak ada tanda-tanda keberadaan kedua sepupu tampannya. Apakah mereka sudah pergi? Ini masih terlalu pagi untuk melakukan kegiatan di hari libur.

"Bi," panggil Mikha.

"Iya, Non?"

"Kak Raja sama Kak Lingga mana? Gak sarapan?"

"Heem sepertinya Nona Ressta harus sarapan sendirian hari ini, karena Den Raja masih tidur dan Den Lingga belum pulang," jawab Ami.

Mikha mengdengus sebal. Ternyata sama dengan di rumah, dia selalu sendirian. Tapi lebih baik disini bukan? Setidaknya dirinya masih bisa sedikit bernapas lega meski setiap hari harus memberi kabar kepada kedua orang tuanya.

Tiba-tiba terpikir oleh Mikha untuk menanyai tentang kedua sepupunya pada Ami. Meski awalnya menolak karena takut dikira menggunjing, akhirnya Ami luluh dengan rayuan mematikan Mikha. Khawatir tiba-tiba Java bangun kan bisa jadi masalah tuh.

Ami dengan hati-hati memberitahukan sikap, sifat dan segalanya yang ia tau tentang kedua majikan mudanya itu. Kesukaan dan apa yang mereka benci. Kebiasaan serta hal-hal yang harus diwaspadai Mikha selama di rumah ini.

Ami mencoba mengingat kembali apa dirinya sudah memberikan semua informasi yang diperlukan apa belum. Ami hanya ingin membantu Mikha agar bisa beradaptasi dengan mudah di rumah ini, mengingat salah satu dari mereka dinginnya gak ada otak.

Mengingat kedua majikan mudanya yang sangat sulit ditebak kadang membuat Ami ingin mengundurkan diri saja. Setiap membersihkan kamar mereka, Ami berasa buronan yang sedang diawasi, terutama Gama. Yah majikan mudanya itu sedikit rewel.

"Saya tinggal dulu yah, Non! Bila perlu apa-apa panggil saya aja!"

"Iya, terima kasih, Bi,"

Mikha makan sendirian sambil menonton sebuah film di layar Hp datarnya itu. Bahkan ia tak sadar seseorang yang sedang bersandar di kulkas dapur itu menatap tajam ke arahnya. Pemandangan yang sangat ia tak suka tapi ia betah memandangnya.

Bilangnya tak suka, tapi nyatanya lelaki tampan dan tinggi itu malah memperhatikan dan menguping pembicaraan Mikha dengan Helva dari telepon. Dasar tak sesuai dengan yang diucapkan.

🎶 Newjeans - Hype Boy

"Hal-lo,"

"Mikhaella!!!" teriak Helva.

"Astaga masih pagi udah teriak aja lu, Hel!"

"Gue kangen sama lu dan Vano,"

"Baru juga tiga hari, Hel,"

"Tiga hari mah lama bagi gue, Kha. Apalagi gue sendirian lagi,"

"Halah gak usah basa basi, Hel! Cepetan bilang tujuan lu apa telpon gue?"

"Hehehehe, ceritain tentang para sepupu lu dong!"

Helva cekikikan di sana. Mikha sudah hapal tabiat sahabatnya yang sangat luar biasa cerianya itu. Dan bener saja, Helva membahas tentang kehidupan tiga harinya di lingkungan baru. Sebenarnya Mikha malas, tapi Helva tampak excited, mau tak mau dirinya menceritakannya.

"Sepupu gue yang mana nih?"

"Semuanya lah, Kha,"

Mikha tampak sedikit berpikir, menerawang kehidupannya bersama kedua sepupunya tiga hari ini. Mungkin lebih ke interaksi Mikha dengan Gama, kan Java masih dingin padanya. Sangat dingin sampai kalau papasan merinding mulu bawaannya.

Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang