Sorry for typo 🙏
Happy reading 🤗
=====================
Hari festival akhirnya datang, Java berusaha mengendalikan mood nya meski hati dan pikirannya kalut sejak beberapa hari. Bagaimana tidak semenjak ada Helva di rumah, ia jadi tak bisa menikmati waktu berdua bersama Mikha.
Mikha pun sama, tapi perempuan itu berusaha biasa saja. To sebelumnya mereka bak orang asing yang saling melempar kebencian satu sama lain. Mikha sedang berusaha menghabiskan waktunya dulu bersama Helvana.
Dion sempat protes karena anak semata wayangnya itu tak pulang dan malah akan pergi liburan. Apalagi saat tau bersama cowok, duh sempat adu mulut itu Papa dan anaknya itu. Akhirnya dengan bujukan Java dan Helva, Dion yang keras kepala itu mengijinkan.
"Ini harus banget gue jadi nyamuk di antara kalian lagi?" eluh Helva yang sedang duduk di bangku belakang.
"Udah jadi resiko lu kan? Gak usah banyak protes!"
"Sialan lu, Achi!"
Jaevano tertawa puas menjahili sahabatnya itu yang tampak kesal. Walau sering sekali pulang, mereka hanya bertemu dua kali saja karena agenda keduanya yang tak sesuai. Mikha hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.
"Baru juga mau berangkat, udah ribut aja lu berdua. Ntar ada si Ula, Hel, tenang yah!"
Yah mereka berencana menonton berempat, berangkat terpisah dengan rombongan anak studio yang memang sudah standby dari pagi. Mereka juga janjian dengan Haris dan Ghifar yang sudah berada di lokasi.
"Halo, Van, Hel!" sapa Ula.
"Anjir gue terlupakan!" protes Mikha.
"Lu gak pernah gue lupain kok, Kha,"
Mikha nya biasa saja, sudah biasa dengan segala macam gombalan yang Vano lontarkan. Beda dengan Ula dan Helva yang sudah memasang wajah julid. Mereka tau bagaimana hubungan Mikha dan Vano, tetap saja masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tolong ditahan dulu, Bapak Archy, saya demam melihat orang mesra-mesraan!"
"Silahkan dijalankan mobilnya, kasihan dua cecunguk sudah menunggu dari tadi!"
Mikha tertawa lepas disusul Helva dan Ula yang sukses menjahili Vano. Pemuda itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat acara festival, lapangan atletik kampus yang sangat luas itu.
Tak memakan waktu lama, mobil mewah Vano sudah memasuki kawasan kampus. Lalu lintas sedikit padat karena festival ini dibuka untuk umum, jadi banyak sekali orang luar dari lingkunganUndip yang ikut menonton.
"Duh bakalan dapat parkir gak nih, Van?" tanya Mikha.
"Iya ih rame banget padahal masih lama mulainya," tambah Ula.
"Kan mau jajan dulu sama keliling, kayak gue," iya maklum, kan Helva bukan anak kampus situ.
Bukannya menjawab, Vano malah menunjuk ke HPnya yang menampilkan panggilan masuk dari salah satu temannya. Mikha dengan sigap mengambil dan mengangkat panggilan dari Haris itu. Tepat waktu sekali.
"Halo, Van,"
"Iya, Ris? Gimana?" jawab Mikha.
"Ya Allah bidadari yang jawab, ademnya,"
Mikha, Ula dan Helva kompak terkikik pelan. Haris dan Ghifar memang definisi ganteng-ganteng tukang lawak. Jaevano jangan ditanya, lelaki itu rasanya melempar Haris ke jurang. Eh bercanda doang elah, Van.
"Eh udah nyampe belum? Lama bener dah,"
"Udah di area kampus kok, padat banget ini. Masih ada parkir gak? Kalau gak biar Achi parkir di parkiran FK aja,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]
RomanceHanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu" Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati? atau menyerah dan memilih...
![Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]](https://img.wattpad.com/cover/338173056-64-k943094.jpg)