8)

231 29 14
                                        

Sorry for typo 🙏

Happy reading 🤗
==================

"Puji Tuhan, akhirnya bangun lu, Kha,"

Mikha masih menyesuaikan cahaya yang masuk. Kepalanya masih terasa pusing. Perutnya juga sedikit perih dan terasa mual. Ah dia belum kemasukan makanan dari pagi, mana dihukum pula tadi. Ia tak ingat apapun, tubuhnya langsung tumbang begitu saja.

"Masih pusing? Ada yang sakit? Bentar gue panggil petugasnya yah!"

"Gak usah, La! Gue cuma mau tidur bentar aja deh,"

"Makan dulu tuh dari kakak pembina, baru minum obat!" hampir saja Ula lupa pesan dari kakak pembina tadi.

"Iya ntar aja gue makan, masih pusing banget ini," ringis Mikha.

"Awas yah lu lupa! Gue balik dulu ke aula, cuma boleh ijin sampe istirahat doang!"

"Iya sana! Catet yang perlu yah, gue pinjem besok!"

"Siap! Istirahat yang cukup yah!"

Setelah kepergian Ula dari UKS, Mikha memejamkan matanya lagi agar pusingnya berkurang. Dibanding perutnya yang mual akibat belum makan, kepala Mikha memang yang biasa terserang. Yang belum sepupunya tau, Mikha punya riwayat darah rendah.










Hampir satu jam Mikha terpejam, gadis itu terbangun dari tidur tak nyenyaknya. Perutnya yang sedari tadi belum terisi sudah berdemo minta asupan. Mikha melirik makanan tadi di atas meja. Gadis itu berusaha duduk meski badannya sangat lemas.

"Udah bangun?"

Sepertinya sudah menjadi watak Mikha yang gak peka pada sekitar. Lagi dan lagi, gadis itu tak mendengar langkah kaki mendekat padanya. Padahal orang yang bertanya tadi mendengar suara grusak grusuk Mikha.

"Yang lu lihat gimana?"

Mereka masih saling bertatapan tajam, sampai suara lain yang berada di dalam UKS mengalihkan tatapan mereka. Ada sedikit yang ganjal, tatapan yang terlihat seperti sebuah kekhawatiran dn rasa bersalah. Namun tak mungkin, Java selalu benci padanya.

"Gue periksa dulu yah, Dek!" ijin panitia yang sedang jaga, Tian namanya.

"Gak usah, biar gue aja!"

"Tapi gue yang jaga, Va,"

"Gue bilang gue aja, Sebastian!"

srak.

Suara kursi digeser, membuat Mikha semakin dibuat heran oleh pergerakan lelaki didepannya ini. Pemuda yang bernama Sebastian kembali ke tempatnya, meninggalkan Java yang sudah siap dengan peralatan periksanya. Kakak sepupunya ini sedang sakit sepertinya.

Namun harus Mikha akui, Javalendra Putraja Ragaswara terlihat begitu tampan dengan stetoskop bertengger di telinganya. Mukanya memang masih datar, tapi entah kenapa lebih enak dipandang, apalagi dari jarak sedekat ini.

Sadar, Mikhaella, dia yang sudah buat kamu pingsan! Duh sudah kepalang dirinya memuji Java yang memang GANTENG BANGET. Napas Mikha tercekat saat jari Java menyentuh lengannya. Itu sentuhan pertama mereka setelah sekian tahun saat mereka masih kecil.

Tak sampai disitu, suara rendah nan lembut mengalun indah, meminta ijin kepada Mikha untuk membuka satu kancing kemejanya agar stetoskopnya bisa lebih akurat dalam menganalisa. Jantung Mikha semakin tak karuan.

"Gue ijin buka yah, biar bisa gue periksa!"

Mikha hanya mengangguk. Terlalu sering berantem sampai tak sadar bahwa Java seganteng ini. Mungkin kakak sepupunya ini dokter paling tampan yang pernah ia temui? Eh masih calon sih, kan belum lulus. Padahal Dion juga dokter, tak ada tuh dipuji sama anak sendiri.

Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang